Bentang Alam: Antara Anugerah dan Kutukan

Sumber ilustrasi: Freepik

Oleh: Abdul Wahab
Pegiat gerakan ekologi berbasis komunitas dan pengasuh pesantren urban di Nusa Tenggara Timur
3 Desember 2025 11.40 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Fenomena gali lobang tutup lobang ternyata tidak hanya dialami warga negara berkembang seperti saya dan teman-teman yang pernah mengalami kebangkrutan dalam hidup.  Setidaknya hal ini terlihat dalam kenyataan pahit yang dialami muda-mudi Korea Selatan. Gaya hidup mereka yang banyak digandrungi orang Indonesia, ternyata apa yang sesungguhnya tidak seindah tayangan Drakor, dimana 84% pemuda Korea Selatan terlilit hutang dan bertahan hidup dari gali lobang tutup lobang, persis sebagaimana lagu Rhoma Irama.

Kehidupan pemuda Indonesia di desa-desa masih tidak terlalu parah, saya dan kawan-kawan tertolong oleh bentang alam nusantara yang masih sanggup memberi sumber-sumber survival kehidupan bernutrisi tinggi, pisang, ubi, kacang-kacangan, sayur mayur yang bisa dipetik di pagar maupun telur ayam piaraan sendiri.

Berbeda dengan masyarakat urban dengan pola hidup berbasis high industri.  Modernitas yang menjanjikan prestise ekonomi dengan pendapatan tinggi, tidak sebanding dengan beban hidup yang tidak kalah berat. Mulai dari kredit rumah, tagihan listrik, air, telepon, makanan siap saji hingga urusan merk celana dalam dan kutang.

Tekanan ekonomi high industri akan semakin merapuhkan sendi-sendi ekonomi ketika alam di sekitar sudah tidak lagi bersahabat. Untuk sekedar menumbuhkan pohon lamtoro saja tidak sanggup, yang pucuk dan buahnya bisa menjadi sajian nikmat dan bergizi di meja makan tanpa harus membeli dengan harga mahal.

Sawah ladang sudah tidak tersisa untuk menjadi penyedia makanan ternak keluarga yang dagingnya berharga, baik secara ekonomi maupun kesehatan. Sementara air bersih untuk minum, mandi dan nyuci pun sudah kian sulit didapat, menambah dorongan hidup pada derajat sekarat. Tak ayal jika depresi ekonomi acapkali mengantarkan mereka mengakhiri hidup di tiang gantungan; bunuh diri.

Suatu waktu pada medio 2006, Syaikhuna Al-Muhaddits KH. Washil Syarbini di sela-sela acara rutin Bahtsul Masa’il Pecel di kediaman beliau bercerita tentang prediksi nabi. Bahwa suatu saat, banyak manusia akan memiliki rumah berornamen emas, pintu, pagar dan bagian-bagian lain di rumah, akan terbuat dari emas. Bahkan, para wanita akan banyak meminang laki-laki dengan iming-iming emas, namun semua menolak.

Mendengar riwayat tersebut, Cak Dainuri yang aktifis lingkungan tidak bertanya tentang status atau derajat hadits tersebut, namun langsung menimpali dengan bahasa Madura dialek Sukowono yang terjemahannya kira-kira begini “saat itu kiai, yang sulit itu air”, yang disambut tawa hadirin.

Obrolan di atas menggambarkan bahwa industri ekstraktif semisal tambang dan industri tinggi lainnya yang bernilai seperti emas, tidak ada manfaatnya tatkala sumber-sumber inti kehidupan lenyap dari ruang hidup atau lingkungan kita.

Dus, pengelolaan sumber-sumber ekonomi sangat penting memperhatikan keberlanjutan reproduksi ekologis dengan cara merawat bentang alam sebagai anugerah, jika tidak, maka alam yang awalnya anugerah SWT, akan berubah 180 derajat menjadi kutukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *