Sumber ilustrasi: Freepik
15 September 2025 08.45 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [15.09.2025] Fenomena bulan purnama selalu menarik perhatian, baik dari sudut pandang ilmiah maupun budaya. Setiap tahunnya, Bulan menampilkan siklus penuh yang terdiri dari dua belas fase purnama, masing-masing dengan karakteristik dan waktu kemunculan yang unik. Di tahun 2025, pengamat langit akan disuguhkan tidak hanya dengan bulan purnama rutin, tetapi juga tiga peristiwa supermoon serta dua gerhana bulan total yang dapat diamati dari berbagai belahan dunia.
Bulan purnama terdekat di tahun 2025 diperkirakan akan terjadi pada Senin, 6 Oktober, dan dikenal sebagai Harvest Moon. Penamaan ini merujuk pada bulan purnama yang paling dekat dengan titik ekuinoks musim gugur, yang pada tahun ini jatuh pada 22 September. Secara historis, bulan purnama ini membantu para petani dalam memperpanjang waktu panen mereka karena cahaya bulan yang konsisten muncul sekitar waktu matahari terbenam selama beberapa malam berturut-turut.
Bulan Harvest Moon tersebut juga menjadi supermoon pertama dari tiga rangkaian supermoon yang akan terjadi secara berurutan. Fenomena supermoon terjadi saat bulan mencapai titik terdekat dengan Bumi dalam orbit elipsnya (disebut perigee), dan bertepatan dengan fase purnama. Jarak bulan ke Bumi pada 6 Oktober diperkirakan sekitar 361.457 kilometer, sehingga akan tampak sedikit lebih besar dan lebih terang dibanding bulan purnama biasa.
Selama tahun 2025, akan ada total 12 bulan purnama, dengan jadwal sebagai berikut (waktu dalam UTC/EST):
13 Januari: Wolf Moon
12 Februari: Snow Moon
14 Maret: Worm Moon — disertai gerhana bulan total
12 April: Pink Moon
12 Mei: Flower Moon
11 Juni: Strawberry Moon
10 Juli: Buck Moon
9 Agustus: Sturgeon Moon
7 September: Corn Moon — disertai gerhana bulan total
6 Oktober: Harvest Moon — supermoon
5 November: Beaver Moon — supermoon
4 Desember: Cold Moon — supermoon
Dua gerhana bulan total yang akan terjadi masing-masing jatuh pada tanggal 13–14 Maret dan 7–8 September. Gerhana pertama akan berlangsung selama sekitar 65 menit, saat Bulan Worm Moon memasuki bayangan umbra Bumi dan menampilkan warna kemerahan yang khas. Fenomena ini akan terlihat jelas dari wilayah Amerika Utara dan Selatan. Sementara itu, gerhana kedua pada bulan Corn Moon akan berlangsung selama 82 menit dan paling optimal diamati dari Asia dan Australia.
Selain fase purnama, siklus bulan terdiri dari delapan fase utama yang berlangsung dalam satu siklus selama sekitar 29,5 hari. Dimulai dari fase new moon (bulan baru) saat Bulan berada di antara Bumi dan Matahari, hingga fase full moon (bulan purnama) ketika seluruh sisi bulan yang menghadap Bumi tampak terang. Siklus ini terus berulang sepanjang tahun, memengaruhi pola pasang surut laut dan beberapa tradisi budaya di berbagai masyarakat.
Pada tahun yang sama, akan terjadi dua gerhana matahari parsial, yakni pada 29 Maret dan 21 September, yang hanya bisa terjadi saat bulan baru.
Penamaan bulan purnama seperti Harvest Moon, Wolf Moon, dan lainnya berasal dari tradisi agrikultur masyarakat Amerika Utara dan telah digunakan selama berabad-abad untuk menandai musim serta aktivitas pertanian. Meskipun kini fungsinya telah bergeser ke arah observasi astronomis, nama-nama ini tetap menjadi pengingat keterkaitan antara fenomena langit dan kehidupan manusia di Bumi.
Fenomena supermoon juga menjadi sorotan karena menimbulkan ketertarikan visual yang kuat. Meski perbedaan ukuran bulan tidak begitu signifikan secara ilmiah, persepsi manusia terhadap bulan yang tampak lebih besar dan terang saat supermoon membuat fenomena ini sering diabadikan dalam fotografi astronomi maupun acara publik. Kombinasi antara supermoon dan gerhana bulan dalam satu tahun menambah nilai edukatif sekaligus estetika dalam pengamatan langit malam.
Selain aspek visual, kedua gerhana bulan yang akan terjadi di tahun 2025 juga memberikan peluang penting dalam pendidikan sains dan komunikasi astronomi. Melalui momen ini, masyarakat bisa belajar tentang dinamika orbit, bayangan Bumi, dan siklus sinodik bulan.
Pengamatan bulan purnama juga memiliki tantangan tersendiri. Cahaya terang yang dipancarkan bulan pada fase purnama bisa menyulitkan pengamatan detail permukaan menggunakan teleskop. Namun, momen bulan purnama saat terbit di ufuk timur, terutama saat senja, merupakan pemandangan yang menakjubkan dan cocok dinikmati dengan mata telanjang atau lensa kamera.
Tahun 2025 menawarkan beragam fenomena bulan yang menarik, mulai dari rangkaian bulan purnama bulanan, tiga supermoon berturut-turut, hingga dua gerhana bulan total yang dapat dinikmati dari berbagai belahan dunia. Dengan dimulainya supermoon pada Harvest Moon di bulan Oktober, tahun ini menjadi waktu yang ideal bagi para pengamat langit dan pecinta astronomi untuk mengabadikan momen-momen langka.
Informasi tentang tanggal dan karakteristik bulan purnama ini mengalami pembaruan setiap bulan berdasarkan hasil pengamatan astronomi terbaru, yang memastikan akurasi dalam perencanaan observasi langit.
Diolah dari artikel:
“Full moons of 2025: When is the next full moon?” oleh Jamie Carter dan Brandon Specktor.