Sumber ilustrasi: Pixabay
19 Februari 2026 10.10 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [19.02.2026] Kanibalisme sering dipandang sebagai perilaku langka dan tidak wajar dalam dunia hewan. Namun demikian, dalam kelompok ular, perilaku ini ternyata bukan penyimpangan sesaat, melainkan pola evolusi yang muncul berulang kali sepanjang sejarah mereka. Sejumlah ilmuwan menemukan bahwa kanibalisme telah berkembang secara independen dalam berbagai garis keturunan ular dan kemungkinan memberikan keuntungan ekologis dalam kondisi tertentu.
Kajian terbaru yang dipublikasikan pada 2 November 2025 dalam jurnal Biological Reviews menganalisis lebih dari 500 laporan perilaku kanibalisme pada ular. Hasilnya menunjukkan bahwa praktik memakan sesama spesies telah berevolusi setidaknya 11 kali secara terpisah dalam pohon evolusi ular. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa kanibalisme bukan sekadar anomali, melainkan strategi adaptif yang muncul ketika kondisi lingkungan menuntut fleksibilitas.
Selama ini, laporan mengenai ular yang memakan sesamanya cenderung bersifat terpisah dan anekdotal. Akan tetapi kompilasi data berskala besar mengungkap bahwa fenomena tersebut jauh lebih luas daripada yang diperkirakan sebelumnya. Peneliti utama Bruna Falcão dari Universitas São Paulo menjelaskan kepada Live Science bahwa perilaku ini mungkin terlihat menjijikkan dari sudut pandang manusia, tetapi bagi ular, tindakan tersebut justru meningkatkan kebugaran ekologis dan menjadi strategi bertahan hidup.
Penelitian tersebut mengumpulkan 503 kasus kanibalisme yang melibatkan 207 spesies ular dari berbagai benua, baik di alam liar maupun di penangkaran. Semakin banyak data yang dikumpulkan, semakin jelas bahwa ular memiliki kecenderungan oportunistik dalam memilih sumber makanan, termasuk sesamanya.
Dalam dunia hewan, kanibalisme bukan fenomena baru. Beberapa spesies laba-laba dan belalang sembah diketahui mempraktikkannya, terutama dalam konteks reproduksi. Ahli biologi Xavier Glaudas, yang tidak terlibat dalam studi tersebut, menjelaskan kepada Live Science bahwa kanibalisme tersebar luas di kerajaan hewan dan sering kali memiliki penjelasan ekologis yang rasional.
Sebelumnya, perilaku ini dianggap maladaptif atau tidak menguntungkan bagi kelangsungan spesies. Namun demikian semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa kanibalisme dapat berfungsi sebagai mekanisme pengendalian populasi, respons terhadap kelangkaan sumber daya, pengaturan jumlah keturunan, atau sekadar bentuk predasi oportunistik.
Studi ini menemukan bahwa kanibalisme paling sering terjadi pada tiga famili besar ular: Colubridae, Viperidae, dan Elapidae. Famili Colubridae menyumbang sekitar 29% dari seluruh laporan, meskipun kelompok ini umumnya tidak dikenal sebagai pemangsa ular lain. Peneliti menduga tekanan lingkungan seperti kekurangan makanan menjadi pemicu utama pada kelompok ini.
Famili Viperidae mencakup sekitar 21% laporan, dengan banyak kasus terjadi di penangkaran. Kondisi ruang terbatas dan pasokan makanan yang tidak memadai diduga meningkatkan stres dan mendorong perilaku kanibalistik. Sementara itu, Elapidae—yang mencakup kobra—menyumbang sekitar 19% kasus. Pada kelompok ini, kanibalisme tidak terlalu mengejutkan karena beberapa anggotanya memang dikenal memangsa ular lain di alam liar.
Hampir separuh spesies ular kanibal memiliki pola makan generalis, yaitu tidak bergantung pada satu jenis mangsa tertentu. Fleksibilitas diet ini dinilai mempermudah munculnya kanibalisme saat kondisi mendesak. Meski demikian, Glaudas menyampaikan bahwa hubungan antara pola makan generalis dan kanibalisme masih memerlukan bukti yang lebih kuat karena persentase yang ditemukan belum cukup dominan.
Faktor anatomi juga memainkan peran penting. Ular yang mampu membuka rahang secara ekstrem memiliki peluang lebih besar untuk memangsa sesamanya. Tidak ditemukan laporan kanibalisme pada spesies yang tidak memiliki kemampuan membuka rahang lebar, menegaskan bahwa struktur morfologi menjadi prasyarat utama perilaku ini.
Analisis evolusioner menunjukkan bahwa kanibalisme tidak diwariskan dari satu nenek moyang tunggal, melainkan muncul secara independen dalam sedikitnya 11 cabang evolusi berbeda. Pola ini mengindikasikan bahwa tekanan seleksi yang serupa dapat menghasilkan solusi adaptif yang sama di berbagai garis keturunan.
Temuan ini menunjukkan bahwa kanibalisme pada ular merupakan strategi adaptif yang muncul berulang kali dalam sejarah evolusi mereka. Dalam kondisi lingkungan yang menekan, seperti keterbatasan makanan atau kepadatan populasi, memakan sesama spesies dapat menjadi pilihan yang meningkatkan peluang bertahan hidup. Fleksibilitas diet dan kemampuan anatomi membuka rahang lebar memperkuat kemungkinan munculnya perilaku tersebut.
Sebagai kelompok reptil yang berhasil menghuni hampir seluruh benua kecuali Antarktika, ular menunjukkan kapasitas adaptasi yang luar biasa. Kemunculan kanibalisme secara independen di banyak garis keturunan mencerminkan sifat oportunistik yang membantu mereka bertahan dalam berbagai kondisi ekologis. Kajian ini juga membuka peluang penelitian lanjutan untuk memahami sejauh mana perilaku tersebut berperan dalam dinamika populasi dan evolusi ular di masa depan.
Diolah dari artikel:
“Snakes keep evolving into cannibals — here’s what scientists think is going on” oleh Olivia Ferrari.
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.