Banjir Sumatra Kembali Mengingatkan Warga Aceh pada Tsunami 2004

Sumber ilustrasi: Wikimedia Commons
8 Desember 2025 10.40 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [08.12.2025] Bencana banjir dan longsor yang melanda beberapa wilayah di Pulau Sumatra telah kembali memunculkan ingatan kelam masyarakat Aceh terhadap tragedi tsunami 2004. Seorang nelayan bernama Effendi Basyaruddin menggambarkan bahwa kondisi yang dialaminya pekan ini menimbulkan kembali rasa takut yang dulu muncul ketika gelombang raksasa menghantam kampungnya dua dekade lalu. Peristiwa banjir dan longsor yang dipicu siklon tersebut kini merenggut lebih dari 800 korban jiwa di Indonesia, termasuk ratusan warga Aceh, serta menelan korban tambahan di Thailand dan Malaysia. Situasi darurat ini membuat masyarakat menuntut perhatian lebih besar dari pemerintah pusat.

Analisis terhadap peristiwa ini menunjukkan bahwa kenangan traumatis masyarakat Aceh masih sangat kuat. Effendi menggambarkan bahwa gelombang tsunami 2004 yang pernah disaksikannya mencapai sekitar 20 meter, namun kondisi banjir terbaru dinilainya lebih parah karena permukiman berubah seperti aliran sungai besar. Rumahnya ikut tersapu banjir, sehingga kini ia tinggal di sebuah tenda dekat pantai dan memandang laut sebagai sumber kehidupan sekaligus ancaman. Kesulitan menjangkau desa-desa terpencil juga menambah penderitaan warga, sementara sejumlah wilayah Aceh memperlihatkan kehancuran yang menurut warga setempat menyerupai dampak tsunami. Gubernur Aceh Muzakir Manaf bahkan menyatakan bahwa Aceh seperti tengah mengalami tsunami kedua.

Analisis lanjutan memperlihatkan bahwa kebutuhan mendesak warga mencakup air bersih, makanan, dan alat berat untuk membersihkan endapan lumpur tebal yang menimbun sisa permukiman. Seorang warga, Adi Hermawan, menilai bahwa tingkat kerusakan membuat proses pencarian korban menjadi lebih sulit dibandingkan bencana pada umumnya. Para pemimpin daerah di berbagai kabupaten Aceh menyerukan penetapan status darurat nasional agar dana penanganan dapat segera diperluas. Pimpinan Kabupaten Aceh Utara, Ismail A. Jalil, mengungkapkan bahwa jumlah korban dan kerusakan sangat besar, namun menurutnya perhatian dari pemerintah pusat masih minim. Pemerintah pusat menjawab dengan menyatakan bahwa anggaran bantuan sebesar 500 miliar rupiah dinilai cukup dan dapat ditambah bila situasi memburuk.

Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa kondisi di lapangan menurut laporan saat itu sudah menunjukkan perbaikan sehingga penetapan status darurat nasional belum dipandang perlu. Pemerintah juga menegaskan komitmen untuk terus mendukung pemerintah daerah. Namun demikian, perbedaan antara persepsi pusat dan daerah menunjukkan bahwa koordinasi dan skala kebutuhan di lapangan menjadi tantangan besar.

Rangkaian banjir dan longsor di Sumatra, terutama di Aceh, telah memunculkan kembali trauma mendalam masyarakat terhadap tsunami 2004. Banyak warga yang kehilangan rumah, kesulitan memperoleh bantuan, serta bergulat dengan kenangan masa lalu yang tiba-tiba muncul kembali akibat skala kerusakan yang dianggap serupa dengan bencana besar tersebut.

Permintaan agar pemerintah menetapkan status darurat nasional mencerminkan urgensi yang dirasakan masyarakat lokal, sekaligus menunjukkan bahwa upaya penanganan membutuhkan dukungan lebih besar. Meskipun pemerintah pusat menyatakan siap menambah anggaran bila diperlukan, kondisi di Aceh menegaskan bahwa percepatan bantuan dan koordinasi tetap menjadi kebutuhan mendesak.

Diolah dari artikel:
“Deadly Sumatra flooding triggers memories of Indian Ocean tsunami” oleh Hidayatullah Tahjuddin.

Link: https://www.reuters.com/business/environment/deadly-sumatra-flooding-triggers-memories-indian-ocean-tsunami-2025-12-05/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *