Planet Berbatu di Tempat Tak Lazim Ditemukan di Sistem Luar Angkasa

Sumber ilustrasi: Pixabay
17 Februari 2026 15.35 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [17.02.2026] Para astronom baru-baru ini menemukan sistem planet yang tidak biasa, di mana sebuah planet berbatu mengorbit jauh di luar lokasi yang biasanya ditempati planet gas. Temuan ini menentang pola pembentukan planet tradisional yang dikenal dari tata surya kita, di mana planet berbatu terbentuk lebih dekat ke bintang induk, sedangkan planet gas berkembang lebih jauh. Dalam tata surya, misalnya, sabuk asteroid memisahkan Mars yang berbatu dari Jupiter yang kaya gas.

Dalam sistem baru yang mengelilingi bintang katai merah LHS 1903, tiga planet pertama mengikuti pola ini. Namun demikian, sistem tersebut juga memiliki sebuah planet berbatu yang berada di tepi terluarnya, melewati orbit dua planet gas. Para peneliti melaporkan bahwa planet tersebut kemungkinan terbentuk setelah gas dalam cakram protoplanet habis digunakan, sebagaimana dijelaskan dalam studi yang dipublikasikan pada 12 Februari di jurnal Science.

Sistem ini menjadi contoh langka dari “sistem terbalik” di mana planet berbatu muncul di lokasi yang secara teoritis tidak sesuai. Thomas Wilson, penulis studi dan ilmuwan eksoplanet dari University of Warwick, menyatakan bahwa fenomena ini menjadikannya sistem yang unik karena planet berbatu biasanya tidak terbentuk jauh dari bintang induk, apalagi di luar orbit planet gas.

Selama pembentukan planet di tata surya, materi padat seperti debu dan logam berkumpul membentuk inti planet. Di wilayah yang jauh dari Matahari, bahan seperti air dan metana tetap padat karena suhu rendah, memungkinkan pembentukan inti raksasa yang kemudian menarik hidrogen dan helium, membentuk planet gas. Teori ini menjadi dasar model pembentukan planet yang selama ini digunakan.

Namun, Isabel Rebollido dari European Space Agency menjelaskan bahwa semakin banyak sistem eksoplanet yang berbeda ditemukan, semakin banyak teori yang harus direvisi. Setiap sistem memiliki kondisi unik yang dapat menimbulkan pengecualian dari pola tata surya.

Dalam studi terbaru, tim peneliti memantau LHS 1903 menggunakan data dari Transiting Exoplanet Survey Satellite antara 2019 hingga 2023. Saat planet melintas di depan bintang, cahaya bintang sedikit meredup. Data ini kemudian dianalisis dengan bantuan satelit CHEOPS untuk menentukan sifat-sifat planet.

Hasil penelitian menunjukkan ada empat planet yang mengorbit bintang tersebut, termasuk planet berbatu paling luar. Planet-planet ini kemungkinan tidak terbentuk bersamaan, melainkan berkembang satu per satu, sehingga perubahan lingkungan memengaruhi pertumbuhan planet berikutnya.

Wilson menambahkan bahwa pada saat planet paling luar terbentuk, gas di cakram protoplanet mungkin sudah habis. Kehadiran planet berbatu kecil di luar planet gas menjadi bukti awal bahwa planet dapat terbentuk dalam lingkungan yang miskin gas, menentang asumsi teori konvensional.

Tim juga menyingkirkan kemungkinan planet berbatu itu dulunya adalah planet gas yang kehilangan atmosfer akibat tabrakan atau bertukar posisi dengan planet gas lainnya.

Maximilian Günther, astrofisikawan ESA dan penulis studi, menyatakan bahwa banyak aspek pembentukan dan evolusi planet masih menjadi misteri. Temuan sistem unik ini memberikan petunjuk baru yang sesuai dengan tujuan utama misi CHEOPS, yaitu mempelajari sifat eksoplanet untuk memahami proses pembentukan planet secara lebih mendalam.

Temuan sistem LHS 1903 menunjukkan bahwa pembentukan planet lebih bervariasi daripada yang diperkirakan sebelumnya. Planet berbatu yang mengorbit di luar planet gas menegaskan bahwa faktor lingkungan lokal, seperti ketersediaan gas, memengaruhi cara planet terbentuk dan berkembang. Sistem ini menjadi bukti pertama yang mendukung kemungkinan planet muncul di lingkungan miskin gas.

Hasil studi ini juga menunjukkan pentingnya pengamatan eksoplanet dalam memperluas pemahaman kita tentang pembentukan sistem planet. Dengan sistem planet yang menantang model konvensional, astronom kini memiliki kesempatan untuk meninjau kembali teori pembentukan planet dan memperluas wawasan tentang berbagai kemungkinan evolusi sistem planet di galaksi.

Diolah dari artikel:
“Astronomers discover ‘unique inside-out system’ with a rocky planet far from where it belongs” oleh Skyler Ware.

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.livescience.com/space/planets/astronomers-discover-unique-inside-out-system-with-a-rocky-planet-far-from-where-it-belongs

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *