Sumber ilustrasi: Pixabay
9 Januari 2026 09.25 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [09.01.2026] Gigi dan tulang tampak mirip pada pandangan pertama: keduanya keras, berwarna putih, dan kaya kalsium. Namun, meskipun memiliki kesamaan dasar ini, gigi tidak dikategorikan sebagai bagian dari sistem kerangka manusia. Fungsi, struktur, dan kemampuan regenerasi gigi berbeda secara signifikan dibanding tulang.
Kesamaan gigi dan tulang terletak pada komposisi mineralnya. Keduanya terdiri dari jaringan keras yang mengandung kalsium, fosfor, fluoride, dan magnesium. Mineral-mineral ini membentuk struktur kristal padat yang memberikan kekerasan lebih dibanding jaringan tubuh lainnya. Akan tetapi, setelah kesamaan komposisi, perbedaan mendasar mulai terlihat.
Perbedaan utama antara gigi dan tulang adalah fungsinya. Gigi berperan utama dalam memecah makanan untuk proses pencernaan dan turut mendukung produksi suara. Oleh karena itu, gigi termasuk dalam sistem pencernaan, bukan sistem kerangka. Tulang, di sisi lain, memiliki fungsi struktural dan protektif: memberikan bentuk dan dukungan tubuh, menjadi titik perlekatan otot, melindungi organ vital seperti jantung dan paru-paru, serta menjadi tempat produksi sel darah merah dan putih. Meskipun ada sedikit tumpang tindih, misalnya tulang rahang mendukung gigi, keduanya tetap bekerja secara terpisah.
Perbedaan juga terlihat pada struktur fisik. Gigi memiliki enamel sebagai lapisan paling luar, merupakan jaringan mineral terkeras di tubuh, di bawahnya terdapat dentin yang sedikit lebih lunak namun tetap keras. Dentin memiliki tabung kecil yang menampung pembuluh darah dan ujung saraf. Inti gigi berupa pulpa, zat mirip jeli yang menyalurkan nutrisi dan sensasi ke gigi.
Struktur tulang sangat berbeda. Tulang dilapisi periosteum, lapisan tipis yang mengandung pembuluh darah dan saraf untuk pertumbuhan dan penyembuhan. Lapisan berikutnya adalah tulang kompak, sedangkan bagian dalam berupa tulang spons yang menampung sumsum tulang, tempat pembentukan sel darah baru.
Perbedaan paling penting terletak pada status jaringan hidup. Tulang merupakan jaringan hidup yang terus diperbarui oleh sel osteoblas dan osteoklas, sehingga mampu sembuh dari patah dan menyesuaikan diri terhadap perubahan aktivitas atau stres tubuh. Sebagian besar tulang dewasa diperbarui sepenuhnya sekitar setiap sepuluh tahun.
Gigi sebagian besar merupakan jaringan mati setelah terbentuk. Proses pembentukan enamel dan dentin terjadi selama masa janin dan masa kanak-kanak melalui sel khusus, dan setelah proses selesai, sel pembentuk enamel mati. Akibatnya, jika enamel atau dentin rusak, jaringan tersebut tidak dapat tumbuh kembali. Pulpa di dalam gigi tetap hidup, tetapi tidak mampu meregenerasi lapisan luar.
Gigi tidak termasuk tulang karena perbedaan mendasar dalam fungsi, struktur, dan kemampuan regenerasi. Gigi berfokus pada pemecahan makanan dan komunikasi suara, sedangkan tulang memberikan struktur tubuh, melindungi organ vital, dan menghasilkan sel darah.
Perbedaan ini juga tercermin dalam tingkat kehidupan jaringan: tulang adalah jaringan hidup yang terus diperbarui, sementara gigi sebagian besar mati setelah terbentuk. Hal ini menjelaskan mengapa gigi yang rusak tidak dapat tumbuh kembali, berbeda dengan tulang yang dapat pulih dari cedera dan beradaptasi terhadap perubahan tubuh.
Diolah dari artikel:
“Why don’t teeth count as bones?” oleh Marilyn Perkins.
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.livescience.com/health/anatomy/why-dont-teeth-count-as-bones