Perundingan Gagal, Perang Lagi?

Sumber ilustrasi: Pixabay
13 April 2026 07.15 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [13.04.2026] Perundingan antara Iran dan Amerika Serikat yang berlangsung di Islamabad pada 11–12 April 2026 berakhir tanpa kesepakatan setelah sekitar 21 jam pembicaraan intensif, meninggalkan gencatan senjata dua minggu dalam kondisi rapuh. Kegagalan ini terjadi ketika kedua pihak tidak mampu menyepakati isu utama terkait program nuklir Iran yang menjadi inti konflik.

Perundingan tersebut melibatkan delegasi Amerika Serikat yang dipimpin oleh JD Vance dan delegasi Iran, dalam upaya meredakan konflik yang telah berlangsung lebih dari satu bulan. Bagi Amerika Serikat, keamanan berarti memastikan Iran tidak memiliki kemampuan menuju senjata nuklir, bahkan pada tingkat potensial. “Kami membutuhkan komitmen tegas bahwa mereka tidak akan mengupayakan senjata nuklir dan tidak akan mencari sarana yang memungkinkan mereka dengan cepat mewujudkan senjata tersebut,” ujar JD Vance usai perundingan.

Sebaliknya, Iran menegaskan bahwa program nuklir merupakan bagian dari hak kedaulatan untuk tujuan damai. Seorang pejabat diplomatik Iran menyatakan bahwa perundingan tidak gagal karena ambisi nuklir. “Iran tidak berupaya memperoleh senjata nuklir, tetapi memiliki hak atas energi nuklir untuk tujuan damai.”

Perbedaan ini membuat titik temu hampir tidak tersedia. Apa yang dianggap sebagai jaminan keamanan oleh satu pihak, dipahami sebagai pembatasan eksistensial oleh pihak lain. Dalam kondisi seperti ini, negosiasi tidak lagi berada pada level kompromi teknis, melainkan menyentuh batas terdalam dari apa yang dapat diterima oleh masing-masing negara tanpa mengubah dirinya sendiri secara fundamental.

Kegagalan perundingan juga dipengaruhi oleh keterkaitan isu nuklir dengan faktor lain, termasuk kontrol atas Selat Hormuz dan dinamika konflik regional yang melibatkan Israel dan kelompok di Lebanon. Setiap konsesi dalam satu isu berpotensi melemahkan posisi strategis di isu lain, sehingga ruang kompromi menjadi sangat terbatas.

Sebenarnya perundingan tidak lagi berada pada level teknis, melainkan telah menyentuh kepentingan strategis jangka panjang kedua belah pihak. Setiap pihak mempertahankan posisi awal karena konsekuensi dari setiap kompromi dinilai terlalu besar terhadap keseimbangan kekuatan.

Di sisi Amerika Serikat, proses pengambilan keputusan yang melibatkan koordinasi dengan Donald Trump dan pejabat lain membatasi fleksibilitas delegasi. Sementara itu, Iran membangun posisi dengan menekankan aspek hukum dan legitimasi internasional, serta menyatakan tetap terbuka untuk melanjutkan dialog meskipun belum ada kepastian waktu.

Dampak dari kegagalan ini terlihat pada meningkatnya ketegangan yang berpotensi berlanjut melalui tekanan ekonomi dan konflik tidak langsung. Di tingkat masyarakat, sikap terhadap konflik juga mengeras. “Kami tidak pernah menginginkan perang. Jika mereka mencoba memperoleh melalui perundingan apa yang gagal mereka capai di medan perang, hal itu sama sekali tidak dapat diterima,” ujar Mohammad Bagher Karami di Teheran.

Dalam jangka lebih panjang, perundingan kemungkinan akan kembali terjadi, tetapi dengan pola yang serupa. Selama tidak ada perubahan pada cara masing-masing pihak memahami keamanan dan kedaulatan, setiap upaya diplomasi akan bergerak dalam siklus yang sama: intensitas tinggi, kebuntuan, jeda, dan eskalasi dalam bentuk lain. (njd)

Sumber : https://apnews.com/article/iran-us-israel-trump-lebanon-april-12-2026-a8a0d22918fc3fb30bc3abf1cd5c5a13

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *