Mengapa Kucing dan Anjing Makan Rumput?

Sumber ilustrasi: Pixabay

13 Agustus 2025 09.50 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [13.08.2025] Perilaku kucing dan anjing yang sesekali memakan rumput telah lama menjadi teka-teki bagi para pemilik hewan peliharaan. Fenomena ini terlihat semakin aneh jika mengingat bahwa kucing merupakan hewan karnivora sejati, sementara anjing juga tidak memiliki sistem pencernaan yang didesain untuk mengolah tumbuhan berserat tinggi. Meski demikian, perilaku ini cukup umum dan seringkali menimbulkan kekhawatiran atau spekulasi.

Beberapa teori populer menyebut bahwa hewan memakan rumput untuk mengatasi gangguan pencernaan, mengeluarkan gumpalan bulu, atau memperoleh nutrisi tertentu. Namun, meski banyak dibicarakan, bukti ilmiah untuk mendukung teori-teori ini masih terbatas. Banyak anggapan lama bahkan dianggap sebagai mitos atau cerita rakyat yang belum teruji.

Menurut pengamatan dokter hewan dari Stack Veterinary Hospital di Syracuse, New York, perilaku memakan rumput terlihat pada kucing dan anjing, namun keduanya tidak memiliki struktur pencernaan yang mendukung konsumsi tanaman dalam jumlah besar. Hewan pemakan rumput seperti sapi memiliki bakteri usus khusus serta saluran pencernaan yang kompleks untuk mencerna selulosa, sesuatu yang tidak dimiliki oleh kucing maupun anjing.

Salah satu penjelasan yang sering disampaikan adalah bahwa hewan makan rumput ketika merasa mual atau ingin memuntahkan sesuatu. Akan tetapi, dalam studi tahun 2008 yang melibatkan 1.571 pemilik anjing menunjukkan bahwa hanya 8% dari anjing yang memakan tanaman menunjukkan tanda-tanda sakit sebelumnya, meskipun 68% dari mereka melakukannya secara rutin, baik harian maupun mingguan. Hal serupa juga terlihat dalam dua survei tahun 2021 yang meneliti perilaku kucing. Hanya 6% hingga 9% dari kucing yang tampak sakit sebelum makan rumput, walaupun sebagian besar memang muntah setelahnya.

Penelitian juga menguji dugaan bahwa kucing berbulu panjang lebih sering makan rumput untuk membantu mengeluarkan hairball. Namun, hasilnya tidak menunjukkan perbedaan berarti antara kucing berbulu panjang dan pendek dalam kebiasaan ini. Artinya, teori tentang hubungan langsung antara hairball dan konsumsi rumput belum dapat dibuktikan secara ilmiah.

Menariknya, perilaku makan rumput juga ditemukan pada kucing dan anjing liar, termasuk serigala dan kucing besar. Hal ini menimbulkan hipotesis bahwa perilaku tersebut merupakan naluri alami yang diwariskan. Beberapa peneliti menduga bahwa hewan liar memakan rumput untuk membersihkan usus dari parasit. Meski secara teori masuk akal, pembuktiannya sulit dilakukan, terutama karena hewan peliharaan modern jarang memiliki infeksi cacing dalam jumlah besar.

Ada juga pendapat yang menyebutkan bahwa rumput bisa menyediakan mikronutrien seperti vitamin B. Namun, menurut pakar dari Texas A&M College of Veterinary Medicine, hal ini tidak berlaku untuk hewan yang sudah mendapatkan makanan lengkap dan bergizi. Kecuali jika ada kondisi medis tersembunyi, kebutuhan nutrisi tambahan seharusnya sudah terpenuhi lewat pakan.

Secara umum, jika hewan peliharaan hanya sesekali makan rumput dan tidak menunjukkan gejala sakit, perilaku tersebut dianggap tidak berbahaya. Namun, jika frekuensi konsumsi meningkat tajam atau selalu diikuti oleh muntah, hal itu bisa menjadi tanda masalah kesehatan yang perlu ditangani.

Penelitian lebih lanjut mengenai topik ini cukup terbatas karena tidak dianggap sebagai masalah kesehatan utama. Fokus dunia kedokteran hewan umumnya tertuju pada penyakit yang lebih serius, sehingga perilaku seperti makan rumput jarang menjadi prioritas studi.

Salah satu penjelasan yang cukup masuk akal adalah bahwa hewan peliharaan memakan rumput karena menyukai rasanya, merasa terstimulasi, atau sedang menjelajahi lingkungannya yang berarti tidak ada satu penjelasan universal yang bisa berlaku untuk semua kasus. Preferensi personal, lingkungan, dan jenis tanaman kemungkinan besar memengaruhi perilaku ini.

Meski tergolong aman, pemilik hewan harus tetap waspada karena tidak semua tanaman ramah bagi hewan. Beberapa jenis tanaman hias bersifat racun, dan paparan pestisida atau pupuk kimia juga dapat membahayakan. Oleh karena itu, penting untuk memantau jenis tanaman di sekitar hewan dan berkonsultasi ke dokter hewan jika terjadi gejala yang tidak biasa.

Perilaku kucing dan anjing yang memakan rumput masih belum memiliki jawaban pasti dalam dunia sains. Sejumlah teori telah diajukan, dari gangguan pencernaan hingga kebutuhan mikronutrisi atau insting alami untuk membersihkan usus dari parasit. Namun, sebagian besar bukti menunjukkan bahwa kebiasaan ini bukanlah tanda penyakit serius, dan hanya sebagian kecil hewan yang tampak sakit sebelum memakannya.

Meski demikian, penting bagi pemilik hewan peliharaan untuk tetap waspada. Perilaku makan rumput yang berlebihan atau diiringi muntah terus-menerus bisa menjadi sinyal adanya gangguan kesehatan. Selain itu, memastikan bahwa tanaman di sekitar hewan tidak beracun dan bebas bahan kimia menjadi langkah pencegahan yang bijak.

Diolah dari artikel:
“Why do cats and dogs eat grass?” oleh Margaret Osborne.

Link: https://www.livescience.com/animals/domestic-cats/why-do-cats-and-dogs-eat-grass

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *