Sumber ilustrasi: Pixabay
4 Agustus 2025 18.30 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [04.08.2025] Penelitian terbaru mengungkap bahwa suhu dingin dan panas ternyata menempuh jalur yang berbeda menuju otak. Temuan ini menantang anggapan lama dalam ilmu saraf yang menyatakan bahwa semua suhu, dari dingin hingga panas ekstrem, disampaikan melalui satu jalur sensorik yang sama. Studi ini tidak hanya menambah wawasan baru tentang cara tubuh merespons lingkungan, tetapi juga membuka peluang penelitian lanjutan di bidang neurologi dan pengobatan nyeri.
Hasil penelitian ini dipublikasikan pada 28 Juli di jurnal Nature Communications. Untuk pertama kalinya, tim ilmuwan berhasil memetakan jalur sensorik lengkap yang memungkinkan kulit menyampaikan informasi suhu dingin ke otak. Penelitian dilakukan pada tikus, namun para ilmuwan meyakini bahwa manusia memiliki jalur sensorik yang serupa. Penemuan ini menunjukkan bahwa tubuh memiliki sistem yang lebih kompleks dalam membedakan suhu daripada yang sebelumnya diperkirakan.
Tim peneliti dari University of Michigan menggunakan berbagai metode ilmiah seperti pencitraan tingkat lanjut, pemantauan sinyal listrik, analisis perilaku tikus, hingga teknik genetika mendalam. Fokus utama mereka adalah pada sensor di kulit yang sensitif terhadap suhu sejuk, yakni antara 15 hingga 25 derajat Celsius. Sensor ini diketahui mengaktifkan neuron sensorik yang kemudian mengirim sinyal ke sumsum tulang belakang. Di dalam sumsum tulang belakang inilah sinyal diperkuat sebelum akhirnya diteruskan ke otak.
Sebelumnya, sensor suhu pada kulit telah diketahui keberadaannya dan sempat berkontribusi pada penghargaan Nobel Fisiologi atau Kedokteran tahun 2021. Akan tetapi penemuan bahwa sinyal suhu dingin diperkuat oleh interneuron khusus di sumsum tulang belakang merupakan hal baru. Dalam eksperimen lanjutan, peneliti menonaktifkan sel-sel interneuron ini dan hasilnya, tikus tidak lagi menunjukkan respons terhadap suhu dingin. Menariknya, interneuron tersebut hanya aktif terhadap sinyal dingin dan tidak merespons rangsangan panas maupun dingin ekstrem.
Penelitian ini juga menjadi fondasi untuk memahami hubungan antara sirkuit suhu dengan sistem sensorik lain seperti rasa sakit dan gatal. Dalam keterangan tertulis, tim peneliti menyebutkan bahwa mereka akan melanjutkan eksplorasi dengan menggunakan alat genetika dan pencitraan lebih mendalam. Pengetahuan ini dapat membuka jalan bagi pemahaman yang lebih luas tentang cara sistem saraf memproses berbagai sensasi secara spesifik.
Penemuan ini memiliki potensi signifikan dalam dunia medis. Sebagai contoh, pasien kanker yang menjalani kemoterapi kerap mengalami kondisi yang disebut cold allodynia, yaitu kondisi di mana suhu sejuk yang normal terasa menyakitkan. Dengan mengetahui jalur spesifik yang membawa sensasi dingin, para peneliti berharap terapi yang lebih tepat sasaran bisa dikembangkan untuk mengatasi efek samping semacam ini.
Penelitian pada tikus ini masih merupakan langkah awal. Tim menyadari bahwa pemetaan sirkuit sensorik pada otak manusia masih sangat terbatas. Namun demikian mereka meyakini bahwa setiap kemajuan dalam pemetaan ini dapat membuka banyak penemuan baru yang berguna untuk bidang neurologi, pengobatan, hingga pengembangan teknologi sensorik masa depan.
Secara keseluruhan, studi ini menunjukkan bahwa sensasi suhu dingin dan panas memiliki jalur saraf yang berbeda dalam sistem sensorik tubuh. Penemuan ini tidak hanya merevisi pemahaman dasar tentang bagaimana tubuh memproses informasi suhu, tetapi juga membuka pintu untuk penelitian baru dalam neurologi sensorik. Dengan identifikasi jalur unik ini, para ilmuwan dapat lebih memahami bagaimana tubuh membedakan suhu dan bagaimana gangguan pada sistem ini dapat memengaruhi kesehatan manusia.
Dari sisi aplikasi, hasil penelitian ini memberikan dasar untuk pengembangan terapi nyeri yang lebih spesifik, terutama bagi pasien dengan gangguan sensitivitas suhu. Penelusuran lanjutan terhadap interaksi antara jalur dingin dengan sirkuit sensorik lainnya juga dapat memberikan wawasan penting dalam memahami rasa sakit, gatal, atau bahkan persepsi suhu pada perangkat prostetik.
Diolah dari artikel:
“Warm and cool temperatures travel on completely different paths to the brain, study finds” oleh Perri Thaler