Sumber ilustrasi: Unsplash
7 Januari 2026 14.15 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [07.01.2026] Beruang kutub dikenal sebagai predator puncak di wilayah Arktik yang mengandalkan anjing laut sebagai sumber makanan utama. Selama ini, perhatian ilmiah lebih banyak tertuju pada peran beruang kutub sebagai pemburu dan indikator perubahan iklim.
Namun demikian, beruang kutub tidak menghabiskan seluruh mangsanya. Hewan ini cenderung memakan bagian berlemak dari anjing laut dan meninggalkan sebagian besar jaringan lain yang masih dapat dimakan. Kebiasaan ini telah lama diamati, tetapi dampaknya terhadap ekosistem jarang dihitung secara menyeluruh.
Dalam ekosistem yang keras dan minim sumber daya seperti Arktik, setiap sumber makanan memiliki arti penting. Bangkai atau sisa makanan dari predator besar berpotensi menjadi penopang bagi banyak spesies lain yang bergantung pada peluang tersebut untuk bertahan hidup.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa sisa makanan beruang kutub ternyata berjumlah sangat besar dan berkontribusi signifikan terhadap ketersediaan pangan bagi pemakan bangkai di wilayah Arktik.
Dalam satu tahun, seekor beruang kutub diperkirakan meninggalkan sekitar 300 kilogram sisa makanan yang masih dapat dikonsumsi oleh hewan lain. Ketika angka ini dikalikan dengan seluruh populasi beruang kutub di Arktik, jumlahnya mencapai jutaan kilogram setiap tahun.
Para peneliti memperkirakan total sisa makanan yang ditinggalkan beruang kutub mencapai sekitar 7,6 juta kilogram atau lebih dari 8.000 ton. Daging sisa ini dikenal sebagai bangkai dan menjadi sumber energi penting dalam jaring-jaring makanan Arktik.
Sebagai predator puncak, beruang kutub memiliki peran tidak langsung dalam memberi makan banyak spesies lain. Tanpa aktivitas berburu beruang kutub, sumber makanan ini tidak akan tersedia bagi pemakan bangkai.
Penelitian ini dilakukan dengan menelaah data historis sejak tahun 1930-an, termasuk laporan pengamatan lapangan dan studi ilmiah mengenai perilaku pemakan bangkai di sekitar bangkai anjing laut.
Selain itu, para peneliti menganalisis kandungan energi dari anjing laut serta jumlah mangsa yang dikonsumsi beruang kutub setiap tahun. Dari data tersebut, diketahui bahwa pada puncak musim berburu, seekor beruang kutub membunuh sekitar satu anjing laut setiap tiga hingga lima hari.
Dalam setahun, jumlah mangsa ini setara dengan sekitar 1.000 kilogram berat tubuh anjing laut. Sekitar 70 persen dari berat tersebut dikonsumsi, sementara 30 persen sisanya tertinggal di lingkungan.
Dengan estimasi populasi sekitar 26.000 beruang kutub yang hidup di Arktik saat ini, sisa makanan yang dihasilkan menjadi sumber pangan dalam jumlah sangat besar bagi berbagai spesies lain.
Temuan ini dipublikasikan pada akhir Oktober dalam jurnal ilmiah Oikos dan menyoroti peran ekologi beruang kutub yang selama ini kurang diperhatikan.
Berbagai spesies diketahui memanfaatkan sisa makanan tersebut, termasuk rubah Arktik, burung camar, burung gagak, dan beruang kutub lainnya. Dalam kondisi tertentu, burung hantu salju, serigala, dan beruang grizzly juga ikut memakan bangkai tersebut.
Pengamatan lapangan menunjukkan bahwa rubah Arktik sering mengikuti jejak beruang kutub untuk menunggu saat mangsa ditinggalkan. Burung-burung laut juga berputar di udara, siap turun begitu beruang menjauh dari bangkai.
Banyak spesies pemakan bangkai tidak memiliki akses ke sumber makanan ini tanpa keberadaan beruang kutub. Dengan demikian, sisa makanan tersebut menjadi elemen penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem Arktik.
Akan tetapi, perubahan iklim menghadirkan ancaman serius. Pencairan es laut mengurangi area berburu beruang kutub dan memaksa hewan ini berenang jarak jauh untuk mencari mangsa.
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa beberapa beruang kutub harus menempuh perjalanan laut yang sangat melelahkan, bahkan hingga ratusan kilometer tanpa henti. Kondisi ini melemahkan tubuh dan meningkatkan risiko kelaparan.
Penurunan kondisi fisik beruang kutub berkontribusi pada menurunnya populasi di beberapa wilayah Arktik. Ketika jumlah beruang berkurang, jumlah sisa makanan yang tersedia bagi pemakan bangkai juga ikut menurun.
Analisis pada dua wilayah yang mengalami penurunan populasi beruang kutub menunjukkan hilangnya sekitar 323.000 kilogram bangkai setiap tahun. Selain itu, es yang semakin mencair dapat mempersulit hewan lain untuk menjangkau sisa makanan tersebut.
Dampak ekologis dari berkurangnya bangkai ini sulit diprediksi secara pasti. Besarnya pengaruh akan bergantung pada spesies yang terdampak dan lokasi di Arktik tempat perubahan tersebut terjadi.
Penelitian ini mengungkap bahwa beruang kutub memiliki peran penting tidak hanya sebagai predator puncak, tetapi juga sebagai penyedia sumber makanan utama bagi banyak spesies Arktik melalui sisa mangsa yang ditinggalkan. Dalam lingkungan ekstrem, bangkai tersebut menjadi penopang penting bagi kelangsungan hidup pemakan bangkai.
Penurunan populasi beruang kutub akibat perubahan iklim berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem Arktik secara luas. Berkurangnya sisa makanan dapat memicu dampak berantai pada berbagai spesies, menegaskan bahwa perlindungan beruang kutub berarti juga menjaga stabilitas jaring-jaring kehidupan di wilayah kutub.
Diolah dari artikel:
“Polar bears leave thousands of tons of food scraps for other species” oleh Gennaro Tomma.
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.snexplores.org/article/polar-bears-food-scraps-arctic