Sumber ilustrasi: Pixabay
12 September 2025 13.45 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Sekitar 2,5 juta tahun lalu, manusia purba mulai lebih sering mengonsumsi daging. Kemudian, penemuan api memungkinkan mereka memasak makanan, membuat proses pencernaan lebih mudah. Dalam tahap selanjutnya, manusia mulai bercocok tanam dan mengonsumsi biji-bijian, yang lagi-lagi mendorong perubahan dalam sistem pencernaan.
Tubuh manusia pun mulai memproduksi enzim tambahan untuk mencerna pati, serta menyederhanakan struktur usus karena makanan semakin mudah dicerna. Proses ini mengarah pada sistem pencernaan yang sangat fleksibel dan dapat menerima beragam sumber makanan.
Bahkan orang dengan pola makan vegan pun tetap membutuhkan variasi makanan, seperti kacang-kacangan dan biji-bijian untuk memperoleh protein lengkap. Begun menekankan bahwa tidak ada satu jenis makanan tunggal yang bisa mencukupi seluruh kebutuhan nutrisi manusia, termasuk darah.
Memang, darah kaya akan zat besi, terutama dalam sel darah merah. Namun, mengonsumsi darah dalam jumlah besar justru berisiko. Tubuh manusia tidak memiliki mekanisme alami untuk mengeluarkan zat besi berlebih, sehingga akumulasi zat besi bisa menyebabkan kerusakan organ, gangguan saraf, hingga kematian.
Sementara itu, kelelawar vampir telah mengalami perubahan genetik yang memungkinkan tubuh mereka menyerap dan membuang zat besi secara efisien. Penelitian menunjukkan bahwa kelelawar ini kehilangan gen penghambat penyerapan zat besi di usus. Selain itu, sel usus mereka cepat mati dan terbuang, membantu pembuangan zat besi secara rutin.
Bakteri di usus kelelawar vampir juga berperan penting. Selain membantu memecah protein darah, mikroba ini mungkin juga berkontribusi dalam menghasilkan vitamin yang tidak terdapat dalam darah, hal yang tidak terjadi dalam sistem pencernaan manusia.

Alasan mengapa kelelawar vampir mulai mengonsumsi darah masih belum jelas. Salah satu hipotesis menyebutkan bahwa nenek moyang mereka mungkin memakan parasit seperti kutu, lalu mulai menjilat darah dari luka yang ditinggalkan parasit tersebut.
Apa pun penyebab awalnya, jelas bahwa manusia tidak memiliki jalur evolusi yang sama. Mengubah pola makan suatu spesies bukanlah proses instan, tetapi butuh waktu puluhan ribu hingga jutaan tahun evolusi alami. Hal ini sangat berbeda dengan cerita fiksi di mana satu gigitan bisa langsung menciptakan vampir baru.
Meski dari sisi ilmiah hal ini tidak masuk akal, hal tersebut tak harus mengurangi kesenangan dalam menikmati cerita vampir. Begun menyarankan bahwa tidak masalah untuk tetap menikmati film dan serial vampir, selama kita menyadari bahwa itu hanyalah fiksi.
Studi dan pemahaman ilmiah menunjukkan bahwa kemungkinan makhluk seperti vampir sungguhan hidup hanya dengan darah sangatlah kecil, jika tidak mustahil. Gigi manusia tidak cocok untuk menggigit mangsa, sistem pencernaannya tidak mampu mengolah darah secara efisien, dan kebutuhan nutrisi manusia jauh lebih kompleks dibandingkan apa yang bisa diberikan oleh darah. Bahkan kelelawar vampir pun membutuhkan evolusi genetik khusus selama jutaan tahun untuk bisa bertahan hidup dengan pola makan tersebut.
Dengan demikian, transformasi manusia menjadi makhluk peminum darah seperti yang digambarkan dalam film memerlukan pembalikan evolusi yang mendalam dan mustahil terjadi dalam waktu singkat. Walaupun kisah vampir tetap menjadi hiburan menarik dalam budaya populer, sains memberikan penjelasan mengapa vampir tidak mungkin menjadi kenyataan dalam dunia biologis kita.
Diolah dari artikel:
“A real-life vampire probably couldn’t survive on blood alone” oleh Aaron Tremper.
Link: https://www.snexplores.org/article/real-vampire-couldnt-survive-blood-alone