Mengapa Kita Marah? (Bagian 2)

Sumber ilustrasi: Freepik

6 September 2025 15.00 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Anggapan bahwa pria lebih pemarah dibandingkan wanita tidak sepenuhnya tepat. Meskipun pria menunjukkan tingkat agresi fisik yang lebih tinggi, penelitian mengindikasikan bahwa wanita mengalami amarah dengan frekuensi dan intensitas yang sama. Dalam survei terhadap 200 orang, ditemukan bahwa wanita mengekspresikan amarah sama seringnya dengan pria. Namun, wanita tampak lebih mampu menahan impuls negatif, sedangkan pria merasa tidak efektif ketika harus menahan diri.

Perbedaan ini bisa jadi berasal dari struktur otak. Kajian oleh peneliti dari University of Pennsylvania menunjukkan bahwa meskipun ukuran amigdala sama pada pria dan wanita, bagian otak lain, korteks frontal orbital, berukuran lebih besar pada wanita. Struktur ini berfungsi mengendalikan impuls agresif dan mungkin menjelaskan mengapa wanita lebih cakap dalam mengelola ledakan emosi. Akan tetapi, banyak ilmuwan menekankan bahwa perbedaan biologis ini bukan satu-satunya faktor; norma sosial dan pola asuh juga memainkan peran penting. Peneliti dari Yale menekankan bahwa sejak di bangku sekolah, anak laki-laki dan perempuan sudah diperlakukan berbeda oleh guru, yang secara tidak langsung membentuk kemampuan regulasi emosi mereka.

Pada masa balita, amarah sering kali muncul dalam bentuk tantrum. Anak usia dini belum memiliki kerangka kognitif yang matang tentang bagaimana dunia bekerja dan juga terbatas dalam kemampuan bahasa. Hal-hal kecil seperti potongan roti panggang yang tidak sesuai harapan dapat memicu ledakan emosi yang intens. Penelitian dari University of Minnesota menunjukkan bahwa tantrum adalah kombinasi dari dua emosi utama: amarah dan kesedihan. Amarah memuncak lalu mereda, sementara kesedihan menjadi latar konstan selama tantrum berlangsung. Menariknya, intervensi orang tua justru cenderung memperpanjang tantrum. Strategi paling efektif adalah membiarkan anak melewati puncak amarah tanpa gangguan.

(Sumber: Freepik)

Kondisi neurologis seperti demensia frontotemporal juga memengaruhi ekspresi kemarahan. Kerusakan di area frontal otak dapat mengurangi kemampuan untuk menghambat reaksi impulsif terhadap frustrasi. Pasien dengan gangguan ini cenderung menunjukkan perilaku yang lebih kasar, mudah tersinggung, dan tidak dapat memahami konteks emosional dengan baik. Sebaliknya, orang dengan inhibisi berlebihan cenderung tidak mengekspresikan amarahnya, namun justru mengalami gejala depresi.

Selain faktor biologis dan neurologis, pengalaman hidup juga memengaruhi cara seseorang menyikapi amarah. Penelitian menunjukkan bahwa individu yang mengalami kekerasan sejak kecil cenderung memiliki hubungan yang lebih erat dengan emosi marah dan agresi. Mereka mampu membedakan antara orang baik dan buruk, tetapi tetap sulit mempercayai orang lain, bahkan ketika diperlakukan baik. Rasa ancaman yang konstan membuat mereka lebih mudah tersulut dan mengalami kesulitan dalam menavigasi kehidupan sosial. Pendekatan seperti terapi perilaku kognitif dianggap memiliki potensi dalam membantu individu mengatasi trauma dan mengubah pola respons emosional tersebut.

Amarah, sebagai emosi primitif yang diwariskan oleh evolusi, memiliki fungsi penting dalam mempertahankan diri dan menjaga ketertiban sosial. Emosi ini dipicu oleh ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan, dan dikendalikan oleh mekanisme kompleks di otak. Meski sering kali dilihat sebagai emosi yang destruktif, sains menunjukkan bahwa amarah juga dapat berfungsi sebagai alat motivasi dan bahkan memperkuat posisi sosial, tergantung pada cara dan konteks ekspresinya.

Ekspresi dan pengendalian amarah tidak lepas dari pengaruh faktor biologis, gender, pengalaman masa kecil, dan kesehatan mental. Memahami cara kerja amarah secara ilmiah memberi peluang untuk mengembangkan pendekatan yang lebih baik dalam pengelolaan emosi ini, baik dalam konteks pribadi, pendidikan anak, maupun intervensi psikologis. Pengetahuan ini penting untuk membangun masyarakat yang lebih sehat secara emosional.

Diolah dari artikel:
“Science of Anger: How Gender, Age and Personality Shape This Emotion” oleh Hannah Devlin.

Link: https://www.theguardian.com/lifeandstyle/2019/may/12/science-of-anger-gender-age-personality

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *