Vampir Tak Akan Bisa Hidup Hanya dengan Darah? (Bagian 1)

Sumber ilustrasi: Pixabay

11 September 2025 13.55 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [11.09.2025] Vampir merupakan tokoh fiksi yang telah menghantui imajinasi manusia selama berabad-abad. Karakter seperti Count Dracula hingga Morbius dalam semesta Marvel menggambarkan makhluk haus darah yang abadi dan mengintai dalam gelap. Umumnya, vampir digambarkan memiliki gigi taring tajam yang digunakan untuk menggigit leher korban dan mengisap darah sebagai sumber energi utama.

Namun demikian, ketika dilihat dari sudut pandang ilmiah, pertanyaan muncul: apakah mungkin makhluk seperti vampir bisa hidup hanya dengan darah? Di alam liar, memang ada hewan-hewan yang mengonsumsi darah, seperti kelelawar vampir, nyamuk, kutu, beberapa jenis laba-laba, dan ngengat. Tapi semua makhluk tersebut memiliki anatomi dan fisiologi khusus yang mendukung pola makan ekstrem tersebut.

Berbeda dengan makhluk-makhluk tersebut, manusia dan primata lainnya tidak memiliki sistem biologis untuk mengandalkan darah sebagai makanan. Tubuh manusia telah berevolusi selama jutaan tahun untuk mencerna beragam jenis makanan, dari tumbuhan, biji-bijian, hingga daging. Karena itu, gagasan tentang manusia atau makhluk serupa yang bisa hidup hanya dengan darah memerlukan perubahan biologis yang drastis.

David Begun, seorang paleoantropolog dari Universitas Toronto, menjelaskan bahwa tidak ada satu pun primata yang dikenal di dunia nyata yang mampu bertahan hidup dengan mengonsumsi darah saja. Untuk bisa menjadi peminum darah sejati, makhluk seperti vampir perlu mengalami perubahan besar pada struktur mulut dan sistem pencernaannya.

Dalam budaya populer, vampir digambarkan mampu menembus kulit manusia dengan gigi taringnya. Tetapi secara anatomi, gigi taring manusia tidak dirancang untuk tugas tersebut. Menurut analisis Begun, taring manusia sudah sangat menyusut dan kini lebih menyerupai gigi depan (insisivus) daripada gigi tajam pemangsa.

Nenek moyang manusia dan primata lain dulunya memiliki gigi taring besar dan runcing yang dapat saling mengasah dengan gigi tetangga. Meski begitu, taring ini diyakini lebih berfungsi untuk pamer kekuatan atau pertahanan diri daripada untuk mengunyah atau menggigit daging. Dalam proses evolusi, ketika nenek moyang manusia mulai hidup dalam kelompok yang lebih kooperatif dan pertarungan fisik antarpejantan berkurang, ukuran gigi taring pun menyusut.

Kelelawar vampir juga memiliki air liur yang mengandung zat antikoagulan untuk mencegah pembekuan darah, memungkinkan darah mengalir terus dari luka kecil.

Untuk memiliki gigi tajam seperti vampir fiksi, manusia harus berevolusi ulang. Bahkan itu pun tidak cukup, karena gigi tersebut juga harus dirancang untuk tetap tajam secara permanen, seperti pada kelelawar vampir. Hewan ini memiliki insisivus atas tanpa lapisan enamel, sehingga tidak mudah aus dan mampu membuat sayatan kecil di kulit mangsanya secara efisien.

Kelelawar vampir juga memiliki air liur yang mengandung zat antikoagulan untuk mencegah pembekuan darah, memungkinkan darah mengalir terus dari luka kecil. Mereka tidak mengisap darah seperti vampir di film, melainkan menjilat darah yang keluar menggunakan lidah.

Konsep dalam film tentang vampir yang bisa menumbuhkan taring secara tiba-tiba pun bertentangan dengan realitas biologis. Gigi permanen manusia sudah terbentuk sejak awal dan tidak berubah bentuk sepanjang hidup. Bahkan pada hewan pengerat yang giginya tumbuh terus menerus, seperti tikus atau berang-berang, gigi tersebut tidak bisa tumbuh “sesuka hati”. Mereka harus terus mengikisnya agar tidak tumbuh berlebihan dan membahayakan diri sendiri.

Selain tantangan dari sisi gigi, ada pula masalah besar di sistem pencernaan. Darah sebenarnya tidak bergizi tinggi. Kandungan utamanya adalah air dan protein, sementara kalori yang terkandung relatif rendah. Dalam jangka panjang, jika hanya mengonsumsi darah, manusia akan mengalami malnutrisi berat.

Begun mengungkapkan bahwa sistem pencernaan manusia membutuhkan beragam nutrisi, vitamin, dan mineral, banyak di antaranya tidak ditemukan dalam darah. Sistem ini merupakan hasil evolusi dari nenek moyang omnivora yang mengonsumsi tumbuhan dan sesekali daging, seperti simpanse saat ini.

Usus panjang dan berkelok pada manusia berfungsi untuk mencerna serat tanaman yang kompleks, dibantu oleh mikroorganisme dalam saluran pencernaan yang membantu memecah makanan dan menyerap nutrien penting.

Diolah dari artikel:
“A real-life vampire probably couldn’t survive on blood alone” oleh Aaron Tremper.

Link: https://www.snexplores.org/article/real-vampire-couldnt-survive-blood-alone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *