Pemanasan Global Buka Jalan Spesies Invasif Kuasai Antarktika?

Sumber ilustrasi: Unsplash
6 Maret 2026 09.45 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [06.03.2026] Antarktika selama puluhan juta tahun dikenal sebagai benua yang terisolasi dan didominasi es. Sekitar 98 persen wilayahnya masih tertutup lapisan es tebal hingga empat kilometer, sementara sisanya berupa gurun dingin berbatu. Ekosistem daratannya sangat sederhana dan unik, hanya dihuni sedikit spesies tumbuhan dan hewan kecil yang mampu bertahan di kondisi ekstrem.

Berbeda dengan Arktik di belahan utara yang memiliki kemiripan dengan ekosistem lain di dunia, Antarktika terpisah dari benua lain sejak sekitar 30 juta tahun lalu. Isolasi panjang dan suhu yang jauh lebih dingin membentuk sistem hayati yang sangat khas. Di seluruh benua dan pulau-pulaunya, hanya ada dua spesies serangga asli, keduanya lalat, dan salah satunya tidak bersayap.

Tumbuhan berpembuluh asli pun hanya dua jenis, yakni rumput rambut Antarktika dan pearlwort. Selebihnya, vegetasi didominasi lumut dan lumut kerak yang tumbuh di lokasi terbatas dengan cukup air dan sinar matahari saat musim panas. Ekosistem sederhana ini tidak ditemukan di tempat lain di planet ini.

Akan tetapi perubahan iklim mulai mengubah lanskap tersebut. Sejak 1850, suhu rata-rata global meningkat sekitar 1,44 derajat Celsius. Pemanasan di Semenanjung Antarktika bahkan berlangsung hampir dua kali lebih cepat. Pulau King George di ujung utara semenanjung menjadi gambaran awal perubahan ini, dengan area hijau lumut dan tanaman yang semakin meluas saat es mencair.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa vegetasi Antarktika telah merespons kenaikan suhu. Studi lapisan lumut oleh peneliti dari University of Exeter menemukan bahwa sejak sekitar 1950, pertumbuhan lumut meningkat tajam. Pada 2010, lajunya tercatat dua hingga empat kali lebih cepat dibandingkan 4.000 tahun sebelumnya.

Penelitian lain di Pulau Signy menunjukkan bahwa antara 1960 hingga 2018, luas area yang ditutupi dua tanaman berpembuluh asli hampir tiga kali lipat. Analisis citra satelit oleh tim dari University of Hertfordshire juga memperlihatkan ekspansi signifikan area hijau di Semenanjung Antarktika antara 1986 hingga 2021.

Proyeksi yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Environmental Science memperkirakan bahwa pada 2100, pemanasan di kawasan tersebut dapat mencapai 2,3 hingga 6,1 derajat Celsius. Jika emisi gas rumah kaca terus berlanjut, pada 2300 kenaikan suhu bisa mencapai 4 hingga 8 derajat Celsius. Kondisi ini akan mempercepat pencairan gletser dan memperluas daratan bebas es.

Sebagai contoh, Gletser Ecology di Pulau King George telah mundur sekitar 800 meter sejak 1985. Dalam 75 tahun ke depan, luas daratan bebas es di bagian utara Semenanjung Antarktika diperkirakan hampir tiga kali lipat menjadi sekitar 19.000 kilometer persegi. Wilayah baru ini akan menjadi ruang potensial bagi tumbuhan dan hewan untuk berkembang.

Proses kolonisasi dimulai dari mikroorganisme yang memecah batu dan melepaskan nutrien. Lumut dan lumut kerak kemudian tumbuh, diikuti tanaman berpembuluh. Koloni penguin, burung laut, dan anjing laut memperkaya tanah dengan nutrien dari laut melalui kotoran mereka, mempercepat pembentukan tanah subur.

Masalahnya, spesies invasif juga siap memanfaatkan peluang tersebut. Setidaknya 18 spesies non-asli telah menetap di Antarktika. Rumput Poa annua, misalnya, sudah menyebar di Pulau King George dan Pulau Signy. Dua spesies lalat invasif juga berkembang pesat setelah awalnya muncul di sistem limbah stasiun penelitian.

Spesies invasif ini cenderung tumbuh cepat dan memanfaatkan tanah yang diperkaya nitrogen. Penelitian menunjukkan bahwa keberadaan larva lalat invasif di Pulau Signy meningkatkan kadar nitrogen tanah hingga tiga sampai lima kali lipat. Kondisi ini dapat memicu pertumbuhan tanaman asing lain dan mempercepat perubahan ekosistem.

Eksperimen laboratorium menunjukkan bahwa banyak tanaman non-asli sebenarnya sudah mampu bertahan dalam kondisi iklim Antarktika saat ini. Jika pemanasan berlanjut, peluang keberhasilan invasi akan semakin besar.

Ancaman juga datang dari hewan pengerat. Di pulau-pulau subantarktik yang lebih hangat, tikus rumah yang diperkenalkan manusia telah memangsa burung laut dan mengganggu keseimbangan ekosistem. Meskipun suhu di Semenanjung Antarktika saat ini masih terlalu dingin bagi populasi tikus permanen, proyeksi menunjukkan bahwa pada akhir abad ini kondisi bisa menjadi cukup hangat.

Secara historis, Antarktika pernah hijau. Sekitar 40 juta tahun lalu, hutan southern beech menutupi sebagian besar benua sebelum terpisah dari Amerika Selatan dan membeku permanen. Fosil pohon dan tumbuhan purba masih ditemukan hingga kini. Namun jika pepohonan kembali tumbuh di masa depan, ekosistemnya akan berbeda karena bercampur dengan spesies invasif modern.

Pemanasan global telah memicu percepatan pertumbuhan vegetasi di Semenanjung Antarktika dan memperluas area bebas es yang berpotensi dihuni organisme darat. Data lapangan dan citra satelit menunjukkan bahwa perubahan ini sudah berlangsung, sementara proyeksi iklim mengindikasikan tren yang akan terus berlanjut dalam beberapa abad ke depan.

Namun demikian penghijauan Antarktika bukan sekadar tanda pemulihan alam, melainkan ancaman bagi ekosistem unik yang berevolusi selama 30 juta tahun. Ekspansi spesies invasif berisiko menggantikan flora dan fauna asli, mengubah karakter benua es menjadi lanskap yang lebih umum dan kehilangan keunikannya.

Diolah dari artikel:
“Antarctica faces a green and weedy future” oleh Douglas Fox. [njd]

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.snexplores.org/article/warming-antarctica-green-weedy-future

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *