Sumber ilustrasi: Pixabay
7 Oktober 2025 09.00 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [07.10.2025] Hiu sering dianggap sebagai makhluk yang menakutkan dan berbahaya, citra yang diperkuat oleh budaya populer seperti film Jaws. Akan tetapi, kenyataan menunjukkan bahwa manusia jauh lebih berbahaya bagi hiu dibanding sebaliknya. Berdasarkan data dari International Shark Attack File, rata-rata hanya tercatat 64 gigitan hiu per tahun secara global, dengan sekitar enam kasus yang berujung fatal. Jumlah tersebut sangat kecil jika dibandingkan dengan jutaan manusia yang memasuki laut setiap tahunnya.
Meskipun demikian, persepsi negatif terhadap hiu tetap meluas. Padahal, keberadaan mereka sangat penting bagi keseimbangan ekosistem laut. Sebagai predator puncak, hiu memainkan peran kunci dalam menjaga populasi spesies lain tetap stabil. Sejak tahun 1970-an, populasi hiu dan kerabat dekatnya seperti pari telah menurun lebih dari 70 persen, menurut laporan ilmiah tahun 2021. Saat ini, sepertiga dari seluruh spesies hiu dan pari terancam punah.
Penyebab utama penurunan populasi hiu bukan hanya perubahan iklim atau kerusakan habitat, melainkan eksploitasi oleh manusia. Penangkapan ikan secara berlebihan telah memengaruhi lebih dari 90 persen dari 1.266 spesies hiu dan pari yang dinilai oleh International Union for the Conservation of Nature (IUCN). Organisasi konservasi dan peneliti di berbagai belahan dunia menyoroti bahwa pandangan umum yang menganggap hiu sebagai makhluk tak berperasaan membuat mereka mudah dieksploitasi dan diabaikan.
Kelas ikan bertulang rawan seperti hiu, pari, dan skate (Chondrichthyes) memiliki karakteristik biologis yang membuat mereka sangat rentan terhadap ancaman. Mereka tumbuh lambat, mencapai usia matang seksual dalam waktu lama, dan melahirkan sedikit keturunan. Misalnya, hiu Greenland dapat hidup hingga 400 tahun, tetapi baru berkembang biak setelah mencapai usia 150 tahun. Hiu putih besar betina mulai bereproduksi sekitar usia 15 tahun. Siklus hidup lambat ini membuat mereka sulit beradaptasi terhadap tekanan perikanan yang tinggi dan perubahan lingkungan.
Kurangnya informasi mengenai sebagian besar spesies hiu, terutama yang hidup di laut dalam, juga menyulitkan upaya pelestarian. Namun demikian, kemajuan riset memberikan angin segar. Saat ini, para ilmuwan menemukan satu spesies hiu atau pari baru setiap bulan. Sejak 2001, seperempat dari lebih dari 1.200 spesies hiu, pari, dan skate yang diketahui telah berhasil diidentifikasi.
Kegiatan lapangan oleh ilmuwan seperti Rima Jabado, ketua Shark Specialist Group IUCN, menunjukkan bahwa perdagangan hiu bersifat global dan kompleks. Melalui pengumpulan data di pasar ikan Dubai, timnya berhasil mengidentifikasi lebih dari 12.000 hiu dari 30 spesies yang dijual untuk ekspor ke Asia. Di Mauritania, hiu ditangkap secara rutin, tetapi tidak dikonsumsi oleh masyarakat lokal. Daging hiu justru dikirim ke negara-negara lain di Afrika. Kulit pari langka digunakan sebagai pelapis mewah di hotel Eropa, dan minyak hati hiu banyak ditemukan dalam produk kosmetik.
Laporan IUCN tahun 2024 mencatat bahwa Indonesia, India, dan Spanyol merupakan negara dengan tingkat penangkapan hiu tertinggi, menyumbang sekitar sepertiga dari total tangkapan global. Amerika Serikat dan Meksiko melengkapi daftar lima besar. Uni Eropa menjadi pengimpor terbesar daging hiu dan pari, mencapai hampir seperempat dari total global. Menariknya, hanya seperempat dari hiu yang ditangkap secara sengaja. Sisanya merupakan bycatch, yaitu hasil tangkapan tidak sengaja dalam perburuan ikan seperti tuna dan kod.
Permintaan akan daging hiu dan pari hampir dua kali lipat sejak 2005. Kekurangan stok ikan laut lain akibat penangkapan berlebihan mendorong masyarakat, terutama di daerah terpencil, untuk beralih ke hiu sebagai sumber protein dan penghasilan.
Meski tantangan besar, terdapat contoh bahwa penangkapan hiu dapat dilakukan secara berkelanjutan. Di Amerika Serikat, sekitar 85 persen volume tangkapan hiu berasal dari spesies spiny dogfish, yang telah tersertifikasi sebagai sumber pangan laut berkelanjutan oleh Marine Stewardship Council. Pengawasan ketat terhadap kuota dan metode penangkapan menjadi kunci keberhasilan ini.
Diolah dari artikel:
“Save the Sharks to Save the Ocean” oleh Brianna Randall.
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.snexplores.org/article/save-sharks-ocean-conservation