Menyelamatkan Hiu Demi Menyelamatkan Laut (Bagian 2)

Sumber ilustrasi: Pixabay

9 Oktober 2025 10.00 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [09.10.2025] Kebijakan pelarangan shark finning atau pemotongan sirip hidup-hidup di beberapa negara Asia, termasuk Tiongkok, juga memperlihatkan hasil positif. Kampanye media yang menyoroti kekejaman praktik tersebut telah berhasil menurunkan konsumsinya secara signifikan dalam dua dekade terakhir.

Akan tetapi, ancaman lain datang dari praktik memancing hiu sebagai olahraga. Turnamen seperti Spanish Fly Shark Tournament di Florida menunjukkan tingginya minat terhadap praktik ini. Meski aturan mewajibkan pelepasan kembali setelah ditangkap, proses tersebut tetap membahayakan hiu. Beberapa spesies, seperti hiu martil dan hiu blacktip reef, sangat rentan terhadap stres akibat penangkapan. Bahkan, hiu betina yang sedang mengandung bisa mengalami keguguran akibat trauma tersebut. Studi tahun 2023 menunjukkan bahwa satu dari tujuh hiu yang dilepas setelah ditangkap kemungkinan akan mati.

Konsep catch-and-release mulai dikritisi. Dibandingkan dengan hewan karismatik darat seperti singa atau lumba-lumba, hiu masih belum mendapatkan simpati publik dalam perlakuan serupa. Kampanye untuk menutup kesenjangan empati ini mulai digalakkan oleh organisasi seperti Sharklife di Afrika Selatan.

Perubahan paradigma mulai terlihat di Meksiko, khususnya di Isla Partida, Baja California. Di sini, nelayan lokal mulai dilibatkan dalam proyek konservasi yang melibatkan pelatihan pengumpulan data ilmiah, termasuk pengambilan sampel darah dan jaringan, pemasangan kamera bawah air, dan pemantauan kualitas air. Proyek ini dikelola oleh organisasi konservasi Pelagios Kakunjá dan fokus pada spesies seperti hiu martil (scalloped hammerhead), yang populasinya menurun hingga 97 persen dalam 50 tahun terakhir.

Sejak 2012, Meksiko melarang penangkapan hiu selama musim kawin antara Mei hingga Juli. Kebijakan ini mulai menunjukkan hasil, dengan kembalinya hiu muda ke wilayah-wilayah yang sebelumnya kosong. Kawasan seperti Cabo Pulmo National Park kini menjadi habitat penting bagi spesies-spesies yang sebelumnya nyaris lenyap.

Pariwisata berbasis hiu kini berkembang pesat. Baja California menjadi destinasi dunia untuk menyelam bersama hiu putih, hiu mako, dan spesies lainnya. Menurut laporan IUCN, pariwisata terkait hiu menghasilkan lebih dari 300 juta dolar per tahun dan diperkirakan akan meningkat dua kali lipat dalam dua dekade ke depan.

Contoh nyata keberhasilan konservasi juga terlihat di Polinesia Prancis, khususnya di pulau Rangiroa. Sejak diberlakukannya larangan penangkapan hiu pada tahun 2006, jumlah populasi hiu dan pari meningkat secara signifikan. Proyek Tamataroa, yang melibatkan pemantauan hiu martil besar, menunjukkan bahwa kawasan ini tetap menjadi habitat penting bagi spesies yang telah mengalami penurunan populasi global hingga 80 persen.

Penelitian terhadap 14.000 pengamatan antara 2011 hingga 2018 mencatat peningkatan signifikan jumlah hiu dan pari di perairan Polinesia. Kesuksesan ini sebagian didorong oleh nilai budaya yang kuat antara masyarakat Polinesia dan hiu. Dalam banyak keluarga, hiu dianggap sebagai hewan totem dan dilindungi sebagai bagian dari warisan leluhur.

Penurunan populasi hiu dan pari di seluruh dunia merupakan krisis ekologi yang kompleks dan mendesak. Penyebab utama berasal dari aktivitas manusia, mulai dari penangkapan berlebihan hingga eksploitasi untuk konsumsi dan produk komersial. Solusi juga datang dari manusia. Melalui perubahan cara pandang, pendekatan ilmiah, serta keterlibatan masyarakat lokal, jalan menuju konservasi mulai terbuka.

Contoh keberhasilan di Polinesia Prancis dan Baja California membuktikan bahwa perlindungan hiu bukanlah hal yang mustahil. Dengan dukungan kebijakan, edukasi publik, dan integrasi budaya lokal, hiu bisa dilestarikan, dan kesehatan ekosistem laut bisa dipulihkan. Mimpi untuk melihat hiu di setiap perenangan bukan hanya mungkin, tetapi sangat penting untuk masa depan laut dunia.

Diolah dari artikel:
“Save the Sharks to Save the Ocean” oleh Brianna Randall.

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.snexplores.org/article/save-sharks-ocean-conservation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *