Waktu Makan Berperan Penting dalam Menjaga Berat Badan?

Sumber ilustrasi: Pixabay
12 April 2026 19.05 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [12.04.2026] Selama ini, upaya menjaga berat badan sehat lebih banyak difokuskan pada jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi. Kini, perkembangan penelitian terbaru menunjukkan bahwa waktu makan juga merupakan faktor penting yang tidak bisa diabaikan. Studi yang dilakukan oleh Barcelona Institute for Global Health mengindikasikan bahwa kebiasaan makan yang selaras dengan ritme biologis tubuh dapat berkontribusi terhadap indeks massa tubuh (BMI) yang lebih rendah.

Penelitian tersebut melibatkan lebih dari 7.000 individu berusia antara 40 hingga 65 tahun yang tergabung dalam kohort GCAT | Genomes for Life. Data awal dikumpulkan pada tahun 2018 melalui survei yang mencakup informasi terkait kondisi fisik, pola makan, gaya hidup, serta latar belakang sosial ekonomi. Pendekatan ini memberikan gambaran komprehensif mengenai kebiasaan hidup peserta.

Lima tahun setelah pengumpulan data awal, lebih dari 3.000 peserta kembali menjalani evaluasi lanjutan. Peneliti mencatat perubahan berat badan serta memperbarui informasi mengenai kebiasaan makan dan gaya hidup. Data longitudinal ini memungkinkan identifikasi pola yang konsisten terkait hubungan antara waktu makan dan perubahan berat badan.

Temuan awal menunjukkan bahwa kebiasaan memperpanjang durasi puasa malam dan mengonsumsi sarapan lebih awal berkaitan dengan BMI yang lebih rendah. Pola ini diduga bekerja karena kesesuaiannya dengan ritme sirkadian, yaitu sistem internal tubuh yang mengatur berbagai proses fisiologis sepanjang siklus harian.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa individu yang mengakhiri makan lebih awal di malam hari dan memulai makan lebih awal di pagi hari cenderung memiliki pengaturan metabolisme yang lebih optimal. Kondisi ini memungkinkan tubuh membakar kalori dengan lebih efisien serta mengatur rasa lapar dengan lebih baik, sehingga membantu menjaga berat badan.

Peneliti juga menemukan bahwa durasi puasa malam yang lebih panjang memiliki kaitan dengan hasil yang lebih baik dalam menjaga BMI. Efek ini tidak berdiri sendiri, akan tetapi berkaitan erat dengan waktu makan yang lebih awal. Kombinasi kedua kebiasaan tersebut menjadi faktor penting dalam mendukung keseimbangan energi tubuh.

Analisis berdasarkan jenis kelamin menunjukkan adanya perbedaan signifikan. Perempuan dalam studi ini cenderung memiliki BMI lebih rendah, lebih konsisten mengikuti pola makan sehat seperti diet Mediterania, dan memiliki kebiasaan konsumsi alkohol yang lebih rendah. Di sisi lain, kelompok ini juga menghadapi tantangan berupa kondisi kesehatan mental yang relatif lebih rendah serta tanggung jawab domestik yang lebih tinggi.

Melalui pendekatan analisis klaster, peneliti mengidentifikasi kelompok kecil laki-laki dengan pola makan yang berbeda. Kelompok ini cenderung menunda makan pertama hingga siang atau sore hari serta menjalani puasa dalam durasi panjang. Namun, pola ini tidak diikuti oleh gaya hidup sehat, karena kelompok tersebut lebih sering merokok, mengonsumsi alkohol, kurang aktif secara fisik, dan jarang mengikuti pola makan seimbang.

Penelitian ini juga menyoroti praktik puasa intermiten, khususnya yang dilakukan dengan melewatkan sarapan. Temuan menunjukkan bahwa pendekatan tersebut tidak memberikan keuntungan signifikan dalam pengendalian berat badan jika dibandingkan dengan metode pengurangan kalori secara umum. Dalam beberapa kasus, kebiasaan melewatkan sarapan justru berkaitan dengan pola hidup yang kurang sehat.

Studi ini menjadi bagian dari bidang penelitian yang dikenal sebagai chrononutrition, yang menekankan pentingnya waktu makan dalam kaitannya dengan kesehatan. Bidang ini berangkat dari pemahaman bahwa pola makan yang tidak teratur dapat mengganggu ritme sirkadian dan berdampak pada fungsi metabolisme tubuh.

Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa makan lebih awal, baik untuk sarapan maupun makan malam, berkaitan dengan risiko yang lebih rendah terhadap penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2. Hasil ini semakin memperkuat hipotesis bahwa waktu makan memainkan peran penting dalam menjaga kesehatan jangka panjang.

Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa kebiasaan makan lebih awal dan memperpanjang puasa malam memiliki potensi untuk membantu menjaga berat badan melalui penyesuaian dengan ritme biologis tubuh. Praktik seperti melewatkan sarapan tidak menunjukkan manfaat yang sama dan bahkan dapat berkaitan dengan gaya hidup kurang sehat. Temuan ini menegaskan bahwa waktu makan merupakan faktor penting selain jenis makanan dalam menentukan kesehatan, meskipun diperlukan penelitian lanjutan untuk memperkuat bukti yang ada.

Diolah dari artikel:
“Two simple eating habits linked to lower weight, study finds” oleh Barcelona Institute for Global Health (ISGlobal). (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/04/260411090018.htm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *