Sumber ilustrasi: Freepik
1 Januari 2026 10.40 WIB – Akar
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Jika diajukan pertanyaan: bagaimana pendidikan dapat dimengerti dan dijalankan sebagai proses yang lahir dari pengalaman hidup nyata warga, bukan sebagai rancangan konseptual yang dipaksakan dari luar, sehingga makna pendidikan muncul sebagai kesadaran bersama bahwa yang paling dibutuhkan dalam hidup yang terus berubah bukan akumulasi keahlian tertentu, melainkan kemampuan untuk terus belajar dari situasi, dari sesama, dan dari keterbatasan yang dihadapi bersama? Bagaimana menjawabnya? Pertanyaan ini layak diajukan, agar gagasan bahwa pendidikan sebaiknya dipahami sebagai belajar cara belajar, dapat dipahami lebih utuh dan tidak datang sebagai pandangan yang akhirnya menjadi asing bagi kita dalam kerangka hidup bersama yang berkelanjutan. Begini kira-kira refleksinya:
Gagasan pendidikan sebagai belajar cara belajar, tentu tidak dapat dimunculkan melalui penetapan konseptual dari atas, karena makna belajar itu sendiri, sebenarnya lahir dari perjumpaan konkret dengan keterbatasan hidup (bersama). Ketika pendidikan dirumuskan sebagai kebijakan sebelum dipahami sebagai pengalaman bersama, pendidikan segera tampil sebagai instruksi, bukan sebagai hasil refleksi. Oleh sebab itu, titik berangkatnya bukan konsep pendidikan, melainkan pengalaman hidup warga yang menghadapi persoalan nyata: ruang hidup yang menyempit, penghidupan yang “rapuh”, konflik kepentingan akibat kebutuhan dasar yang sama, dan ketidakpastian masa depan.
Dalam pengalaman tersebut, warga sebenarnya telah terus-menerus belajar, meskipun tidak selalu disebut sebagai belajar. Cara menyesuaikan diri, mengubah strategi hidup, membaca tanda-tanda lingkungan, atau berunding dengan sesama, merupakan praktik belajar yang berlangsung secara implisit. Proses ini jarang dikenali sebagai sumber pengetahuan, karena pendidikan formal telah lebih dahulu mendefinisikan belajar sebagai aktivitas terpisah dari hidup. Di sinilah langkah awal perlu dilakukan: membuat pengalaman hidup itu sendiri menjadi objek refleksi bersama.
Proses belajar bersama dimulai dengan membuka ruang dialog yang tidak bertujuan menyimpulkan secara cepat, melainkan “menunda” jawaban. Dalam ruang ini, pengalaman warga tidak diposisikan sebagai data mentah untuk dikategorikan, tetapi sebagai medan pertanyaan. Pertanyaan yang diajukan bukan “apa solusinya”, melainkan “bagaimana cara memahami persoalan ini” dan “mengapa cara lama tidak lagi bekerja”. Dengan demikian, perhatian bergeser “dari hasil ke proses memahami”.
Ketika pengalaman dibaca bersama, perbedaan cara melihat tidak disingkirkan, melainkan dijadikan bahan belajar. Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa satu persoalan dapat dipahami dari banyak sudut, dan bahwa tidak ada satu pengetahuan tunggal yang langsung memadai. Dari sini tumbuh kesadaran bahwa yang dibutuhkan bukan pertama-tama jawaban yang benar, melainkan kemampuan untuk belajar dari situasi yang berubah dan dari sudut pandang yang beragam.
Melalui proses ini, keahlian dan keterampilan mulai terlihat sebagai hasil samping, bukan sebagai tujuan awal. Keahlian muncul karena kebutuhan konkret menuntutnya, sementara keterampilan berkembang karena proses belajar berulang dalam konteks tertentu. Namun yang lebih mendasar adalah terbentuknya kemampuan untuk mengenali kapan keahlian tertentu dibutuhkan, kapan harus diubah, dan kapan harus ditinggalkan. Kesadaran semacam ini tidak mungkin lahir dari pelatihan yang terpisah dari pengalaman hidup.
Proses belajar bersama juga menuntut pengakuan atas ketidaktahuan sebagai titik temu. Ketidaktahuan tidak lagi dibaca sebagai kekurangan individu, tetapi sebagai kondisi bersama yang memanggil pembelajaran kolektif. Dari pengakuan ini, relasi belajar menjadi setara secara epistemik, meskipun peran dan pengalaman berbeda. Tidak ada pihak yang tampil sebagai pemilik pengetahuan final, melainkan sebagai sesama pembelajar dalam situasi yang sama-sama belum selesai.
Seiring berjalannya proses tersebut, muncul pergeseran cara memandang pendidikan. Pendidikan tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang “diberikan”, melainkan sebagai sesuatu yang “tumbuh” dari upaya bersama memahami dan menata hidup. Dalam kerangka ini, sekolah, kurikulum, dan institusi lain dibaca sebagai sarana pendukung, bukan sumber utama makna pendidikan. Makna pendidikan justru lahir dari praktik belajar yang telah berlangsung dalam kehidupan sehari-hari warga.
Ketika gagasan pendidikan tumbuh dari pengalaman yang direfleksikan bersama, klaim bahwa pendidikan seharusnya adalah belajar cara belajar tidak hadir sebagai doktrin, melainkan sebagai kesimpulan yang dialami. Kesimpulan ini lahir karena warga menyadari bahwa persoalan hidup tidak pernah selesai oleh satu keahlian saja, dan bahwa kemampuan untuk terus belajar merupakan syarat dasar untuk tetap ada dan tetap bersama. Dengan cara inilah pendidikan menjadi proses yang berakar, berkelanjutan, dan tidak terlepas dari hidup itu sendiri.
