Sumber ilustrasi: Freepik
28 Agustus 2025 13.15 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [28.08.2025] Kopi dan minuman berkafein lainnya telah menjadi bagian dari rutinitas harian bagi banyak orang. Selain memberikan dorongan energi, kafein juga sering digunakan sebagai cara cepat untuk meningkatkan fokus dan mengurangi rasa lelah. Namun, ketika konsumsi dihentikan secara tiba-tiba, gejala yang menyakitkan dapat muncul, salah satunya adalah sakit kepala yang intens. Gejala ini sering terjadi saat seseorang melewatkan kopi karena berpuasa, menjalani prosedur medis, atau mencoba mengurangi ketergantungan.
Fenomena ini dikenal sebagai sakit kepala akibat putus kafein, dan meskipun cukup umum terjadi, penyebab pastinya masih belum sepenuhnya dipahami oleh para ilmuwan. Para peneliti dan ahli saraf memiliki beberapa teori tentang mekanismenya, dan mereka juga memberikan saran tentang cara menghindari gejala yang menyiksa ini.
Sakit kepala akibat putus kafein umumnya muncul pada individu yang secara konsisten mengonsumsi lebih dari 200 miligram kafein per hari, setara dengan dua cangkir kopi, selama lebih dari dua minggu. Gejala ini biasanya timbul dalam 24 jam setelah asupan dihentikan, dan dapat berlangsung hingga satu minggu, kecuali jika kafein kembali dikonsumsi.
Menurut klasifikasi gangguan sakit kepala internasional (ICHD-3), gejala ini merupakan bentuk khusus dari sakit kepala sekunder yang dipicu oleh perubahan kimia dalam tubuh. Salah satu mekanisme utama yang diduga berperan adalah pelebaran pembuluh darah otak. Kafein diketahui menyebabkan penyempitan pembuluh darah, dan ketika asupannya dihentikan, pembuluh darah akan melebar, meningkatkan aliran darah dan menimbulkan tekanan yang menyakitkan di kepala.
Akan tetapi, para ahli menilai bahwa pelebaran pembuluh darah bukan satu-satunya penyebab. Peran adenosin, senyawa alami yang membantu mengatur siklus tidur dan rasa kantuk, juga dianggap penting. Kafein bekerja dengan menghambat reseptor adenosin di sistem saraf pusat. Ketika konsumsi dihentikan, kadar adenosin meningkat secara tiba-tiba, dan reseptor yang sebelumnya diblokir menjadi lebih sensitif, memicu gejala sakit kepala sebagai respons dari sistem saraf.
Kafein sendiri sering dimanfaatkan sebagai bahan aktif dalam beberapa obat sakit kepala, karena kemampuannya memperkuat efektivitas obat pereda nyeri seperti ibuprofen dan parasetamol. Hal ini memperlihatkan bahwa zat ini memiliki peran ganda: bisa meredakan sakit kepala jika digunakan dengan tepat, tetapi juga bisa menjadi pemicunya jika dihentikan secara tiba-tiba.
Sakit kepala akibat putus kafein kerap ditemukan di rumah sakit, terutama pada pasien yang harus berpuasa sebelum menjalani prosedur medis. Gejala serupa juga sering dilaporkan selama periode puasa seperti Ramadan, ketika konsumsi kafein secara mendadak dihentikan selama berjam-jam.
Banyaknya bagian tubuh yang terpengaruh oleh kafein membuat para peneliti kesulitan untuk menentukan satu penyebab utama dari gejala putus kafein. Kombinasi efek vaskular dan neurokimia menjadi faktor dominan yang diyakini saling berkaitan dalam memicu gejala tersebut. Walaupun teori utama telah dikembangkan, seperti pelebaran pembuluh darah dan peningkatan adenosin, masih banyak aspek yang belum dijelaskan secara rinci oleh penelitian.
Strategi terbaik untuk menghindari sakit kepala akibat penghentian kafein adalah dengan melakukan pengurangan secara bertahap. Pendekatan ini memungkinkan tubuh beradaptasi dengan perubahan kimiawi secara perlahan, sehingga meminimalkan risiko munculnya gejala yang parah. Pengurangan asupan disarankan sebanyak 25 hingga 50 miligram per hari, yang setara dengan seperempat hingga setengah cangkir kopi, hingga tubuh sepenuhnya terbiasa tanpa kafein.
Sakit kepala akibat putus kafein merupakan kondisi yang umum namun kompleks, yang muncul ketika seseorang secara tiba-tiba menghentikan konsumsi kafein setelah periode penggunaan rutin. Gejalanya bisa sangat menyakitkan, menyerupai migrain, dan disebabkan oleh mekanisme biologis seperti pelebaran pembuluh darah serta lonjakan adenosin dalam sistem saraf.
Meskipun belum ada penjelasan tunggal yang sepenuhnya dapat menjelaskan fenomena ini, penelitian sejauh ini menunjukkan bahwa pendekatan bertahap dalam mengurangi asupan kafein merupakan solusi paling efektif. Pemahaman yang lebih baik tentang proses biologis ini diharapkan akan membantu mengembangkan strategi pengelolaan yang lebih efisien, terutama dalam lingkungan medis dan bagi individu yang sedang berusaha mengurangi ketergantungan kafein. (NJD)
Diolah dari artikel:
“Why Do Caffeine Withdrawal Headaches Hurt So Much?” oleh Abby Wilson.
Link: https://www.livescience.com/health/why-do-caffeine-withdrawal-headaches-hurt-so-much