Sumber ilustrasi: Freepik
23 Maret 2026 10.25 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [23.03.2026] Para ilmuwan dan peramal iklim memprediksi bahwa fenomena El Niño berpotensi kembali muncul pada pertengahan tahun 2026, dengan kemungkinan berkembang menjadi “super El Niño” yang dapat mendorong suhu global ke tingkat ekstrem yang belum pernah terjadi sebelumnya. Prediksi ini muncul seiring dengan tanda-tanda berakhirnya fase La Niña yang saat ini masih berlangsung di Samudra Pasifik tropis.
Pusat Prediksi Iklim dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) memperkirakan peluang sebesar 62% bahwa El Niño akan terbentuk antara Juni hingga Agustus. Probabilitas ini menunjukkan bahwa kemunculan El Niño lebih mungkin terjadi dibandingkan tidak terjadi pada tahun ini.
El Niño merupakan bagian dari siklus alami El Niño-Southern Oscillation (ENSO), yaitu pola interaksi antara atmosfer dan suhu laut di kawasan Pasifik tropis. Pada fase ini, suhu permukaan laut di bagian timur Pasifik meningkat, yang kemudian memengaruhi pola angin dan arus atmosfer global.
Dampak dari El Niño tidak hanya terbatas pada wilayah Pasifik, tetapi juga memengaruhi sistem cuaca global. Fenomena ini biasanya menyebabkan kondisi lebih hangat dan kering di wilayah utara Amerika Serikat, serta meningkatkan risiko banjir di wilayah selatan dan pesisir Teluk.
Saat ini, sistem iklim global masih berada dalam fase La Niña, yang ditandai dengan suhu permukaan laut yang lebih rendah dari rata-rata. Namun, pemanasan laut yang sedang berlangsung menunjukkan bahwa fase ini akan segera berakhir dalam waktu dekat, membuka peluang bagi transisi menuju El Niño.
El Niño dipastikan terjadi apabila suhu permukaan laut meningkat setidaknya 0,5 derajat Celsius di atas rata-rata dalam periode tertentu. Dalam kondisi tertentu, peningkatan suhu dapat menjadi jauh lebih tinggi, sehingga memicu kategori “super El Niño” ketika anomali suhu mencapai sekitar 2 derajat Celsius di atas rata-rata.
Para peramal iklim menilai bahwa meskipun terdapat potensi El Niño dengan kekuatan sedang hingga kuat pada akhir tahun, tingkat intensitasnya masih belum dapat dipastikan. Probabilitas terjadinya super El Niño relatif kecil, namun tetap signifikan untuk diperhatikan dalam konteks perubahan iklim global.
Fenomena El Niño juga memiliki pengaruh terhadap aktivitas badai tropis. Aktivitas badai di Samudra Pasifik cenderung meningkat selama El Niño, sementara di Samudra Atlantik justru mengalami penurunan. Hal ini dapat mengubah dinamika musim badai secara keseluruhan.
Secara historis, siklus ENSO terjadi setiap dua hingga tujuh tahun, dengan durasi masing-masing fase berkisar antara sembilan hingga dua belas bulan. Akan tetapi, variabilitas alami sistem ini menyebabkan waktu dan durasi setiap fase tidak selalu konsisten.
Peristiwa El Niño terakhir terjadi pada periode 2023 hingga awal 2024, yang hampir mencapai kategori super El Niño namun tidak memenuhi syarat dikarenakan durasi suhu tinggi yang tidak cukup lama. Super El Niño sebelumnya tercatat terjadi pada 2015–2016.
Dampak El Niño sebelumnya turut berkontribusi pada peningkatan suhu global yang signifikan, dengan tahun 2024 tercatat sebagai tahun terpanas dalam sejarah pengamatan modern. Jika El Niño kembali terjadi pada 2026, suhu global diperkirakan akan meningkat, meskipun kemungkinan belum melampaui rekor tersebut.
Namun demikian, efek tertunda dari fenomena ini berpotensi membuat tahun 2027 menjadi kandidat kuat sebagai tahun terpanas berikutnya. Hal ini sejalan dengan pemahaman ilmiah bahwa respons suhu global terhadap ENSO biasanya memiliki jeda waktu.
Selain ENSO, tren pemanasan global akibat perubahan iklim tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi kenaikan suhu Bumi. Dengan kata lain, El Niño dapat memperkuat tren pemanasan yang sudah berlangsung, bukan menjadi satu-satunya penyebab.
Kemunculan El Niño pada 2026 berpotensi membawa dampak signifikan terhadap sistem iklim global, terutama jika berkembang menjadi super El Niño. Fenomena ini dapat memperkuat anomali suhu yang sudah meningkat akibat perubahan iklim, serta memengaruhi pola cuaca dan aktivitas badai di berbagai wilayah dunia.
Meskipun masih terdapat ketidakpastian terkait kekuatannya, kombinasi antara dinamika ENSO dan tren pemanasan global menunjukkan bahwa risiko peningkatan suhu ekstrem tetap tinggi dalam beberapa tahun ke depan, sehingga memerlukan perhatian dan kesiapsiagaan dari berbagai pihak.
Diolah dari artikel:
“‘Super El Niño’ could push global temperatures to unprecedented highs, forecasters say” oleh Patrick Pester. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.