Medan Pengalaman
Kita berpandangan bahwa yang disebut sebagai pengalaman hidup warga, sesungguhnya tidak berlangsung dalam satu ruang tunggal, melainkan terbentang dalam beberapa medan yang saling berkelindan dan membentuk cara hidup secara keseluruhan. Medan-medan ini bukan hasil perancangan institusional, tetapi muncul dari kebutuhan hidup itu sendiri. Dari pengamatan dan refleksi atas kehidupan sehari-hari, sekurang-kurangnya dapat dikenali empat medan pengalaman yang terus-menerus membentuk cara warga memahami dunia dan menata tindakannya.
Medan pertama adalah keluarga. Di dalam keluarga, relasi dasar dengan orang lain, dengan kebutuhan hidup (yang sama), dan dengan keterbatasan mulai dialami. Cara berbagi, cara menghadapi kekurangan, cara menyelesaikan perbedaan, dan cara membaca otoritas berlangsung tanpa penjelasan “teoritis”. Pengalaman-pengalaman ini membentuk disposisi awal tentang apa yang dianggap wajar, mungkin, atau mustahil dalam hidup.
Medan kedua adalah komunitas. Komunitas menghadirkan pengalaman hidup bersama di luar ikatan keluarga, di mana relasi tidak lagi ditentukan oleh kedekatan darah, tetapi oleh kepentingan, kebiasaan, dan ruang hidup bersama. Dalam komunitas, perbedaan nilai, kepentingan, dan cara hidup menjadi lebih tampak, sehingga kemampuan bernegosiasi, bermusyawarah, atau bahkan berkonflik mulai teruji secara nyata.
Medan ketiga adalah ruang sekolah. Sekolah mempertemukan pengalaman hidup dengan bentuk refleksi yang lebih terstruktur. Di ruang ini, pengalaman tidak hanya dijalani, tetapi mulai diberi jarak melalui bahasa, konsep, dan simbol. Sekolah menyediakan kesempatan untuk menamai pengalaman, membandingkan dengan pengalaman lain, dan menguji pemahaman melalui dialog dan latihan berpikir.
Namun ruang sekolah tidak berdiri di luar medan lainnya. Cara seseorang belajar di sekolah sangat dipengaruhi oleh pengalaman keluarga dan komunitas yang telah lebih dahulu membentuk sikap terhadap otoritas, kesalahan, dan pengetahuan. Ketika sekolah mengabaikan keterkaitan ini, pendidikan mudah berubah menjadi pengalaman asing yang terlepas dari hidup sehari-hari.
Medan keempat adalah institusi usaha ekonomi. Di sini, pengalaman hidup berhadapan langsung dengan tuntutan pengusahaan kebutuhan material — yang sama, seperti bahan pangan, sandang dan papan. Pilihan kerja, cara berproduksi, relasi dengan atasan dan rekan, serta risiko kegagalan memberikan pengalaman tentang konsekuensi nyata dari keputusan. Medan ini memperlihatkan bahwa belajar tidak pernah netral, karena selalu terkait dengan keberlangsungan hidup.
Keempat medan ini tidak bekerja secara terpisah, melainkan saling mempengaruhi. Pengalaman kegagalan dalam usaha ekonomi, misalnya, dibaca melalui nilai yang dibentuk di keluarga dan komunitas, lalu direfleksikan atau tidak melalui pengalaman belajar di sekolah. Demikian pula, gagasan yang diperoleh di sekolah diuji kembali ketika berhadapan dengan kenyataan kerja dan kehidupan sosial.
Dari keterjalinan ini terlihat bahwa warga sesungguhnya telah terus belajar jauh sebelum memasuki pendidikan formal. Belajar berlangsung ketika menghadapi keterbatasan, ketika cara lama tidak lagi memadai, dan ketika diperlukan penyesuaian baru. Proses ini jarang dikenali sebagai belajar, karena belajar sering dipersempit menjadi aktivitas akademik semata.
Ketika pengalaman hidup di keempat medan ini dibaca secara reflektif, diharapkan muncul kesadaran bahwa tidak ada satu keahlian pun yang cukup untuk seluruh situasi hidup. Setiap medan menuntut kemampuan memahami konteks, membaca relasi, dan menilai konsekuensi. Dari sini, kebutuhan akan kemampuan belajar lintas situasi menjadi semakin jelas.
Pengalaman juga menunjukkan bahwa kegagalan sering kali bukan akibat kurangnya keahlian, melainkan ketidakmampuan menyesuaikan cara belajar dengan medan yang berbeda. Cara berpikir yang berhasil di keluarga belum tentu memadai di komunitas atau dunia kerja. Ketegangan ini menjadi sumber belajar yang penting ketika disadari bersama.
Dengan demikian, pendidikan tidak perlu diperkenalkan sebagai konsep asing yang datang dari luar pengalaman warga. Pendidikan dapat tumbuh sebagai artikulasi sadar atas proses belajar yang telah berlangsung di keempat medan tersebut. Pendidikan dipahami sebagai upaya bersama untuk membaca, menghubungkan, dan merefleksikan pengalaman hidup agar kemampuan belajar semakin matang.
Pada akhirnya, pengakuan atas empat medan pengalaman ini membuka jalan bagi pemahaman pendidikan sebagai proses hidup yang berkelanjutan. Pendidikan tidak lagi dimulai dan diakhiri di ruang sekolah, melainkan berlangsung sepanjang hidup warga, selama relasi dengan keluarga, komunitas, ruang refleksi, dan usaha ekonomi terus berubah dan menuntut pembelajaran baru. [desanomia – 010126 – dja]