Sumber ilustrasi: Pixabay
12 Januari 2026 08.45 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [12.01.2026] Polusi udara selama ini dikenal luas sebagai ancaman bagi kesehatan paru-paru dan sistem pernapasan. Namun, semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa dampaknya tidak berhenti di sana. Paparan udara tercemar ternyata juga berkaitan dengan berbagai gangguan kesehatan lain, termasuk kesehatan mata. Dalam beberapa dekade terakhir, peningkatan kasus gangguan penglihatan pada anak-anak, khususnya rabun jauh atau miopia, menjadi perhatian serius di berbagai negara, terutama di kawasan Asia Timur.
Miopia merupakan kondisi ketika mata kesulitan melihat objek yang berada pada jarak jauh. Gangguan ini telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Di China, lebih dari 80 persen remaja mengalami rabun jauh saat menyelesaikan pendidikan menengah, dengan sebagian di antaranya mengalami miopia berat. Selama ini, faktor genetik, kebiasaan menatap layar, serta kurangnya aktivitas luar ruang sering disebut sebagai penyebab utama. Akan tetapi, penelitian terbaru menambahkan satu faktor penting lain, yakni kualitas udara.
Sebuah studi berskala besar yang melibatkan hampir 30.000 siswa sekolah dasar hingga menengah atas di Tianjin, China, menemukan hubungan yang kuat antara tingkat polusi udara dan kesehatan penglihatan anak. Anak-anak yang tinggal dan bersekolah di wilayah dengan kualitas udara lebih baik cenderung memiliki penglihatan yang lebih baik dibandingkan mereka yang terpapar polusi lebih tinggi.
Penelitian ini berangkat dari survei miopia yang mengumpulkan data demografis, riwayat kesehatan, latar belakang keluarga, serta kebiasaan hidup anak-anak. Informasi tersebut mencakup pola tidur, konsumsi makanan, lingkungan sekolah, hingga aktivitas harian. Data kesehatan ini kemudian dipadukan dengan data lingkungan, termasuk tingkat polusi udara, ketersediaan ruang hijau, dan intensitas pencahayaan malam hari.
Untuk mengolah kumpulan data yang sangat besar dan kompleks tersebut, para peneliti menggunakan pendekatan pembelajaran mesin berbasis kecerdasan buatan. Model ini dilatih untuk mengenali faktor-faktor yang paling kuat hubungannya dengan kondisi mata. Hasil analisis menunjukkan bahwa dua jenis polutan menonjol sebagai faktor yang paling berkaitan dengan gangguan penglihatan, yaitu nitrogen dioksida dan partikel udara ultra-halus. Tingkat polutan yang lebih rendah berkorelasi dengan risiko miopia yang lebih kecil.
Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa polusi udara dapat memengaruhi kesehatan mata melalui berbagai mekanisme biologis. Salah satu dugaan utama adalah penyempitan pembuluh darah di retina akibat paparan polutan, yang dapat mengganggu suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan mata. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko perkembangan miopia, terutama pada anak-anak usia sekolah dasar yang dinilai lebih sensitif terhadap polusi lingkungan.
Selain itu, partikel polutan yang masuk ke mata dapat memicu iritasi dan peradangan. Ketika sel-sel mata mengalami kerusakan, sistem imun merespons dengan meningkatkan aliran darah ke area tersebut, menyebabkan kemerahan, pembengkakan, dan rasa gatal. Proses peradangan ini, jika berlangsung berulang atau kronis, dapat memengaruhi struktur dan fungsi mata.
Polusi udara juga berkontribusi pada stres oksidatif, yaitu kondisi ketika keseimbangan zat kimia dalam sel terganggu sehingga merusak jaringan. Baik peradangan maupun stres oksidatif telah lama dikaitkan dengan peningkatan risiko miopia. Selain melalui kontak langsung dengan mata, polutan yang terhirup melalui paru-paru dapat masuk ke aliran darah dan menyebar ke seluruh tubuh, termasuk ke mata, sehingga memperluas dampak kerusakan.
Model komputer yang dijalankan dalam penelitian ini juga mensimulasikan skenario perbaikan kualitas udara. Hasil simulasi menunjukkan bahwa penurunan tingkat polusi berpotensi mengurangi jumlah anak yang mengalami miopia berat. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa kualitas udara memainkan peran penting dalam kesehatan mata anak.
Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa hubungan yang ditemukan bersifat korelasional. Hubungan ini menunjukkan keterkaitan, tetapi belum dapat memastikan sebab-akibat secara langsung. Penelitian ini juga memiliki keterbatasan, seperti penggunaan data yang dilaporkan sendiri oleh responden serta pengukuran paparan polusi yang didasarkan pada lokasi sekolah, padahal anak-anak menghabiskan waktu di berbagai lingkungan lain.
Penelitian ini menunjukkan bahwa kesehatan mata anak dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling berinteraksi, dan kualitas udara muncul sebagai salah satu faktor penting yang selama ini kurang diperhatikan. Paparan polusi udara, khususnya nitrogen dioksida dan partikel ultra-halus, berkaitan dengan peningkatan risiko rabun jauh pada anak usia sekolah, terutama di wilayah dengan tingkat polusi tinggi.
Meskipun belum dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara pasti, temuan ini membuka peluang bagi upaya pencegahan baru. Penciptaan zona udara bersih di sekitar sekolah, pembatasan lalu lintas kendaraan saat jam sekolah, serta penggunaan pemurni udara di ruang kelas dapat menjadi langkah pelengkap dalam melindungi kesehatan mata anak. Secara lebih luas, peningkatan kualitas udara tidak hanya bermanfaat bagi paru-paru, tetapi juga berpotensi menjaga kualitas penglihatan generasi mendatang.
Diolah dari artikel:
“Air pollution might harm children’s eye health” oleh Payal Dhar
Note:
This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.snexplores.org/article/air-pollution-harm-vision