Sumber ilustrasi: Pixabay
29 Agustus 2025 08.45 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [29.08.2025] Sakit kepala merupakan salah satu keluhan kesehatan paling umum di seluruh dunia. Gejalanya dapat bervariasi, dari yang ringan hingga sangat menyiksa, dan dapat berlangsung dalam hitungan menit hingga berhari-hari. Meski banyak orang mengira bahwa rasa sakit berasal dari jaringan otak itu sendiri, kenyataannya otak tidak memiliki reseptor nyeri yang membuatnya mampu merasakan sakit secara langsung. Maka timbul pertanyaan: jika otak tidak bisa merasakan nyeri, mengapa sakit kepala terasa sangat menyakitkan?
Para peneliti menjelaskan bahwa sakit kepala, dalam banyak kasus, disebabkan oleh fenomena yang dikenal sebagai ” referred pain ” yang merupakan kondisi di mana rasa sakit yang dirasakan di suatu bagian tubuh sebenarnya berasal dari tempat lain. Neurolog Charles Clarke dari Vanderbilt Health menjelaskan bahwa sakit kepala sering kali berasal dari masalah pada bagian tubuh lain seperti rahang, leher, atau bahu, yang kemudian menyebabkan rasa sakit di jaringan otot dan saraf di sekitar kepala.
Jenis sakit kepala yang paling umum adalah sakit kepala tipe tegang (tension headache). Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tipe ini sering kali terasa seperti tekanan di sekitar dahi atau bagian atas kepala, seperti mengenakan ikat kepala yang terlalu kencang. Clarke menyebutkan bahwa ketegangan pada otot wajah, leher, dan kulit kepala dapat dipicu oleh stres, dan sering kali merupakan respons sekunder dari otot-otot tubuh lain yang juga menegang, misalnya bahu yang kaku atau rahang yang mengatup.
National Institutes of Health (NIH) menyatakan bahwa saraf-saraf di sekitar kepala, leher, dan wajah dapat menjadi sensitif terhadap rangsangan seperti pelebaran pembuluh darah, stres, atau ketegangan otot. Setelah teraktivasi, saraf-saraf ini mengirimkan sinyal ke otak, menciptakan sensasi nyeri yang seolah-olah berasal dari dalam otak, meski sebenarnya tidak demikian.
Migrain merupakan bentuk lain dari sakit kepala yang sebenarnya bagian dari gangguan neurologis. Gejala nyerinya dapat muncul di berbagai lokasi dan intensitas, termasuk di belakang mata, sebelah kiri atau kanan kepala, hingga rasa nyeri yang dalam. Clarke menjelaskan bahwa yang membedakan migrain dari sakit kepala biasa adalah tingkat keparahannya serta kecenderungan bersifat genetik dan disertai gejala tambahan seperti mual.
Salah satu hipotesis menyebutkan bahwa migrain berkaitan dengan aktivasi jalur saraf trigeminal dan lapisan pelindung otak (dura), yang dapat mengalami peradangan. Ketika terjadi reaksi listrik di otak yang memicu saraf trigeminal, peradangan dapat menjalar ke pembuluh darah dan jaringan di sekitar otak, menimbulkan rasa sakit yang hebat. Clarke menggambarkan mekanisme ini sebagai lingkaran umpan balik nyeri yang terus memburuk seiring waktu, sehingga serangan migrain pun semakin berat jika tidak segera ditangani.
Meskipun mekanisme pasti dari sakit kepala belum sepenuhnya dipahami, perkembangan pengobatan memberikan harapan besar. Clarke menekankan bahwa sakit kepala, termasuk migrain, bisa ditangani secara efektif melalui pendekatan kombinasi antara perubahan gaya hidup (seperti yoga), pengobatan bebas (misalnya ibuprofen atau aspirin), hingga resep medis khusus bagi kasus yang lebih berat.
Meski otak tidak memiliki reseptor nyeri, sakit kepala bisa sangat menyakitkan karena melibatkan jaringan saraf, otot, dan pembuluh `darah di sekitar kepala yang sensitif terhadap nyeri. Fenomena nyeri rujukan dan keterlibatan sistem saraf seperti saraf trigeminal berperan penting dalam menyebabkan berbagai jenis sakit kepala, mulai dari yang ringan seperti ketegangan, hingga migrain yang lebih kompleks dan kronis.
Pemahaman mengenai proses biologis ini terus berkembang, namun berbagai pendekatan terapeutik telah terbukti efektif dalam mengelola frekuensi dan intensitas sakit kepala. Penanganan yang cepat dan tepat sangat disarankan, terutama dalam kasus migrain, guna mencegah eskalasi gejala yang lebih parah.
Diolah dari artikel:
“If the brain doesn’t feel pain, why do headaches hurt?” Oleh Donavyn Coffey.
Link: https://www.livescience.com/if-the-brain-doesnt-feel-pain-why-do-headaches-hurt