Mengapa Kita Dapat Merasa Senang Saat Orang Lain Mengalami Kemalangan?

Sumber ilustrasi: Freepik
16 Februari 2026 14.30 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [16.02.2026] Manusia kerap dianggap sebagai makhluk empatik yang mampu merasakan penderitaan sesama. Akan tetapi, dalam kenyataannya, tidak jarang muncul perasaan senang ketika orang lain mengalami kesialan. Fenomena ini dapat muncul dalam situasi sederhana, seperti melihat seseorang tersandung, hingga dalam skala yang lebih kompleks, seperti kegagalan tokoh publik atau rival sosial.

Dalam kajian psikologi, emosi ini dikenal dengan istilah schadenfreude, sebuah kata dari bahasa Jerman yang menggambarkan rasa puas atau senang akibat kemalangan pihak lain. Walaupun istilah tersebut tidak memiliki padanan langsung dalam bahasa Inggris maupun Indonesia, pengalaman emosionalnya bersifat universal dan dialami oleh hampir semua manusia pada berbagai tahap kehidupan.

Penelitian menunjukkan bahwa schadenfreude bukanlah penyimpangan psikologis, melainkan bagian dari spektrum emosi manusia yang normal. Namun demikian, dampak dari emosi ini sangat bergantung pada konteks sosial serta bagaimana individu merespons dan mengelolanya. Dalam kondisi tertentu, schadenfreude bersifat ringan dan tidak berbahaya, tetapi dalam situasi lain dapat berkembang menjadi perilaku agresif atau merugikan.

Para ilmuwan dari berbagai disiplin mulai menaruh perhatian pada emosi ini, terutama karena kaitannya dengan perkembangan moral, hubungan sosial, dan perilaku menyimpang pada anak serta remaja. Pemahaman ilmiah mengenai schadenfreude menjadi penting untuk membedakan kapan emosi ini bersifat adaptif dan kapan berpotensi merusak.

Schadenfreude didefinisikan sebagai perasaan senang yang muncul ketika seseorang menyaksikan atau mengetahui orang lain mengalami kemalangan, tanpa harus terlibat langsung dalam penyebab kejadian tersebut. Emosi ini muncul dari interaksi berbagai faktor psikologis, termasuk rasa iri, kecemburuan, persaingan, serta penilaian moral terhadap keadilan.

Penelitian perkembangan menunjukkan bahwa schadenfreude sudah dapat diamati sejak usia sangat dini. Studi psikologi anak menemukan bahwa balita dapat menunjukkan ekspresi kegembiraan ketika figur yang dianggap tidak adil, seperti orang tua yang memberikan perhatian lebih kepada anak lain, mengalami kejadian tidak menyenangkan. Temuan ini mengindikasikan bahwa kepekaan terhadap keadilan sosial muncul sangat awal dalam perkembangan manusia.

Jenis schadenfreude yang paling umum pada anak-anak dikenal sebagai schadenfreude berbasis keadilan. Emosi ini muncul ketika seseorang yang dianggap bersalah atau tidak adil mengalami konsekuensi negatif. Dalam konteks ini, rasa senang berfungsi sebagai sinyal psikologis bahwa keseimbangan sosial telah dipulihkan.

Seiring bertambahnya usia, pola schadenfreude mengalami perubahan. Pada masa remaja, emosi ini semakin dipengaruhi oleh hubungan interpersonal, rasa suka atau tidak suka, serta dinamika status sosial. Schadenfreude tidak lagi semata-mata berkaitan dengan keadilan, tetapi juga dengan identitas diri dan perbandingan sosial.

Penelitian neuropsikologi mendukung temuan tersebut melalui pemindaian otak. Ketika individu merasa iri terhadap orang lain yang memiliki status atau prestasi lebih tinggi, area otak yang berhubungan dengan rasa sakit emosional menunjukkan peningkatan aktivitas. Akan tetapi, ketika orang yang menjadi sumber iri tersebut mengalami kemalangan, area otak yang terkait dengan sistem penghargaan justru aktif. Hal ini menunjukkan bahwa schadenfreude berfungsi sebagai mekanisme peredam ketidaknyamanan emosional akibat iri hati.

Dalam konteks sosial yang lebih luas, schadenfreude juga menjelaskan popularitas konten hiburan tertentu, seperti acara realitas, video kegagalan, atau skandal selebritas. Kesenangan bersalah yang muncul dari menyaksikan figur berkuasa atau terkenal mengalami penurunan status memberikan rasa keseimbangan psikologis bagi penonton.

Penelitian terbaru memperingatkan bahwa schadenfreude yang berkembang tanpa kendali, terutama pada remaja, berkaitan erat dengan perilaku agresif seperti perundungan dan perundungan siber. Data menunjukkan bahwa individu yang sering menikmati penderitaan orang lain cenderung menunjukkan sifat manipulatif, kurang empati, serta lebih aktif dalam menyebarkan rumor atau mengecualikan pihak tertentu dari kelompok sosial.

Lingkungan sosial memainkan peran penting dalam memperkuat atau meredam dampak negatif tersebut. Ruang kelas atau komunitas yang menanamkan nilai empati dan kebaikan terbukti mampu menekan agresi, meskipun schadenfreude tetap muncul sebagai respons emosional awal.

Di sisi lain, pendekatan psikologi positif menunjukkan bahwa schadenfreude tidak selalu harus ditekan sepenuhnya. Dalam kondisi tertentu, emosi ini dapat dialihkan ke arah yang konstruktif. Studi di bidang psikologi konsumen menemukan bahwa schadenfreude dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan partisipasi dalam kegiatan sosial, seperti penggalangan dana, selama tidak menimbulkan kerugian nyata bagi pihak yang terlibat.

Schadenfreude merupakan emosi manusia yang alami dan muncul dari kombinasi rasa iri, keadilan, dan perbandingan sosial. Penelitian lintas usia menunjukkan bahwa emosi ini berkembang sejak masa kanak-kanak dan mengalami perubahan signifikan pada masa remaja, seiring meningkatnya kompleksitas hubungan sosial dan moralitas individu.

Meskipun sering dianggap sebagai emosi negatif, schadenfreude tidak selalu berbahaya. Dampaknya sangat ditentukan oleh cara individu dan lingkungan sosial meresponsnya. Dengan pengelolaan yang tepat, empati, serta nilai sosial yang kuat, schadenfreude dapat dicegah agar tidak berkembang menjadi perilaku merugikan, bahkan dalam beberapa konteks dapat diarahkan untuk tujuan sosial yang positif.

Diolah dari artikel:
“Everyone experiences malicious joy now and then” oleh Alison Pearce Stevens.

Note:
This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.snexplores.org/article/malicious-joy-schadenfreude-emotion

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *