Sumber ilustrasi: Pixabay
4 Maret 2026 09.25 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [04.03.2026] Sekitar 95 juta tahun silam, pada periode Kapur, wilayah yang kini menjadi bagian dari Niger merupakan bentang alam sungai luas yang dihuni predator raksasa. Sebuah studi terbaru mengungkap keberadaan spesies baru Spinosaurus dengan jambul tinggi berbentuk bilah sabit dan layar besar di punggungnya, memperkaya pemahaman tentang evolusi serta perilaku kelompok dinosaurus unik ini.
Spesies tersebut dinamai Spinosaurus mirabilis, yang berarti “Spinosaurus yang menakjubkan”. Hasil riset yang dipublikasikan dalam jurnal Science pada 19 Februari menunjukkan bahwa hewan ini hidup jauh dari garis pantai, tepatnya di lingkungan sungai pedalaman. Temuan tersebut menjadi bagian penting dalam perdebatan panjang mengenai apakah Spinosaurus merupakan perenang aktif atau sekadar pemburu di perairan dangkal.
Penemuan fosil ini bermula pada 2019 ketika tim paleontolog yang dipimpin Paul Sereno dari University of Chicago, dengan bantuan pemandu Tuareg lokal, mencapai lokasi terpencil di Gurun Sahara. Fosil yang ditemukan memiliki ciri tidak biasa: tulang berwarna hitam akibat konsentrasi fosfat tinggi, fenomena yang jarang dijumpai di kawasan tersebut berdasarkan pengalaman lapangan selama puluhan tahun.
Pada tahap awal penelitian, tim kesulitan memahami susunan beberapa tulang yang tampak tidak lazim. Struktur jambul yang asimetris sempat membingungkan para peneliti karena tidak menyerupai ciri khas Spinosaurus yang telah dikenal sebelumnya.
Situasi berubah ketika ekspedisi lanjutan pada 2022 menemukan tengkorak dengan sebagian jambul masih melekat. Pemindaian CT dan pemodelan komputer memperlihatkan adanya jaringan pembuluh darah yang membatu di dalam struktur tersebut serta tekstur permukaan yang menunjukkan keberadaan selubung keratin semasa hidup. Analisis ini memperkirakan tinggi jambul dapat mencapai sekitar 50 sentimeter, menjadikannya salah satu struktur kepala tertinggi yang pernah tercatat pada dinosaurus pemakan daging.
Peneliti menafsirkan jambul tersebut berfungsi sebagai ornamen visual, kemungkinan untuk identifikasi individu, menarik pasangan, atau menunjukkan dominasi terhadap pesaing. Bentuknya yang mencolok dinilai lebih sesuai untuk komunikasi visual dibandingkan fungsi hidrodinamis.
Perdebatan mengenai kemampuan berenang Spinosaurus kembali mencuat melalui temuan ini. Genus Spinosaurus, termasuk kerabatnya seperti Spinosaurus aegyptiacus, selama beberapa tahun terakhir disebut-sebut sebagai predator akuatik yang mengejar mangsa di bawah air. Ciri gigi S. mirabilis yang saling mengunci antara rahang atas dan bawah memperkuat dugaan sebagai pemangsa ikan.
Akan tetapi, lokasi penemuan fosil di endapan sungai pedalaman, jauh dari lingkungan laut, serta asosiasinya dengan sauropoda berleher panjang, memberikan perspektif berbeda. Menurut interpretasi tim peneliti, Spinosaurus lebih tepat digambarkan sebagai predator semiakuatik yang berjalan di air dangkal, mirip burung bangau raksasa prasejarah. Layar besar di punggungnya diperkirakan menambah bobot tubuh dan mengurangi efisiensi berenang aktif, sehingga gaya hidup menyelam dalam kemungkinan kurang sesuai dengan anatominya.
Dalam analisis komparatif terhadap predator modern dan purba, bentuk tubuh S. mirabilis ditempatkan di antara hewan perairan dangkal seperti bangau dan penyelam akuatik seperti penguin. Pendekatan ini menunjukkan bahwa Spinosaurus mungkin memiliki adaptasi campuran, namun tidak sepenuhnya terspesialisasi sebagai perenang laut.
Penemuan Spinosaurus mirabilis di wilayah pedalaman Niger ini memperkaya pemahaman tentang keanekaragaman dan adaptasi Spinosaurus pada periode Kapur. Jambul sabit setinggi setengah meter serta layar besar di punggung menunjukkan bahwa evolusi kelompok ini tidak hanya dipengaruhi kebutuhan berburu, tetapi juga kemungkinan oleh faktor komunikasi visual dan seleksi seksual.
Secara keseluruhan, studi ini menegaskan bahwa Spinosaurus kemungkinan besar merupakan predator semiakuatik yang mengandalkan perairan dangkal sebagai habitat utama, bukan pemburu laut terbuka seperti yang sempat diperdebatkan. Temuan ini juga memperlihatkan bagaimana bukti fosil baru dapat mengubah interpretasi ilmiah yang telah lama berkembang.
Diolah dari artikel:
“95 million-year-old Spinosaurus had a scimitar-shaped head crest and waded through the Sahara’s rivers like a ‘hell heron'” oleh Kenna Hughes-Castleberry. [njd]
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.