Sumber ilustrasi: Freepik
9 Juli 2025 15.35 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [09.07.2025] Kabar terbaru seputar ekonomi dunia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin (7/7) mengumumkan tarif impor baru sebesar 25% terhadap produk dari Jepang dan Korea Selatan. Selain itu, tarif dengan besaran bervariasi juga dikenakan pada 12 negara lainnya, dengan kebijakan ini dijadwalkan berlaku mulai 1 Agustus 2025.
Langkah ini diumumkan secara terbuka melalui surat yang diposting Trump di platform media sosialnya, Truth Social, yang ditujukan kepada para pemimpin negara-negara terkait. Dalam surat tersebut, Trump memperingatkan bahwa jika negara-negara ini membalas kebijakan dengan menaikkan tarif mereka sendiri, maka tarif dari AS akan ditambah setara dengan kenaikan yang dilakukan.
Jepang dan Korea Selatan bukan satu-satunya yang menjadi sasaran kebijakan proteksionis ini. Negara-negara seperti Myanmar dan Laos dikenakan tarif 40%, Kamboja dan Thailand 36%, Serbia dan Bangladesh 35%, Indonesia 32%, Afrika Selatan serta Bosnia dan Herzegovina 30%, dan Kazakhstan, Malaysia, serta Tunisia masing-masing 25%.
Dalam suratnya, Trump menyebutkan bahwa tarif tersebut adalah bentuk kemurahan hati, dimana dirinya menggunakan kata “only” sebelum mencantumkan besaran tarif. Meski adanya sorotan dimana terdapat kesalahan penyebutan gelar pejabat dalam surat kepada Bosnia dan Herzegovina, di mana Presiden perempuan Željka Cvijanović disebut sebagai “Mr. President”, menunjukkan kurangnya perhatian pada protokol diplomatik.
Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba menyayangkan keputusan tersebut dan menyebutnya sebagai “sangat disesalkan”, walaupun mengakui tarif yang diumumkan lebih rendah dari sebelumnya. Pemerintah Korea Selatan menyatakan akan mempercepat negosiasi perdagangan untuk menghindari dampak dari tarif yang berlaku tiga minggu ke depan.
Sementara itu Gedung Putih melalui juru bicara Karoline Leavitt menyatakan bahwa kebijakan ini adalah bagian dari “rencana perdagangan yang disesuaikan secara individual” dengan tiap negara.
Penerapan tarif ini memicu kekhawatiran di pasar keuangan. Indeks S&P 500 mengalami penurunan sebesar 0,8% dan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun naik menjadi hampir 4,39%, menandakan potensi kenaikan suku bunga KPR dan pinjaman kendaraan.
Trump mendasarkan kebijakan tarif ini pada status “keadaan darurat ekonomi”, yang memungkinkannya bertindak tanpa persetujuan Kongres. Namun, langkah ini sedang menghadapi tantangan hukum, setelah pengadilan perdagangan menyatakan bahwa ia telah melampaui wewenangnya.
Wendy Cutler, mantan pejabat Perwakilan Dagang AS yang kini menjabat di Asia Society Policy Institute, menyebut kebijakan tarif terhadap Jepang dan Korea Selatan sebagai “tidak menguntungkan”, mengingat peran strategis kedua negara dalam rantai pasok global seperti semikonduktor, energi, dan mineral kritis.
Di sisi lain, pengenaan tarif terhadap negara-negara BRICS dan sekutunya, dengan tambahan 10%, mencerminkan ketegangan geopolitik yang semakin meningkat. Trump juga masih memiliki perbedaan sikap dagang dengan Uni Eropa, India, dan China, di mana impor dari China sudah dikenai tarif hingga 55%.
Trump berkata bahwa penerimaan negara dari tarif ini akan digunakan untuk membiayai pemotongan pajak yang disahkan pada 4 Juli. Namun, para ekonom memperingatkan bahwa biaya tarif kemungkinan besar akan dibebankan kepada konsumen, karena importir dan pengecer seperti Walmart tidak mungkin menyerap seluruh beban tambahan tanpa menaikkan harga.
Langkah Presiden Trump untuk memberlakukan tarif secara sepihak dan menyampaikan keputusan melalui media sosial menandai penyimpangan dari protokol diplomatik dalam hubungan perdagangan internasional. Meski disampaikan dengan nada negosiasi terbuka, pendekatan ini lebih mencerminkan strategi tekanan daripada diplomasi.
Dengan hanya dua kerangka perjanjian dagang yang tercapai sejauh ini dari target 90 kesepakatan dalam 90 hari, efektivitas kebijakan ini masih dipertanyakan. Beberapa pihak menilai bahwa ini lebih banyak bersifat teatrikal dan politik ketimbang hasil nyata.
Sementara waktu menuju 1 Agustus berjalan dunia bersiap menyaksikan babak baru dari ketegangan perdagangan global yang dipicu oleh kebijakan proteksionis AS. Dampak ekonomi terhadap konsumen dan hubungan strategis AS di Asia menjadi taruhan utama dari manuver berisiko tinggi ini. (NJD)
Diolah dari artikel:
“Trump sets 25% tariffs on Japan and South Korea, and new import taxes on 12 other nations” oleh Josh Boak
Link: https://apnews.com/article/trump-japan-south-korea-tariff-25-2c725e8f06367e20f9300c1081ea4ec0