Sumber ilustrasi: Pixabay
6 Mei 2026 17.35 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [06.05.2026] Interaksi antara manusia dan hewan liar di lingkungan perkotaan dipandang cukup acak, dimana asumsi bahwa hewan merespons manusia secara umum tanpa membedakan karakteristik tertentu. Akan tetapi dalam penelitian terbaru menunjukkan bahwa burung kota mungkin memiliki preferensi yang lebih spesifik terhadap manusia, termasuk kemungkinan membedakan jenis kelamin. Temuan ini menantang anggapan lama dalam studi perilaku hewan yang sering menganggap pengamat manusia sebagai faktor netral dalam eksperimen.
Sebuah studi yang melibatkan 37 spesies burung perkotaan di lima negara Eropa menemukan bahwa burung cenderung terbang menjauh lebih cepat ketika didekati oleh perempuan dibandingkan laki-laki. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal People and Nature pada Desember 2025 ini menggunakan ukuran jarak sebelum burung terbang, yang dikenal sebagai flight initiation distance, untuk menilai tingkat kewaspadaan atau ketakutan hewan terhadap manusia.
Peneliti mengamati berbagai spesies seperti merpati kayu, gagak, burung gereja, hingga burung hitam di kota-kota di Republik Ceko, Prancis, Jerman, Polandia, dan Spanyol. Hasil pengamatan terhadap 2.701 interaksi menunjukkan bahwa laki-laki rata-rata dapat mendekati burung sekitar satu meter lebih dekat dibandingkan perempuan sebelum burung tersebut terbang. Variasi perilaku juga terlihat antar spesies, di mana beberapa burung seperti merpati tampak lebih toleran terhadap manusia, sementara burung seperti murai cenderung lebih cepat menghindar.
Dalam penelitian tersebut, pendekatan dilakukan oleh peneliti laki-laki dan perempuan dengan tinggi badan serta pakaian yang serupa, guna meminimalkan variabel lain. Semua partisipan merupakan ornitolog berpengalaman, sehingga faktor keahlian dianggap tidak memengaruhi hasil. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa burung mampu membedakan karakteristik manusia yang lebih halus, termasuk jenis kelamin.
Yanina Benedetti dari Czech University of Life Sciences Prague mengungkapkan bahwa hasil penelitian tersebut cukup mengejutkan, terutama karena menunjukkan bahwa hewan perkotaan memandang manusia secara berbeda, bukan sebagai entitas yang seragam. Benedetti juga menyoroti bahwa asumsi netralitas pengamat manusia dalam studi perilaku perlu dipertimbangkan ulang dalam konteks ekologi perkotaan dan kesetaraan dalam penelitian ilmiah.
Meski demikian, para ahli lain menilai bahwa hasil ini masih bersifat awal. John Marzluff dari University of Washington menyatakan bahwa meskipun burung jelas memperhatikan manusia dan merespons dengan cara yang bermakna, penjelasan mengenai perbedaan respons terhadap jenis kelamin masih belum kuat secara hipotesis dan memerlukan penelitian lanjutan.
Peneliti juga mengajukan sejumlah kemungkinan penyebab, seperti perbedaan langkah kaki, bentuk tubuh, atau bahkan sinyal kimia seperti feromon. Daniel Blumstein dari UCLA mengakui bahwa hasil penelitian dapat dipercaya, namun belum dapat dijelaskan secara pasti. Sementara itu, Marzluff berpendapat bahwa pola berjalan manusia mungkin menjadi petunjuk penting bagi burung, meskipun penjelasan tersebut belum cukup untuk menjawab seluruh fenomena yang diamati.
Aspek lain yang belum dieksplorasi secara mendalam adalah kemungkinan pengaruh kondisi biologis tertentu, seperti perubahan bau tubuh pada perempuan selama menstruasi. Peneliti mencatat bahwa faktor ini belum dimasukkan dalam pengumpulan data, sehingga membuka peluang untuk studi lanjutan yang lebih spesifik.
Penelitian ini juga menekankan pentingnya memisahkan berbagai variabel dalam eksperimen berikutnya, seperti gerakan tubuh, aroma, dan karakteristik fisik, alih-alih mengelompokkannya hanya berdasarkan jenis kelamin pengamat. Pendekatan yang lebih terkontrol diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih jelas mengenai mekanisme di balik perilaku burung tersebut.
Temuan ini memperlihatkan bahwa interaksi antara manusia dan satwa liar di perkotaan jauh lebih kompleks daripada yang selama ini dipahami. Dengan bukti awal bahwa burung dapat membedakan jenis kelamin manusia dan merespons secara berbeda, penelitian ini membuka arah baru dalam studi perilaku hewan serta menekankan perlunya pendekatan yang lebih cermat dalam merancang eksperimen di lingkungan urban.
Diolah dari artikel:
“City birds appear to like men more than women, but experts have no idea why” oleh Kenna Hughes-Castleberry. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.