Sumber ilustrasi: Unsplash
12 September 2025 10.40 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [12.09.2025] Mabuk perjalanan adalah kondisi umum yang dialami banyak orang ketika bepergian dengan kendaraan, terutama saat melalui jalanan berkelok atau bergelombang. Gejala seperti mual, pusing, dan ketidaknyamanan sering kali mengganggu pengalaman perjalanan dan hingga kini, solusi yang lazim digunakan masih terbatas pada obat-obatan atau metode relaksasi sederhana. Akan tetapi, penelitian terbaru menunjukkan bahwa musik, khususnya jenis musik tertentu, dapat berperan dalam meredakan gejala mabuk perjalanan.
Sebuah studi yang dilakukan oleh tim peneliti dari Henan Institute of Science and Technology, Tiongkok, yang dipimpin oleh ahli saraf Yilun Li, menunjukkan bahwa musik dapat berpengaruh langsung terhadap kondisi fisik seseorang yang mengalami mabuk perjalanan. Penelitian ini menambah daftar panjang temuan ilmiah yang menunjukkan bagaimana musik dapat mengubah persepsi dan pengalaman tubuh terhadap ketidaknyamanan.
Dalam penelitian ini, 30 peserta dimasukkan ke dalam simulasi mengemudi yang dirancang untuk memicu rasa mual. Selama proses tersebut, peserta mengenakan alat EEG (elektroensefalograf) untuk merekam aktivitas otak secara real-time. Metode ini memungkinkan para peneliti mengamati transisi otak dari kondisi normal ke kondisi terganggu oleh mabuk, lalu kembali pulih.
Peserta dibagi ke dalam enam kelompok. Empat kelompok mendengarkan musik dengan genre berbeda selama satu menit setelah mengalami mual akibat simulasi. Satu kelompok melakukan meditasi selama satu menit, dan satu kelompok lainnya menyelesaikan simulasi sebelum titik mual muncul. Musik yang diperdengarkan mencakup berbagai nuansa emosional, termasuk musik ceria, musik lembut, dan musik sedih.
Hasil analisis menunjukkan bahwa kelompok yang mendengarkan musik ceria mengalami penurunan gejala mabuk sebesar 14 persen dibandingkan dengan kelompok yang bermeditasi. Musik lembut berada tepat di bawahnya dengan pengurangan gejala sebesar 13,4 persen. Sebaliknya, musik sedih ternyata memberikan dampak negatif, di mana peserta mengalami pemulihan yang lebih lambat dibandingkan mereka yang tidak mendengarkan musik sama sekali.
Temuan ini diperkuat oleh data EEG, yang menunjukkan bahwa semakin parah rasa mual yang dirasakan peserta, semakin rendah kompleksitas aktivitas otak di area oksipital, wilayah otak yang memproses informasi visual. Sebaliknya, saat peserta mulai pulih, aktivitas di wilayah tersebut menjadi lebih kompleks dan bervariasi. Para peneliti menduga bahwa musik sedih dapat memperburuk kondisi fisik melalui resonansi emosional negatif, sementara musik yang lebih positif membantu menjaga keseimbangan fisik dan mental peserta.
Penelitian ini juga selaras dengan temuan sebelumnya yang menunjukkan bahwa musik dapat mengurangi gejala mabuk akibat penggunaan perangkat realitas virtual (cybersickness), dan bahkan membantu mengurangi gejala akibat konsumsi alkohol berlebih. Dengan demikian, pendekatan berbasis musik ini menunjukkan konsistensi dalam berbagai konteks yang melibatkan gangguan sensorik dan ketidaknyamanan.
Namun, para peneliti juga menekankan bahwa skala penelitian ini masih terbatas. Dengan hanya 30 peserta dan variabilitas individual yang tinggi dalam respons terhadap musik dan mabuk perjalanan, hasil ini perlu dikaji lebih lanjut dengan sampel yang lebih besar untuk mendapatkan kesimpulan yang lebih kuat secara statistik.
Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Henan Institute of Science and Technology memberikan gambaran baru tentang peran musik dalam meredakan gejala mabuk perjalanan. Musik ceria dan lembut menunjukkan potensi sebagai intervensi non-obat yang dapat dimanfaatkan secara mudah dan murah, terutama dalam situasi perjalanan darat atau penggunaan teknologi yang memicu mabuk visual.
Meskipun studi ini masih berskala kecil, hasil awal ini membuka jalan bagi pendekatan yang lebih holistik terhadap kenyamanan perjalanan. Musik yang tepat tidak hanya memengaruhi suasana hati, tetapi juga berpotensi membantu tubuh pulih lebih cepat dari gangguan sensorik seperti mabuk perjalanan. Penelitian lanjutan sangat diperlukan untuk memperkuat temuan ini dan mengeksplorasi penerapannya dalam skenario kehidupan nyata.
Diolah dari artikel:
“One Kind of Music Could Be an Unexpected Cure For Motion Sickness” oleh Carly Cassella.
Link: https://www.sciencealert.com/one-kind-of-music-could-be-an-unexpected-cure-for-motion-sickness