Sumber ilustrasi: Freepik
16 Desember 2025 11.45 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [16.12.2025] Rambut beruban selama ini dipandang sebagai salah satu tanda paling jelas dari proses penuaan. Perubahan warna rambut dari gelap menjadi abu-abu atau putih kerap dikaitkan dengan menurunnya fungsi biologis tubuh seiring bertambahnya usia. Namun, pemahaman tersebut kini mulai bergeser seiring munculnya temuan ilmiah terbaru yang menunjukkan bahwa rambut beruban mungkin memiliki makna biologis yang jauh lebih penting.
Sejumlah penelitian terdahulu telah mengaitkan penuaan dengan akumulasi kerusakan DNA di dalam sel. Kerusakan ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari paparan sinar ultraviolet, radiasi, hingga zat kimia karsinogenik di lingkungan. Jika tidak dikendalikan, kerusakan DNA berpotensi berkembang menjadi kanker. Hal ini menyebabkan adanya berbagai mekanisme pertahanan tubuh untuk mencegah sel yang rusak berkembang secara tidak terkendali.
Sebuah studi terbaru memberikan sudut pandang baru dengan menunjukkan bahwa rambut beruban mungkin merupakan salah satu hasil dari mekanisme perlindungan tersebut. Alih-alih sekadar tanda kemunduran biologis, perubahan warna rambut diduga mencerminkan respons aktif tubuh dalam menurunkan risiko kanker.
Penelitian ini berfokus pada sel punca melanosit, yaitu sel induk yang bertanggung jawab menghasilkan melanin, pigmen yang memberi warna pada rambut. Sel punca ini berada di dalam folikel rambut dan secara normal akan terus memperbarui diri setiap siklus pertumbuhan rambut. Dalam kondisi sehat, sebagian sel punca akan berdiferensiasi menjadi sel matang yang memproduksi pigmen dan mewarnai helai rambut.
Rambut mulai beruban ketika sel punca melanosit tidak lagi mampu menyediakan pigmen dalam jumlah yang cukup. Hal ini terjadi ketika sel-sel tersebut memasuki kondisi penuaan sel atau cell senescence, yaitu keadaan ketika sel berhenti membelah sebagai respons terhadap stres atau kerusakan genetik. Penuaan sel ini diketahui berperan penting sebagai mekanisme antikanker karena mencegah penyebaran kesalahan genetik ke generasi sel berikutnya.
Dalam penelitian yang dilakukan pada tikus, para peneliti melacak perjalanan sel punca melanosit setelah terpapar berbagai bentuk stres lingkungan. Paparan tersebut meliputi radiasi pengion dan senyawa kimia karsinogenik yang umum digunakan dalam riset kanker. Hasilnya menunjukkan bahwa jenis stres yang dialami sel sangat menentukan arah respons biologis yang muncul.
Radiasi pengion memicu sel punca melanosit untuk berdiferensiasi secara cepat dan kemudian memasuki jalur penuaan sel. Akibatnya, cadangan sel punca di folikel rambut terkuras lebih cepat dari biasanya. Kondisi ini menghentikan produksi pigmen baru dan menyebabkan rambut kehilangan warnanya. Pada saat yang sama, penghentian pembelahan sel ini mencegah DNA yang telah rusak berkembang menjadi sel kanker.
Sebaliknya, paparan zat karsinogenik kimia tertentu justru mengaktifkan jalur seluler yang berbeda. Alih-alih memicu penuaan sel, jalur ini memungkinkan sel punca tetap aktif dan terus membelah, meskipun DNA di dalamnya telah mengalami kerusakan. Dampaknya, rambut tetap mempertahankan warnanya dalam jangka pendek, tetapi risiko jangka panjang berupa pembentukan tumor dan kanker meningkat akibat replikasi DNA yang rusak secara terus-menerus.
Temuan ini menunjukkan bahwa rambut beruban dan kanker kulit, seperti melanoma, bukanlah fenomena biologis yang terpisah. Keduanya merupakan hasil akhir yang berbeda dari respons sel punca terhadap stres dan kerusakan genetik. Dengan kata lain, hilangnya warna rambut dapat mencerminkan keberhasilan tubuh dalam mengorbankan fungsi kosmetik demi perlindungan terhadap penyakit yang lebih berbahaya.
Para peneliti menekankan bahwa hasil ini masih didasarkan pada model hewan. Meskipun demikian, mekanisme biologis dasar yang terlibat dianggap cukup relevan untuk ditelusuri lebih lanjut pada folikel rambut manusia. Penelitian lanjutan diharapkan dapat menjawab sejauh mana temuan pada tikus ini dapat diterapkan pada manusia.
Studi ini mengungkap bahwa rambut beruban bukan semata-mata tanda penuaan pasif, melainkan dapat menjadi indikator adanya mekanisme perlindungan aktif terhadap kanker. Dengan menghentikan pembelahan sel punca yang mengalami kerusakan DNA, tubuh mengurangi risiko terbentuknya tumor, meskipun konsekuensinya adalah hilangnya pigmen rambut.
Temuan tersebut membuka cara pandang baru dalam memahami hubungan antara penuaan, stres seluler, dan penyakit kanker. Rambut beruban kini dapat dilihat sebagai simbol kompromi biologis, ketika tubuh memilih keselamatan jangka panjang dibandingkan mempertahankan fungsi estetika semata.
Diolah dari artikel:
“Gray hair may have evolved as a protection against cancer, study hints” oleh Victoria Atkinson.
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.