Sumber ilustrasi: Pixabay
3 Februari 2026 09.50 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [03.02.2026] Penelitian arkeologi terus mengungkap bukti baru tentang bagaimana manusia purba mengekspresikan budaya dan identitasnya melalui seni. Selama bertahun-tahun, seni cadas tertua di dunia diyakini berasal dari Eropa dan dikaitkan dengan Neanderthal. Namun, penemuan terbaru dari Asia Tenggara mengubah pemahaman tersebut secara signifikan.
Para ilmuwan kini mengidentifikasi sebuah cetakan tangan prasejarah di sebuah gua di Sulawesi Tenggara, Indonesia, sebagai seni cadas tertua yang pernah diketahui. Karya ini berusia setidaknya 67.800 tahun, menjadikannya lebih tua dari seni cadas di Eropa dan bahkan mendahului kedatangan manusia modern ke wilayah tersebut.
Penemuan ini tidak hanya memperluas peta geografis seni prasejarah dunia, tetapi juga memberikan bukti awal keberadaan Homo sapiens di wilayah kepulauan antara Paparan Asia dan Australia. Gua tempat ditemukannya seni ini, Liang Metanduno, menyimpan lapisan sejarah panjang yang menunjukkan aktivitas manusia selama puluhan ribu tahun.
Cetakan tangan tersebut ditemukan di antara seni cadas lain yang lebih muda, menunjukkan bahwa gua Liang Metanduno digunakan sebagai ruang ekspresi visual oleh berbagai generasi manusia prasejarah. Berdasarkan analisis pertumbuhan kalsium karbonat atau “popcorn gua” yang menutupi pigmen, para peneliti dapat menentukan usia minimum dari karya seni tersebut. Metode ini mengandalkan fakta bahwa endapan mineral hanya dapat terbentuk setelah lukisan dibuat.
Ukuran cetakan tangan yang diteliti relatif kecil, namun detail jari dan telapak tangan masih dapat dikenali meskipun gambarnya telah memudar. Salah satu ciri unik dari karya ini adalah bentuk jari yang sengaja dibuat lebih ramping. Teknik tersebut diketahui hanya ditemukan pada seni cadas di Sulawesi dan membutuhkan keterampilan teknis yang tinggi. Kompleksitas ini memperkuat dugaan bahwa pembuatnya adalah Homo sapiens, bukan spesies manusia purba lain.
Selain cetakan tangan tertua tersebut, ditemukan pula cetakan tangan lain dengan pigmen lebih gelap yang berusia jauh lebih muda, sekitar 32.800 tahun. Jarak waktu yang sangat panjang antara kedua karya ini menunjukkan bahwa gua tersebut digunakan sebagai media seni setidaknya selama 35.000 tahun, memberikan gambaran bahwa tradisi artistik di Sulawesi berlangsung secara berkelanjutan dan diwariskan lintas generasi.
Penelitian ini juga mengaitkan seni cadas Sulawesi dengan jalur migrasi manusia modern menuju Australia. Posisi geografis Sulawesi dinilai strategis sebagai titik persinggahan penting dalam perjalanan laut dari Kalimantan menuju Papua Barat atau Pulau Misool, sebelum akhirnya mencapai benua Australia. Keberadaan seni cadas di jalur ini menunjukkan bahwa migrasi manusia tidak hanya berfokus pada bertahan hidup, tetapi juga membawa serta tradisi simbolik dan budaya.
Lebih jauh lagi, para peneliti membuka kemungkinan bahwa teknik pembuatan cetakan tangan, dengan menyemprotkan pigmen menggunakan mulut, dapat menyimpan sisa DNA manusia purba. Jika berhasil dianalisis, temuan tersebut berpotensi memberikan informasi genetik langsung tentang pembuat seni cadas tertua di dunia.
Penemuan seni cadas tertua di Sulawesi menandai tonggak penting dalam studi evolusi budaya manusia. Cetakan tangan berusia hampir 68.000 tahun ini tidak hanya melampaui usia seni cadas Eropa, tetapi juga memperkuat bukti bahwa Asia Tenggara memainkan peran kunci dalam sejarah awal Homo sapiens. Seni tersebut menunjukkan bahwa manusia modern telah memiliki kemampuan simbolik dan identitas budaya yang kuat jauh sebelum mencapai Australia.
Secara keseluruhan, temuan ini menggambarkan bahwa migrasi manusia purba merupakan proses kompleks yang melibatkan kreativitas, teknologi, dan ekspresi budaya. Seni cadas Sulawesi menjadi saksi bahwa manusia pertama yang menjelajahi lautan dan menetap di wilayah baru bukan sekadar penyintas, melainkan pencipta budaya dengan tradisi simbolik yang kaya dan berkelanjutan.
Diolah dari artikel:
“World’s oldest known rock art predates modern humans’ entrance into Europe — and it was found in an Indonesian cave” oleh Sophie Berdugo.
Note:
This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.