Mengapa Labu Dapat Tumbuh Sangat Besar, Sementara Blueberry Tidak?

Sumber ilustrasi: Pixabay

10 November 2025 09.25 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [10.11.2025] Fenomena labu raksasa selalu menarik perhatian setiap musim gugur. Di berbagai kompetisi panen di Amerika Utara, labu-labu dengan berat lebih dari 1.000 kilogram kerap menjadi pusat sorotan. Pada tahun 2025, misalnya, sebuah labu seberat 2.507 pon (1.137 kilogram) mencetak rekor baru di ajang All New England Giant Pumpkin Weigh-Off. Sementara itu, buah lain seperti apel, persik, dan blueberry tidak pernah mencapai ukuran sedemikian rupa. Apel terbesar di dunia hanya berbobot sekitar 1,8 kilogram, sedangkan blueberry terberat bahkan tidak sampai 30 gram. Pertanyaannya, apa yang membuat labu bisa tumbuh hingga ukuran luar biasa, sementara sebagian besar buah tetap kecil?

Para ahli hortikultura menjelaskan bahwa rahasianya terletak pada karakteristik biologis unik labu, terutama varietas Cucurbita maxima, yang dikenal dengan jenis Mammoth dan Atlantic Giant. Selain faktor genetik, sifat pertumbuhan tanaman labu yang tidak terbatas membuatnya mampu memperbesar ukuran buah tanpa henti selama kondisi lingkungan mendukung.

Menurut penelitian di bidang hortikultura, labu raksasa termasuk dalam kelompok tanaman indeterminate, yaitu tanaman yang tidak memiliki batas pertumbuhan alami. Sifat ini berbeda dengan tanaman determinate seperti beberapa jenis tomat atau tanaman buah musiman lain, yang berhenti tumbuh setelah mencapai ukuran tertentu. Karena tidak dibatasi secara genetik, tanaman labu dapat terus menumbuhkan daun dan batang baru untuk memproduksi energi tambahan bagi pertumbuhan buahnya.

Peneliti dari Texas Tech University, Vikram Baliga, menjelaskan bahwa sistem pertumbuhan seperti ini membuat tanaman labu tampak menjalar luas, bahkan mampu menguasai satu pekarangan hanya dengan satu individu tanaman. Proses ini memungkinkan labu untuk mengarahkan sumber daya yang besar menuju satu buah jika tanaman tersebut hanya mempertahankan satu bakal buah pada sulurnya. Dalam praktik budidaya, petani labu raksasa sering membuang semua buah lain agar energi tanaman terkonsentrasi pada satu buah utama.

Pendekatan serupa sebenarnya dapat diterapkan pada buah lain. Misalnya, satu pohon persik yang hanya menyisakan satu buah dapat menghasilkan persik berukuran lebih besar dari biasanya. Namun, hukum fisika menjadi batas alamiah bagi buah-buahan yang menggantung. Buah besar yang tumbuh di pohon akan rentan terhadap tarikan gravitasi dan mudah lepas sebelum mencapai ukuran ekstrem seperti labu.

Selain itu, struktur fisik labu memberikan keuntungan tambahan. Kulitnya yang keras namun lentur berfungsi sebagai penopang alami, memungkinkan buah menahan berat besar tanpa robek. Buah dengan kulit lembut, seperti persik atau tomat, akan mudah rusak bila ukurannya membesar terlalu cepat. Para penanam labu berpengalaman berusaha menjaga keseimbangan antara kekuatan dan kelenturan kulit agar labu dapat terus membesar tanpa pecah.

Pada fase awal pertumbuhannya, labu raksasa memiliki kulit yang lembut dan tipis sehingga mampu berkembang pesat. Ketika mulai menua, kulit tersebut mengeras dan membatasi pertumbuhan. Untuk memperpanjang masa pertumbuhan cepat, petani biasanya menutup buah dengan terpal agar terhindar dari paparan matahari langsung. Dalam kondisi optimal, labu raksasa dapat bertambah berat hingga 20 kilogram per hari.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Jessica Savage dari University of Minnesota Duluth mengungkap bahwa sistem pembuluh labu raksasa memiliki struktur yang sangat efisien. Bagian floem, saluran yang mengangkut gula dari daun ke buah, berjumlah lebih banyak dibanding varietas labu biasa. Hal ini memungkinkan aliran energi berjalan lebih cepat dan mendukung pembesaran buah secara ekstrem. Analogi yang digunakan para peneliti adalah seperti sistem jalan raya: semakin banyak jalur yang tersedia, semakin cepat dan banyak sumber daya dapat dikirim ke tujuan.

Selain dukungan fisiologis tersebut, waktu pertumbuhan labu juga jauh lebih panjang dibandingkan sebagian besar buah lain. Labu raksasa membutuhkan sekitar lima hingga enam bulan dari penyerbukan hingga panen, sementara buah seperti apel, persik, atau blueberry memerlukan waktu yang lebih singkat. Waktu tumbuh yang panjang memberikan kesempatan bagi labu untuk terus menambah massa dalam jangka waktu lama.

Akan tetapi faktor terpenting dalam pembentukan labu raksasa adalah seleksi buatan oleh manusia. Selama beberapa generasi, para penanam telah menyilangkan varietas terbesar untuk menghasilkan benih yang mampu tumbuh lebih besar lagi. Tidak seperti sebagian besar tanaman pangan yang dikembangkan untuk meningkatkan rasa atau daya tahan, labu raksasa dikembangkan dengan fokus tunggal pada ukuran. Nilai budaya dan simboliknya dalam tradisi Halloween dan Thanksgiving menjadikan labu sebagai buah yang mendapatkan perhatian dan eksperimen genetika lebih intensif dibanding tanaman sejenis seperti mentimun.

Dari sisi biologis, kemampuan labu untuk tumbuh raksasa disebabkan oleh kombinasi sifat genetik yang tidak membatasi pertumbuhan, sistem pembuluh super-efisien, serta struktur kulit yang kuat dan lentur. Lingkungan tumbuh di permukaan tanah juga mengurangi pengaruh gravitasi, memungkinkan labu mendistribusikan beratnya secara merata tanpa risiko jatuh atau patah.

Dari sisi manusia, peran seleksi buatan sangat menentukan. Upaya panjang dalam pemuliaan dan perlakuan budidaya membuat labu mampu mencapai ukuran yang sebelumnya tidak mungkin. Walaupun secara teori ada batas fisiologis untuk seberapa besar labu dapat tumbuh, para ahli meyakini bahwa inovasi teknik dan seleksi genetik akan terus mendorong batas tersebut lebih jauh di masa depan.

Diolah dari artikel:
“Why Can Pumpkins Grow So Large, But Blueberries Can’t?” oleh Ashley Hamer.

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.livescience.com/planet-earth/plants/why-can-pumpkins-grow-so-large-but-blueberries-cant

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *