Produksi Pengetahuan dan Reproduksi Sosial (Bagian 3)

Sumber ilustrasi: Dokumentasi Pribadi

Oleh: Pinurba Parama Pratiyudha, S.Sos., M.A. dan Akbarian Rifki Syafa’at
6 November 2025 10.05 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Pada tulisan sebelumnya dikatakan bahwa pada tulisan kali ini akan berfokus untuk menjawab pertanyaan kedua yaitu bagaimana kemudian kita perlu melakukan transkonstruksi proses dua arah dari produksi pengetahuan dan reproduksi sosial? Serta kemudian juga bagaimana dunia akademik dan pendidikan merespons realitas tersebut?. Namun sepertinya perlu dijabarkan terlebih dahulu terkait permasalahan rill yang muncul dalam dunia produksi pengetahuan kita.

Bilamana kita coba memahami lebih mendalam mengenai bagaimana relasi produksi dan reproduksi pengetahuan ini berjalan sudah selayaknya perlu pemeriksaan mendalam mengenai bagaimana institusi pendidikan suatu bangsa berjalan. Meski perlu dipahami bilamana sejatinya institusi pendidikan yang selama ini berjalan dalam konteks Indonesia sangatlah masih didominasi oleh pendidikan formal (kampus dan sekolah). Masih sangat jarang di rekognisi pengetahuan masyarakat yang pada dasarnya pun merupakan produsen pengetahuan pula.

Tulisan mengenai hal tersebut telah diulas secara mendalam pada series tulisan akar desanomia mengenai pengetahuan kampus dan desa dengan tajuk pertemuan dua tradisi pemikiran. Tulisan mengenai produksi pengetahuan dan reproduksi pengetahuan bagian ketiga (3) ini akan bermula pada pertanyaan: bagaimana penulis melihat posisi pendidikan dan kebutuhan pasar atas tenaga kerja?

Beberapa pertanyaan yang sering muncul di isi kepala anak pendidikan menengah SMA di saat masa akhir sekolah antara lain: “kira-kira lulusannya akan jadi apa di masa depan?”, “Prospek jaminan kerjanya bagaimana?”. Pertanyaan tersebut berbanding dengan pertanyaan yang menanyakan mengenai “apa yang ingin kamu pelajari di sana?” “ilmu apa yang akan kamu kembangkan selama menempuh jenjang pendidikan tersebut?”. Rasanya menjadi semakin aneh, melihat dunia pendidikan kampus mulai bergeser peranya yang menurut penulis merupakan salah produsen pengetahuan menjadi “penyedia jasa peningkatan kapasitas calon tenaga kerja”. Bahkan tidak jarang penulis berpikiran jangan-jangan adanya pendidikan tinggi ini hanyalah sebuah cara penyelenggara negara untuk menahan lonjakan tenaga kerja terbuka agar dalam angka-angka di BPS jumlah pengangguran tidak terlihat tinggi. Pun sangat dirasa dalam hal yang lain, ijazah perguruan tinggi menjadi sebuah syarat wajib administratif untuk melamar kerja alih-alih menjadi sebuah simbolis telah berproses dalam produksi pengetahuan.

Pada dasarnya dalam sistem pendidikan tinggi ini juga telah dibagi menjadi dua (2) sebenarnya dimana ada program sarjana dan program diploma. Namun, hal yang cukup menjadi pertanyaan dalam standar akreditasi dua-duanya dituntut untuk menggambarkan gambaran prospek pekerjaan setelah lulus, tidak ada perbedaan yang berarti. Yang membedakan mungkin saja dengan gelarnya, namun sekarang tidak jarang keduanya memiliki gelar yang sama dengan tambahan .tr (terapan) sebagai penanda adanya pendalaman mengenai praktik pengetahuannya.  Proses refleksi tersebut semakin mendalam hingga pada akhirnya mencoba melihat pada bagian proses bukan pada akhirnya dengan pertanyaan “apakah, dalam praktiknya kesadaran untuk produksi dan reproduksi pengetahuan masih disadari oleh seluruh civitasnya?”. Atau kini esensi dari pendidikan sudah bergeser seperti yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara yaitu untuk manusiakan manusia menjadi yang lainya? Atau hal tersebut merupakan bentuk dari adaptasi dunia pendidikan dalam kenyataan bahwasanya manusia semakin banyak diperlukan label-label untuk tujuan tertentu?

Patut menjadi sebuah proses refleksi bersama mengenai pergeseran tersebut dalam wacana maupun praktik pendidikan kita saat ini. Salah satu jalan proses refleksi tersebut adalah memahami zaman. Di era semakin berkembangkan kehidupan ini dalam beragam faktor seperti ekonomi, sosial budaya, dan perkembangan teknologi banyak sendi-sendi kehidupan yang mencoba “beradaptasi” untuk dapat menyesuaikan dengan “jiwa zamannya”. Mungkin hal tersebut pun juga dialami dan dilakukan oleh institusi pendidikan tanpa disadari. Sebagai contoh dari faktor ekonomi saja. Dengan maraknya logika kapitalisme dan neoliberalisme pendidikan menjadi semacam sektor ekonomi yang menguntungkan. Sekolah/kampus berangsur-angsur merubah dirinya sebagai penyedia jasa, peserta didik dianggap sebagai konsumen, dan pendidikanlah yang menjadi komoditasnya. Menariknya semua berlomba-lomba untuk menjadi penyedia dengan beragam bentuk tersebut bukan dalam rangka inklusif melainkan untuk mencari niche yang masih “blue ocean”. Ditambah komoditas tersebut tidak ada habisnya dan semua orang seiring berjalannya waktu semakin membutuhkannya karena “pasarnya jelas”.

Kenyataan tersebut juga dilengkapi dengan semakin kentalnya budaya materialistik dan maupun kelas sosial. Manusia semakin dilihat apa yang dipakainya (re : gelarnya, asal pendidikannya, dll) bukan apa yang menjadi buah pikirannya Citra tersebut menjadikan hasil lebih penting dibandingkan dengan proses belajar. Sebagai seseorang yang mengamini pemikiran Ki Hajar Dewantara mengenai proses pendidikan itu dari 3K (Keluarga, Kelas, Komunitas). Kasunyatan tersebut tidak lepas dan berkelindan dengan peran orang tua dalam pendidikan. Mungkin hal-hal yang saling berhubungan ini tidak lepas dari ekspektasinya terhadap anak yang bergeser dari hasil angka (mungkin ini efek tekanan realistis)  alih-alih  menonjolkan pendidikan merupakan proses pematangan karakter anak. Sangat kompleks permasalahan dalam pendidikan ini karena semua serba berkelindan dalam seluruh relasi kehidupan manusia. Maka dari itu, persoalan pendidikan ini memang hal yang bersifat struktural. Tidak hanya bisa diselesaikan layaknya mematikan bara api. Dibutuhkan seperangkat solusi untuk menemukan jawaban, ataupun bertahap bukan langsung jawaban melainkan proses menuju jawaban tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *