Sumber ilustrasi: Freepik
Oleh: Pandu Sagara
5 Agustus 2025 09.25 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Mengapa perang masih dimungkinkan? Apa yang menjadi dasar pembenar, jika nilai-nilai kemanusiaan dan hak-hak asasi manusia telah menjadi pegangan, hampir semua negara? Apakah mungkin diajukan pertanyaan yang lebih kritis, yakni apakah manusia masih dapat berpikir ketika perang menjadi cara utama dalam menyelesaikan konflik? Atau, apakah kondisi yang memungkinkan manusia berpikir dan menggunakan pikirannya telah makin tidak kondusif? Bahkan mungkin, berpikir telah menjadi hal “kuno” atau ketinggalan jaman, dimana cara kekerasan, seperti perang dianggap menjadi jalan modern? Bagaimana memahami masalah ini? Mungkinkan suatu refleksi dilakukan?
***
Jika berpikir dipahami sebagai kemampuan untuk menimbang, memberikan alasan, dan memilih tindakan yang tepat berdasarkan pengalaman, penilaian logis dan etis, maka idealnya segala tindakan diawali dengan proses berpikir. Suatu tindakan dipandang akan lebih baik jika didasarkan proses berpikir, dan sebagian mungkin akan menyarankan berdasarkan pemikiran ilmiah (saintifik).
Masalahnya, apakah pengandaian ini sepenuhnya benar? Bagaimana jika ada pengandaian sebaliknya? Yakni suatu keputusan yang juga datang dari proses berpikir, namun proses berpikir tersebut dipandu oleh apa yang disebut sebagai kepentingan, misalnya: mempertahankan kedaulatan, mengamankan sumber daya, atau menjaga kehormatan nasional.
Dengan nalar yang terakhir itu, maka perang bukanlah hasil dari tidak berpikir, malah sebaliknya – dilatar-belakangi oleh proses berpikir yang mungkin sangat ketat. Jadi dimana letak masalahnya, karena toh tindakan perang, dalam kerangka ini, dapat dikatakan juga merupakan produk dari proses berpikir?
Atau bahkan, jika segala-gala aktivitas otak dinyatakan adalah proses berpikir, maka sangat jelas bahwa segala tindakan dalam perang, pada dasarnya adalah produk dari proses berpikir? Suatu strategi, dalam kajiannya, memperlihatkan hasil dari suatu kapasitas tertentu. Bahkan ada yang mendapatkan predikat sebagai “jenius strategi”?
Jika demikian, letak masalah tentu bukan pada soal proses berpikirnya dan pemikiran yang dihasilkannya, melainkan pada watak dan orientasi dari proses berpikir itu sendiri? Benarkah demikian? Apakah dengan demikian, berpikir merupakan kerja yang eksklusif, yang tidak terkait dengan hal-hal di luarnya, yang menjadi basis pertimbangan dan dorongan yang memungkinkan tindakan berpikir itu sendiri?
Apabila benar demikian, maka berpikir tidak lebih sebagai suatu kalkulasi instrumental. Tindakan berpikir dengan demikian menjadi bagian dari “strategi”. Hal yang demikian ini, bagi sebagian kalangan akan mengatakan bahwa kenyataan tersebut akan membawa kita pada pembedaan antara rasionalitas kalkulatif dan rasionalitas reflektif. Yang pertama bersifat teknis dan efisien, sedangkan yang kedua bersifat kontemplatif dan eksistensial. Dominasi bentuk pertama atas yang kedua merupakan penyimpangan dalam cara manusia berpikir.
***
Ketika manusia terus-menerus memilih kekerasan meskipun menyadari kehancuran yang ditimbulkannya, maka berdasarkan pandangan di atas, sebagian pihak akan mengatakan bahwa sangat mungkin yang terjadi bukanlah kehilangan kapasitas berpikir, melainkan penolakan untuk berpikir secara mendalam. Mengapa? Apa yang terjadi dengan manusia? Apakah hal ini merupakan produk sejarah? Atau bagaimana kita memahaminya? Bukankah, ada kritik atas pilihan perang? Yang dengan demikian dapat diartikan, ada refleksi atas pilihan perang, dan dengan itu dilakukan langkah mencegahnya?
Cara berpikir yang demikian ini, tentu akan membelah kenyataan hidup manusia: ada yang mengambil tindakan perang dan menerima segala konsekuensinya, dan ada yang memandang bahwa tindakan perang merupakan bentuk serangan kepada eksistensi manusia dan seluruh makna yang melekat padanya. Pandangan yang demikian ini mungkin dapat menjelaskan apa yang sedang berlangsung, namun tetap tidak mampu menjawab pokok soalnya: mengapa perang menjadi pilihan, sementara dasar-dasar perdamaian begitu kokoh diletakkan dalam naskah resmi di seluruh negara dan juga di tingkat global.
Mungkinkan yang terjadi sebenarnya bukanlah suatu pilihan eksistensial. Yang dengan demikian, pilihan tindakan perang, yang meskipun juga memiliki klaim sebagai hasil dari proses berpikir, dapat dikatakan memiliki problem internal. Yang dimaksud di sini adalah problem yang dipahami jika diandaikan bahwa tindakan berpikir pada dasarnya adalah tindakan “maknawi” yang menuntut perhatian penuh. Ketika perhatian ini hilang, karena ketakutan, ideologi, atau hasrat kekuasaan, manusia tidak lagi berpikir dalam pengertian tersebut. Dengan kata lain, dominasi perang mungkin merupakan manifestasi dari keputusan eksistensial untuk menghindari tanggung jawab berpikir, yaitu menimbang nilai, konsekuensi, dan martabat kemanusiaan.
Artinya, berpikir yang memungkinkan manusia memahami keberadaannya secara utuh, telah berubah menjadi alat dominasi. Tindakan berpikir yang bertujuan membebaskan manusia, justru menjadi instrumen penindasan ketika tindakan tersebut terlepas dari dimensi etis. Manusia masih berpikir, tetapi dalam bentuk berpikir yang tereduksi menjadi teknis dan pragmatis, bukan proses yang meningkatkan martabatnya. Apakah benar demikian? Apakah ini hanya masalah “kelalaian” atau hanya perkara “metode”? Apakah artinya manusia layaknya pihak yang memasuki ruang yang sebenarnya tidak dikehendakinya?
Sebagian pihak tentu akan menilai bahwa cara berpikir yang demikian itu, terlalu menyederhakan dan kurang mampu menembus dimensi terdalam dari problem yang muncul. Mungkin memang sudah waktunya umat manusia memikirkan kembali keseluruhan perjalanan hidupnya. Pertanyaan-pertanyaan mendasar layak untuk diajukan dan dimungkinkan refleksi yang mendalam. Namun, sebagian yang lain, mungkin akan menyatakan bahwa perang dimungkinkan karena manusia bukan tidak mampu berpikir. Yang terjadi adalah penyimpangan dalam cara berpikir, atau bahkan kehendak untuk tidak berpikir. Dalam optik ini, tantangannya adalah bagaimana berpikir dengan cara yang benar: reflektif, etis, dan bertanggung jawab terhadap kemanusiaan secara menyeluruh, serta masa depannya.