

Desanomia Kampus Tani menggelar Forum Diskusi Panel yang bertajuk “Pertemuan Dua Tradisi”. Forum Diskusi Panel ini diselenggarakan di Ruang BA 201 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM pada hari Sabtu, 17 Mei 2025 (09.00 – 12.00 WIB). Audiensi ini menghadirkan penggerak Desanomia Kampus Tani, Guru Besar UGM dan UMY ( Prof. Dr. M. Baiquni, MA; Prof. Subejo, S.P., M.Sc., Ph.D; Prof. Dr. Tulus Warsito, M.Si; Prof. Drs. M. Mukhtasar Syamsuddin, M.Hum, Ph. D of Arts.), akademisi (Pinurba Parama Pratiyudha, S.Sos., M.A.), aktivis desa, dan perwakilan masyarakat desa termasuk Lurah dan Kepala Desa (Masduki Rahmad, S.I.P; Malik Khairul Anam; Sayudi Anom Jayadi).
Forum Diskusi ini lahir dari kegelisahan bahwa pengetahuan dan cara hidup komunitas basis (desa) seringkali mengalami marginalisasi oleh sistem pengetahuan yang tidak berasal dari cara hidup masyarakat itu sendiri. Tidak jarang pengetahuan komunitas basis (desa) yang berpedoman pada pengalaman, pengamatan, serta keterlibatan dengan alam dan sesama tergerus oleh program pembangunan, kebijakan pangan, perencanaan ruang, serta proyek sosial dan pendidikan yang seragam.
Dimulai dengan sambutan Ketua Pelaksana Desanomia Kampus Tani, Akbarian Rifki Syafaat dan dimoderatori oleh Rr. Putri Ana Nurani, S.S., M.M., pertemuan ini menghasilkan beberapa poin penting. Beberapa poin-poin hasil diskusi panel sebagai berikut:
- Desa memiliki posisi penting bagi upaya pembangunan berkelanjutan dan pilar ketahanan pangan sehingga pemikiran dan konteks lokalitasnya perlu diakui sebagai bagian dari produksi pengetahuan.
- Desa memerlukan otonomi dan rekognisi atas eksistensi serta pengetahuannya sebagai aktor pembangunan dan produsen pengetahuan yang tidak dipandang sebagai sekadar sebagai objek yang patuh dan dinegasikan prakarsanya.
- Diperlukan adanya hubungan komplementer antara desa dan akademisi untuk menciptakan harmonisasi pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan
Acara ini kemudian ditutup dengan pemahaman bersama bahwa desa merupakan entitas yang memiliki pengetahuan dan caranya sendiri dalam memanifestasikan kehidupannya. Sebagai upaya mengarusutamakan desa sebagai aktor yang juga memproduksi pengetahuan, acara-acara serupa nantinya akan diadakan di berbagai kampus untuk membangun pemahaman dan bersama melegitimasi epistemologi desa. Melalui kegiatan serupa, kami mengajak lebih banyak akademisi dan juga masyarakat desa untuk bertemu dalam satu forum sehingga terjadi pertukaran pengetahuan dan berharap bahwa keduanya saling menghargai pengetahuannya masing-masing agar nantinya tidak saling menegasikan dan mendominasi antara satu dan lainnya.
Untuk informasi mengenai kegiatan selanjutnya atau Desanomia lebih lanjut, silakan kunjungi media sosial Desanomia di Instagram dan TikTok @desanomia, serta di laman web desanomia.id. Untuk kontak secara langsung menghubungi contact person kami atas nama Akbarian Rifki Syafaat di nomor +62 851-5828-2323.