Usaha Bersama sebagai Proses Berpikir Kolektif

Sumber ilustrasi: Unsplash

Oleh: Akbarian Rifki Syafa’at
Wakil Ketua Forum 2045

_________________________________________________________________________________________

Tulisan sebelumnya dengan tajuk Usaha Bersama : Gotong Royong Ekonomi Baru ternyata menimbulkan beragam respon. Respon-respon yang dilontarkan oleh teman-teman diantaranya seperti apa untungnya 1% maupun 40% dalam ide tersebut? bagaimana caranya? apakah mungkin hal tersebut bisa terjadi? dan pertanyaan-pertanyaan lainya yang mungkin justru dapat menjadi dasar kita untuk bergerak untuk semakin dalam dan menguji ide mempertemukan antara yang 1% dengan yang 40%. 

Mari kita bahas satu persatu respon-respon tersebut. Pertama, apa untungnya 1% maupun 40% dalam ide ini. Untuk membaca hal tersebut, mungkin baiknya kita membahas mengenai dasar pembenar apa yang memungkinkan suatu kemungkinan tersebut menjadi mungkin. Coba membayangkan tentang bagaimana seluruh umat manusia di dunia ini hidup bersama selama ini. Apa yang sebenarnya menjadikan masing-masing individu ini saling terhubung. Apa yang mendorong individu tersebut untuk akhirnya berkolektif. Berdasarkan hasil diskusi kami, hal tersebut dikarenakan pada dasarnya inti dari seluruh kegiatan manusia adalah untuk tetap bertahan hidup. Bertahan hidup merupakan hal paling mendasar yang mendorong manusia untuk berkolektif baik dalam skala kecil maupun dalam skala yang lebih besar. Dorongan, untuk hidup, mempertahankan hidup, dan kehidupan tersebut pun juga di jamin dalam konstitusi melalui pasal 28A UUD 1945. 

Lalu apa hubungannya dengan pertanyaan apa untungnya 1% dengan yang 40%? Jawabanya sesederhana baik 1% dan 40% memiliki kepentingan untuk tetap bertahan hidup tersebut. Yang 1% berbicara dalam konteks menjalankan usahanya, ia membutuhkan suatu ekosistem usaha yang sehat dan memungkinkan untuk bertumbuh. Sedang, yang 40% pun juga sama ia membutuhkan ruang untuk tumbuh dalam kehidupanya sehingga tetap dapat mempertahankan hidup. Mungkin pandangan ini adalah hal yang baru, karena relasi 1% dengan 40% lebih sering dianalisis melalui sudut pandang konflik, bukan persatuan tentang memandang masa depan bersama. Bukan untuk saling membantu, melalinkan untuk sama-sama melakukan usaha bersama dalam relasi setara karena pada dasarnya ini dalam rangka kepentingan yang sama yaitu untuk bertahan hidup.

Selanjutnya mengenai bagaimana caranya? Patut diakui, hal-hal yang terkesan sederhana, dalam praktiknya ia tidak sesederhana yang dibayangkan. Dalam konteks usaha bersama ini, tantangan pertama adalah tentang bagaimana merekognisi bahwasanya yang 40% ini merupakakan subjek aktif dalam sendi-sendi kehidupan. Bukan hanya mendorong untuk dijadikanya 40% ini menjadi subjek ekonomi saja sebagaimana dalam tulisan sebelumnya, perlu dilakukan upaya untuk mendorong pengakuan akan pikirannya (subjek epistemik). Pengakuan tersebut secara langsung akan mendorong perubahan peta permainan bahwasanya semua setara. Semua pemikiran adalah benar menurut groundnya masing-masing. Bukan ketidakmampuan berpikir, melainkan perbedaan cara berpikir saja sehingga semua benar apabila tidak memiliki ground proses berpikir yang sama. 

