Sumber ilustrasi: Unsplash
30 Maret 2026 10.15 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [30.03.2026] Gelombang aksi protes bertajuk “No Kings” kembali terjadi di berbagai kota di Amerika Serikat dan menarik jutaan peserta. Aksi ini menjadi rangkaian ketiga dari demonstrasi nasional yang menentang kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump.
Penyelenggara memperkirakan lebih dari 8 juta orang ikut serta dalam aksi yang berlangsung pada Sabtu. Massa memprotes sejumlah kebijakan utama, termasuk keterlibatan dalam perang Iran, penegakan imigrasi yang ketat, serta meningkatnya biaya hidup.
Aksi tidak hanya berlangsung di kota-kota besar seperti Washington DC dan New York, tetapi juga menyebar ke kota-kota kecil di seluruh negeri. Demonstrasi serupa bahkan digelar di luar Amerika Serikat, termasuk di Paris dan London oleh warga Amerika yang tinggal di luar negeri.
Di ibu kota Washington DC, ribuan demonstran memenuhi kawasan National Mall dan Lincoln Memorial. Arus massa terlihat terus bergerak sepanjang sore, menciptakan salah satu konsentrasi demonstrasi terbesar dalam beberapa bulan terakhir.
Para peserta aksi membawa berbagai poster dan simbol protes, termasuk boneka yang menyerupai tokoh-tokoh pemerintahan. Tuntutan utama yang disuarakan adalah penggantian kepemimpinan serta pertanggungjawaban hukum bagi pejabat terkait.
Salah satu pusat perhatian aksi terjadi di Minnesota. Wilayah ini menjadi simbol perlawanan setelah insiden penembakan dua warga oleh agen imigrasi federal pada Januari yang memicu kemarahan publik.
Ribuan orang berkumpul di sekitar gedung Capitol negara bagian di St Paul. Sejumlah tokoh politik dari Partai Demokrat turut hadir untuk menyampaikan orasi kepada massa.
Aksi ini juga diwarnai penampilan musisi Bruce Springsteen yang membawakan lagu bertema protes terhadap kebijakan imigrasi. Kehadiran figur publik turut memperkuat pesan yang disampaikan dalam demonstrasi.
Selain di Washington dan Minnesota, New York City menjadi pusat kerumunan besar. Ribuan demonstran memenuhi Times Square dan kawasan Midtown Manhattan, memaksa aparat menutup sejumlah jalan utama untuk mengatur arus massa.
Partisipasi tokoh publik juga terlihat di kota ini, termasuk aktor Robert De Niro yang menilai pentingnya keterlibatan masyarakat dalam aksi protes. Pandangan tersebut mencerminkan kekhawatiran sebagian kalangan terhadap arah kebijakan pemerintah.
Ketegangan antara pemerintah dan para pengkritik juga terlihat dari pernyataan resmi Gedung Putih. Pihak pemerintah menilai aksi tersebut tidak signifikan dan hanya menarik perhatian media.
Di sisi lain, Presiden Trump sebelumnya menolak anggapan bahwa kebijakan pemerintahannya bersifat otoriter. Pemerintah berpendapat bahwa langkah-langkah yang diambil diperlukan untuk mengatasi krisis nasional.
Akan tetapi, kritik terus berkembang, terutama terkait penggunaan kekuasaan eksekutif. Sejak kembali menjabat pada Januari 2025, pemerintah memperluas kewenangan presiden melalui berbagai kebijakan, termasuk pengerahan Garda Nasional ke sejumlah kota.
Sejumlah analis menilai langkah tersebut berpotensi menimbulkan konflik dengan pemerintah negara bagian, terutama ketika kebijakan federal bertentangan dengan otoritas lokal.
Meskipun sebagian besar aksi berlangsung damai, beberapa insiden tetap terjadi. Di Los Angeles, aparat menangkap dua orang setelah terjadi serangan terhadap petugas federal yang menyebabkan cedera.
Polisi juga melakukan penangkapan di beberapa titik lain setelah demonstran tidak mematuhi perintah pembubaran. Dalam beberapa kasus, aparat menggunakan tindakan non-mematikan untuk mengendalikan situasi. Insiden serupa juga dilaporkan di Dallas, di mana bentrokan kecil terjadi antara demonstran dan kelompok tandingan yang mengganggu jalannya aksi.
Secara keseluruhan, meskipun terdapat gangguan di beberapa lokasi, penyelenggara menegaskan bahwa aksi berlangsung secara damai. Kehadiran aparat keamanan, termasuk Garda Nasional di beberapa negara bagian, turut menjadi bagian dari pengamanan.
Jumlah peserta yang mencapai jutaan orang menunjukkan peningkatan dibanding aksi sebelumnya pada Oktober yang juga menarik perhatian besar secara nasional. Partisipasi warga Amerika di luar negeri menambah dimensi global pada gerakan ini. Demonstrasi di kota-kota internasional menunjukkan bahwa isu yang diangkat memiliki resonansi luas di kalangan diaspora.
Gelombang protes “No Kings” mencerminkan meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap kebijakan pemerintahan Donald Trump, dengan jutaan orang turun ke jalan di berbagai kota sehingga menjadi salah satu mobilisasi massa terbesar dalam periode politik terkini di Amerika Serikat. Isu yang diangkat mencakup kebijakan luar negeri, imigrasi, hingga kondisi ekonomi, dan meskipun sebagian besar aksi berlangsung damai, ketegangan di beberapa lokasi menunjukkan bahwa perbedaan pandangan antara pemerintah dan para pengkritik masih kuat serta perdebatan mengenai arah kebijakan nasional kemungkinan akan terus berlanjut.
Sumber artikel:
“No Kings protests draw large crowds to rally against Donald Trump” oleh Sakshi Venkatraman.
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring world news closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.