Sumber ilustrasi: Pixabay
13 Agustus 2025 13.40 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [13.08.2025] Sejak zaman kuno, manusia terpesona oleh kilau emas. Di Eropa abad pertengahan, kalangan aristokrat dan cendekiawan terobsesi dengan upaya mengubah logam-logam biasa seperti timbal atau merkuri menjadi emas. Proses ini dikenal sebagai chrysopoeia, suatu bentuk alkimia yang menyatukan ambisi spiritual dan keinginan material. Konsep tersebut sebenarnya sudah muncul jauh sebelumnya, sejak zaman Yunani Kuno. Zosimos dari Panopolis, seorang filsuf, menganggap bahwa perubahan logam ke emas mencerminkan proses pemurnian jiwa.
Namun demikian, ketika gagasan ini mencapai Eropa abad pertengahan, motivasi spiritual bergeser menjadi ambisi praktis: membuat emas dalam jumlah besar demi kekayaan. Para alkemis percaya bahwa seluruh logam tersusun atas komponen dasar, merkuri, belerang, dan garam, dan bahwa dengan memanipulasi dan memurnikan unsur-unsur tersebut, emas bisa dihasilkan. Kepercayaan ini didasarkan pada teori materi yang umum saat itu, dan diyakini secara luas.
Kemudian seiring dengan berkembangnya ilmu kimia dan fisika pada abad ke-17 dan 18, ide-ide alkimia mulai ditinggalkan. Meski demikian, sains modern justru menemukan bahwa proses transmutasi logam menjadi emas secara teoritis memang memungkinkan. Penelitian dalam fisika nuklir telah membuktikan bahwa unsur dapat diubah dengan memanipulasi struktur inti atomnya.
Inti dari proses ini terletak pada pemahaman bahwa identitas kimia suatu unsur ditentukan oleh jumlah proton di dalam inti atomnya. Emas memiliki 79 proton, sedangkan timbal memiliki 82. Untuk mengubah timbal menjadi emas, perlu mengurangi tiga proton dari inti timbal, suatu proses yang sangat kompleks dan hanya bisa dilakukan dengan teknologi mutakhir.
Teknik ini pertama kali berhasil diterapkan pada tahun 1941 oleh para ilmuwan dari Harvard, yang menggunakan akselerator partikel untuk menembakkan inti litium dan deuterium ke dalam atom merkuri. Proses ini menghasilkan isotop emas radioaktif yang tidak stabil. Empat dekade kemudian, tim yang dipimpin oleh peraih Nobel Kimia, Glenn Seaborg, kembali melakukan transmutasi serupa dengan menembakkan inti karbon dan neon ke bismut. Mereka berhasil menghasilkan ribuan atom emas, meskipun hanya dalam jumlah mikroskopis.
Penelitian lebih lanjut di berbagai laboratorium akselerator partikel dunia, termasuk di Large Hadron Collider (LHC) di CERN, menunjukkan bahwa proses ini memang bisa menghasilkan emas sebagai produk sampingan. Salah satu studi melibatkan tabrakan ion timbal dengan kecepatan hampir sama dengan kecepatan cahaya. Dalam tabrakan langsung, proton dan neutron hancur dan membentuk plasma quark-gluon, bentuk materi yang dipercaya pernah ada sesaat setelah Big Bang. Akan tetapi, tabrakan tak langsung yang berenergi lebih rendah justru menghasilkan medan elektromagnetik kuat yang mampu mengeluarkan proton dari inti timbal, menghasilkan emas dalam jumlah sangat kecil, sekitar 29 triliun sepergram selama tiga tahun eksperimen.
Meski demikian, tantangan utama bukan pada kemungkinan teknis, melainkan pada skala dan efisiensi. Biaya untuk menjalankan fasilitas seperti LHC sangat besar, jauh melebihi nilai emas yang dihasilkan. Misalnya, eksperimen Seaborg pada 1980-an diperkirakan memakan biaya hingga satu juta miliar kali lipat dari nilai emas yang diperoleh. Selain itu, interaksi yang menghasilkan emas sangat jarang dan sulit diidentifikasi di antara miliaran data lainnya.
Hingga kini, meskipun telah dilakukan banyak percobaan serupa sejak 1940-an, semuanya terbukti tidak menguntungkan secara ekonomi. Proses ini tetap menjadi prestasi ilmiah, namun tidak akan pernah menjadi metode komersial untuk memproduksi emas.
Transmutasi logam menjadi emas yang dahulu dianggap impian alkemis kini telah menjadi kenyataan ilmiah. Ilmu pengetahuan telah berhasil mengubah unsur-unsur seperti merkuri dan bismut menjadi emas melalui rekayasa inti atom, menggunakan energi yang sangat tinggi dan teknologi akselerator partikel. Eksperimen-eksperimen dari Harvard hingga CERN menunjukkan bahwa perubahan atom ini bukan hanya mungkin secara teori, tetapi juga dapat dicapai dalam praktik.
Meski demikian, realitas ekonominya tetap tidak menguntungkan. Biaya tinggi, teknologi rumit, dan hasil yang sangat sedikit menjadikan proses ini tidak praktis sebagai sumber emas. Meskipun demikian, pencapaian ini menunjukkan bagaimana sains modern mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan besar yang dulu dianggap mustahil, dan membuka cakrawala baru dalam pemahaman manusia terhadap materi dan energi.
Diolah dari artikel:
“Can other metals be turned into gold?” oleh Victoria Atkinson.
Link: https://www.livescience.com/chemistry/can-other-metals-be-turned-into-gold