Sumber ilustrasi: Pixabay
29 Januari 2026 16.20 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [29.01.2026] Kemampuan manusia untuk menemukan jalan di lingkungan yang familiar maupun baru merupakan fungsi penting otak. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang dapat segera menyadari ketika salah mengambil rute, bahkan saat hanya berbelok sedikit dari jalur yang biasa dilalui. Fenomena ini menunjukkan adanya sistem navigasi internal yang bekerja secara halus namun efektif. Penelitian terbaru kini mengungkap bahwa otak manusia memiliki semacam “dial” atau pengatur internal yang menyesuaikan aktivitasnya ketika seseorang berada di tempat baru atau lingkungan yang sudah dikenal.
Studi yang dipublikasikan pada 4 Desember 2025 di jurnal Nature Communications menunjukkan bahwa mekanisme ini berperan besar dalam membantu manusia menavigasi ruang. Temuan ini juga penting karena gangguan navigasi sering kali menjadi gejala awal penyakit neurodegeneratif, seperti Alzheimer dan jenis demensia lainnya. Dengan memahami bagaimana otak mengatur rasa familiar dan kebaruan suatu tempat, para ilmuwan berharap dapat mengenali tanda-tanda awal gangguan kognitif secara lebih dini.
Penelitian ini menggabungkan teknologi pencitraan otak beresolusi tinggi dengan realitas virtual (VR) untuk mensimulasikan pengalaman menjelajah lingkungan baru. Sebanyak 56 relawan sehat berusia 20 hingga 37 tahun diminta menavigasi sebuah dunia virtual berupa hamparan padang rumput yang dikelilingi pegunungan. Di dalam lingkungan virtual tersebut, para peserta harus mencari enam objek tersembunyi sambil aktivitas otak dipantau menggunakan functional magnetic resonance imaging (fMRI).
Fokus utama penelitian tertuju pada hipokampus, bagian otak yang dikenal berperan penting dalam memori dan navigasi spasial. Hipokampus memiliki sel khusus yang disebut place cells, yang akan aktif ketika seseorang berada di lokasi tertentu. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa satu ujung hipokampus lebih berkaitan dengan representasi lokasi secara umum, sedangkan ujung lainnya merespons lokasi yang sangat spesifik. Namun, organisasi sel-sel yang merespons tingkat kebaruan atau keterbiasaan suatu tempat belum pernah dipetakan secara rinci.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bagian depan hipokampus lebih aktif saat seseorang berada di lingkungan yang sudah dikenal, sementara bagian belakangnya lebih responsif terhadap lokasi baru. Di antara kedua ujung tersebut terdapat gradien aktivitas yang secara bertahap berubah dari representasi familiar menuju representasi yang benar-benar baru. Pola ini menjelaskan mengapa penelitian sebelumnya sering menghasilkan temuan yang tampak saling bertentangan, karena respons terhadap kebaruan dan keterbiasaan ternyata tidak terpisah secara tegas, melainkan tersusun dalam spektrum.
Selain hipokampus, area korteks otak juga menunjukkan pola serupa. Sebuah wilayah korteks membentuk gradien berbentuk kerucut, dengan pusat area lebih aktif terhadap lingkungan yang familiar, sementara bagian luarnya semakin aktif ketika menghadapi kebaruan. Temuan ini memperlihatkan bahwa navigasi tidak hanya bergantung pada satu wilayah otak, melainkan melibatkan jaringan luas yang saling terhubung.
Penelitian juga menemukan bahwa lingkungan yang familiar cenderung mengaktifkan jaringan otak yang berhubungan dengan memori dan kontrol motorik. Sebaliknya, lingkungan baru memicu jaringan yang terkait dengan perhatian dan persepsi. Pembagian fungsi ini memungkinkan otak untuk menyerap informasi baru secara efektif saat menjelajah tempat asing, kemudian mengandalkan memori dan kebiasaan ketika kembali ke lokasi yang sudah dikenal.
Temuan tentang adanya “dial” navigasi di otak memberikan pemahaman baru mengenai bagaimana manusia membedakan antara tempat yang familiar dan yang asing. Gradien aktivitas di hipokampus dan korteks menunjukkan bahwa otak secara dinamis menyesuaikan strategi navigasi berdasarkan tingkat kebaruan lingkungan. Mekanisme ini membantu manusia tetap waspada di tempat baru sekaligus efisien saat bergerak di area yang sudah dikenal.
Pemahaman ini juga memiliki implikasi penting bagi dunia medis. Karena wilayah otak yang terlibat dalam navigasi dan memori episodik termasuk yang paling awal terdampak penyakit Alzheimer, penelitian ini membuka peluang untuk mendeteksi demensia pada tahap sangat dini. Dengan mengenali perubahan halus dalam kemampuan navigasi, upaya menjaga kemandirian dan kualitas hidup individu berisiko dapat dilakukan lebih cepat dan lebih efektif.
Diolah dari artikel:
“Brain scans reveal ‘dial’ that helps keep us from getting lost” oleh RJ Mackenzie.
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.