Mengapa pengakuan akan cara berpikir ini menjadi langkah penting dalam rangka usaha bersama 1% dan 40%. Ini akan mendorong adanya proses setara dalam kehidupan bersama yang selama pandangan saat ini pihak berlebihan harus membantu pihak kekurangan harus dirubah menjadi menjadi sebuah tindakan kerjasama setara. Kita dapat lihat dalam praktik-praktik dominan saat ini. 40% dipandang sebagai tenaga kerja, penerima bantuan, maupun objek pemberdayaan semata. Bukan pihak yang dianggap memiliki pikiran maupun tindakanya sendiri. Yang artinya, selama ini mungkin padangan mengenai upaya pengentasan kemiskinan maupun kesenjangan perlu digeser kiblat pandangnya agar lebih akurat. Inipun memperkuat bahwasanya menjadikan 40% sebagai bagian dari sistem ekonomi (subjek ekonomi) tanpa mengakui pikirannya pada hakikatnya adalah hanya memindahkan bentuk ketergantungan, bukan membangun kemandirian. Selama masih ada pihak yang dianggap “lebih tahu” oleh otoritas pengetahuan segala bentuk-bentuk keputusan akan selamanya elitis kendati risiko dari keputusan tetap ditanggung oleh pihak yang lebih lemah. Pengakuan epistemik 40% ini akan memperkuat posisinya untuk menjadi bagian dari sistem ekonomi (subjek ekonomi). Dengan diakui pikiranya, ia akan diakui keputusannya, lalu diakui risikonya yang dalam hal ini menjadi fondasi rasional usaha bersama. 

Gagasan mengenai usaha bersama 1% dengan yang 40% ini tentu tidak dimaksudkan sebagai jawaban akhir atas persoalan ketimpangan yang selama ini kita hadapi. Gagasan ini pada dasarnya adalah sebuah dorongan untuk mendorong kita semua mencoba segala kemungkinan yang dimungkinkan. Ajakan untuk mencoba dengan berani mendorong sebuah cara pandang baru untuk persoalan yang dirasa tidak selesai dengan cara pandang lama. Selanjutnya, gagasan ini berangkat dari kesadaran bahwa gagasan tersebut masih berada pada tahap fondasional, sehingga perlu terus diperdalam, diuji, dan dikritisi. Penambahan pembahasan dalam tulisan ini dimaksudkan untuk memperjelas landasan berpikir yang melatari gagasan tersebut, khususnya terkait pengakuan terhadap 40% sebagai subjek epistemik. Tanpa pendalaman ini, pembacaan terhadap usaha bersama berisiko kembali terjebak pada pendekatan teknokratis yang hanya memindahkan persoalan, bukan menyelesaikannya.

Lebih jauh, gagasan ini perlu ditempatkan sebagai bagian dari diskursus publik. Relasi antara 1% dan 40% membentuk usaha bersama bukanlah persoalan individu atau kelompok tertentu, melainkan menyangkut cara kita mamandang kehidupan bersama kedepan. Oleh karena itu, gagasan ini tidak cukup jika hanya berhenti sebagai refleksi personal atau wacana terbatas. Ia perlu diuji di ruang publik, dibenturkan dengan pengalaman, pengetahuan, dan kritik dari berbagai pihak. Diskursus publik di sini bukan dimaknai sebagai arena saling menegasikan, melainkan ruang kolektif untuk saling menguji ketahanan gagasan dan memperkaya sudut pandang.

Pada akhirnya, upaya memperdalam gagasan ini tidak lain merupakan bagian dari tugas bersama untuk memikirkan kembali bagaimana kita hidup bersama. Hidup bersama menuntut bukan hanya kerja bersama, tetapi juga proses berpikir bersama. Dalam konteks inilah pengakuan terhadap kesetaraan pikiran menjadi penting, sebab hanya melalui pengakuan tersebut usaha bersama dapat berdiri di atas relasi yang setara. Bukan demi kemenangan satu gagasan, melainkan demi kemungkinan kehidupan bersama yang lebih berkelanjutan bagi semua.

Sumber :

Diskusi bersama forum 2045

Catatan-catatan diskusi bersama oleh forum 2045

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *