Sumber ilustrasi: Freepik
8 April 2026 08.18 WIB – Akar
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Artikel terdahulu (Antara “Menuju Ke” dan “Menghindar Dari”) rupanya menimbulkan respon, dengan arah membuat refleksi yang lebih jauh, terkait dengan sifat dari kebenaran ilmu. Jika dua video yang dibahas, dibaca kembali dalam kerangka pemikiran ilmiah (keilmuan), maka keduanya tidak hanya memperlihatkan perbedaan makna gerak, tetapi juga mengungkap sifat dasar pengetahuan itu sendiri.
Pada video pertama, kita membentuk deskripsi bahwa X “menuju ke”, berdasarkan horison yang terbatas. Deskripsi ini bukan hasil spekulasi liar, melainkan inferensi yang sah dari data yang tersedia. Namun, sejak awal, deskripsi tersebut disadari sudah mengandung sifat tentatif: ia benar sejauh tidak ada informasi lain yang mengubahnya.
Ketika video kedua diajukan, horison diperluas, dan muncul deskripsi baru bahwa X “menghindar dari”. Dalam kerangka ilmiah, situasi ini tidak serta-merta menjadikan deskripsi pertama sebagai kesalahan mutlak, melainkan menunjukkan bahwa deskripsi tersebut bersifat tidak lengkap. Dengan kata lain, pengetahuan yang dihasilkan dari video pertama bukanlah keliru, tetapi terbatas oleh kondisi evidensialnya.
Dari sini terlihat bahwa pengetahuan tidak pernah berdiri dalam kekosongan, melainkan selalu bergantung pada data yang tersedia dalam suatu horison tertentu. Setiap klaim pengetahuan adalah fungsi dari kondisi tersebut. Maka, perubahan dalam horison—seperti tambahan informasi dalam video kedua—secara langsung membuka kemungkinan bagi restrukturisasi makna, tanpa harus memposisikan tahap sebelumnya sebagai sepenuhnya salah.
Dengan kesemuanya ini, kita seperti dipertemukan dengan sifat tentatif dari pengetahuan. Dalam kerangka keilmuan, sifat tentatif dari pengetahuan dapat dipahami sebagai konsekuensi logis dari struktur tersebut. Jika suatu klaim selalu bergantung pada keterbatasan data, maka secara prinsipil ia selalu terbuka terhadap revisi. Artinya, kemungkinan salah bukanlah kecacatan, tetapi kondisi inheren dari setiap pengetahuan yang berurusan dengan dunia empiris.
Analisis ini sejalan dengan prinsip bahwa suatu klaim ilmiah harus selalu terbuka terhadap kemungkinan disangkal. Dalam konteks dua video tersebut, deskripsi “menuju ke” dapat dipahami sebagai hipotesis awal yang kemudian diuji oleh perluasan data. Ketika data baru muncul, hipotesis tersebut tidak dihapus, tetapi diposisikan ulang dalam struktur penjelasan yang lebih memadai.
Namun, penting untuk dicatat bahwa revisi ini tidak bersifat arbitrer. Ia tidak terjadi karena preferensi subjektif, melainkan karena adanya perbedaan dalam kekuatan penjelasan. Deskripsi “menghindar dari” dalam video kedua memiliki daya jelaskan yang lebih tinggi terhadap pola gerak yang sama, karena mampu mengintegrasikan relasi kausal antara X dan anjing.
Meskipun demikian, kedua deskripsi tersebut tetap menunjukkan bahwa pengetahuan selalu bersifat perspektival. Apa yang dianggap sebagai penjelasan terbaik selalu bergantung pada sejauh mana horison telah diperluas. Tidak ada jaminan bahwa bahkan deskripsi dalam video kedua adalah final; selalu terbuka kemungkinan bahwa horison lain akan kembali mengubah pemahaman kita.
Dalam kerangka ini, pengetahuan tidak bergerak dari salah menuju benar secara linear, melainkan dari kurang memadai menuju lebih memadai. Setiap tahap mempertahankan validitasnya dalam batas tertentu, sambil tetap terbuka terhadap koreksi. Ini menunjukkan bahwa sifat dasar pengetahuan bukanlah kepastian mutlak, tetapi derajat kecukupan dalam menjelaskan fenomena.
Dari dua video tersebut, kita sebenarnya memperoleh model sederhana untuk memahami sifat dasar pengetahuan ilmiah: ia bersifat tentatif, bergantung pada horison, terbuka terhadap revisi, dan berkembang melalui peningkatan daya jelaskan. Pengetahuan bukanlah representasi final dari realitas, melainkan proses berkelanjutan dalam menstrukturkan pengalaman yang selalu dapat diperluas. [desanomia – 070426 – dja]