Sumber ilustrasi: Freepik
4 Juli 2025 07.40 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [04.07.2025] Vitamin C selama ini dikenal luas sebagai nutrisi penting dari buah dan sayuran segar kini mendapatkan perhatian dari para peneliti. Dari penelitian terbaru dari Jepang menunjukkan bahwa vitamin ini tidak hanya berperan dalam menjaga kesehatan tubuh secara umum, namun juga memiliki potensi besar dalam menjaga ketebalan kulit yang merupakan salah satu indikator penting dalam proses penuaan.
Para peneliti menemukan bahwa vitamin C mampu meningkatkan ketebalan epidermis, lapisan luar kulit, pada model kulit manusia yang dikembangkan di laboratorium. Efek tersebut terjadi melalui reaktivasi gen-gen yang terkait dengan pertumbuhan dan proliferasi sel. Menariknya, konsentrasi vitamin C yang digunakan dalam studi ini serupa dengan kadar alami yang beredar dalam aliran darah manusia.
Penelitian ini dipimpin oleh ilmuwan farmasi Yasunori Sato dari Universitas Hokuriku, dan menunjukkan potensi baru vitamin C dalam bidang dermatologi molekuler, khususnya sebagai agen anti-aging. Temuan ini dipublikasikan dengan keterlibatan tim dari Tokyo Metropolitan Institute for Geriatrics and Gerontology.
Menurut ahli biologi Akihito Ishigami dari institusi tersebut, vitamin C menunjukkan pengaruh langsung terhadap struktur dan fungsi epidermis, terutama dengan mengendalikan pertumbuhan sel-sel keratinosit, yakni sel utama pembentuk kulit.
Dalam studi ini, para ilmuwan berfokus pada apakah vitamin C dapat mendorong proliferasi dan diferensiasi sel melalui mekanisme epigenetic, yakni perubahan aktivitas gen tanpa mengubah urutan DNA-nya?
Fakta bahwa kulit manusia yang sehat mengandung kadar vitamin C tinggi menjadi petunjuk awal yang mendasari eksperimen ini. Sebaliknya, kadar vitamin C cenderung menurun pada kulit yang menua atau rusak akibat sinar ultraviolet (UV). Selama ini, vitamin C telah diketahui membantu produksi kolagen, menangkal radikal bebas, dan mengurangi kerusakan akibat UV.
Studi ini melangkah lebih jauh dengan menelusuri keterlibatan vitamin C dalam proses demetilasi DNA atau dalam kata lain penghilangan gugus metil dari DNA, yang berperan dalam mengatur ekspresi gen secara stabil. Penambahan atau pengurangan gugus metil bertindak sebagai sakelar molekuler yang bisa menghidupkan atau mematikan gen.

Hingga kini, peran demetilasi dalam proses diferensiasi keratinosit belum banyak dijelaskan secara mendetail. Penelitian ini membuka pintu ke pemahaman yang lebih dalam terkait bagaimana vitamin C dapat memodifikasi ekspresi gen dalam sel kulit.
Untuk menguji hipotesis tersebut, para peneliti menumbuhkan keratinosit manusia dalam cawan petri. Mereka menciptakan model kulit dengan bagian atas terbuka terhadap udara dan bagian bawah diberi larutan nutrisi seperti kondisi kulit manusia secara alami.
Vitamin C ditambahkan ke dalam larutan nutrisi pada konsentrasi yang setara dengan yang biasa ditemukan dalam peredaran darah. Kelompok pembanding tidak diberi vitamin C sebagai kontrol. Setelah tujuh hari, lapisan epidermis yang diberi vitamin C terlihat lebih tebal dibanding kelompok kontrol, meskipun tidak ada perbedaan signifikan pada lapisan stratum korneum (lapisan kulit mati paling atas).
Menariknya, pada hari ke-14, lapisan epidermis semakin menebal, sementara stratum korneum justru terlihat menipis. Hal ini menunjukkan bahwa vitamin C mendorong pertumbuhan sel-sel baru dari bawah, bukan hanya menumpuk lapisan sel mati di atas. (bersambung)
Diolah dari artikel:
“Common Vitamin Could Be The Secret to Younger-Looking Skin Health” oleh Michelle Starr.
Link: https://www.sciencealert.com/common-vitamin-could-be-the-secret-to-younger-looking-skin