Sumber ilustrasi: Pixabay
2 Januari 2026 09.45 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [02.01.2026] Selama ini, rasa makanan sering dianggap hanya berasal dari lidah. Manis, asin, asam, pahit, dan umami dikenal sebagai lima rasa dasar yang ditangkap oleh reseptor pengecap. Namun demikian, pengalaman menikmati makanan jauh lebih kompleks daripada sekadar sensasi di lidah.
Aroma memainkan peran penting dalam membentuk apa yang dikenal sebagai cita rasa. Perbedaan antara mangga dan persik, misalnya, tidak hanya terletak pada rasa asamnya yang serupa, tetapi terutama pada aroma khas masing-masing buah.
Hubungan erat antara penciuman dan pengecapan sudah lama diketahui oleh para ilmuwan. Menghirup aroma makanan tertentu sering kali cukup untuk memunculkan bayangan rasanya di dalam pikiran, bahkan sebelum makanan tersebut disantap.
Meski demikian, selama bertahun-tahun ilmu saraf belum mampu menjelaskan secara pasti bagian otak mana yang bertanggung jawab dalam menggabungkan rasa dan bau menjadi satu pengalaman utuh yang disebut cita rasa.
Penelitian terbaru kini memberikan jawaban yang lebih jelas. Dengan bantuan teknologi pemindaian otak dan kecerdasan buatan, para peneliti berhasil mengidentifikasi wilayah otak yang berperan penting dalam proses tersebut.
Penelitian ini berfokus pada bagian otak yang disebut insula, sebuah struktur yang terletak jauh di dalam otak manusia. Sebelumnya, insula lebih dikenal sebagai wilayah yang terlibat dalam pengolahan rasa dan pemantauan kondisi organ dalam tubuh.
Dalam studi terbaru, tim peneliti melatih 25 peserta untuk mengaitkan kombinasi tertentu antara bau dan rasa dengan cita rasa spesifik. Proses pelatihan ini bertujuan membentuk asosiasi yang konsisten di dalam otak para peserta.
Setelah pelatihan, para peserta diberikan tetesan minuman dalam jumlah sangat kecil. Minuman ini dirancang secara khusus untuk mengaktifkan reseptor rasa di lidah atau reseptor bau retronasal di bagian belakang hidung.
Selama peserta merasakan minuman tersebut, aktivitas otak direkam menggunakan teknik pemindaian canggih. Pemindaian ini menghasilkan data visual tentang bagian-bagian otak yang aktif dalam setiap kondisi.
Untuk menganalisis data yang sangat besar dan kompleks ini, para peneliti menggunakan pembelajaran mesin, sebuah cabang kecerdasan buatan yang memungkinkan komputer mengenali pola dari data berlabel.
Gambar-gambar hasil pemindaian otak diberi label berdasarkan jenis minuman yang dikonsumsi peserta pada saat pemindaian dilakukan. Data ini kemudian digunakan untuk melatih algoritma agar dapat mengenali hubungan antara aktivitas otak dan sensasi rasa atau bau.
Para peneliti memisahkan berbagai wilayah otak dari hasil pemindaian dan melatih algoritma pembelajaran mesin secara terpisah pada setiap wilayah tersebut. Tujuannya adalah untuk mengetahui wilayah mana yang paling akurat dalam memprediksi pengalaman sensorik peserta.
Hasilnya menunjukkan bahwa algoritma yang dilatih menggunakan data dari insula memiliki kemampuan terbaik dalam menebak aroma atau rasa yang diterima peserta hanya berdasarkan gambar aktivitas otak.
Temuan ini memperkuat bukti sebelumnya dari penelitian pada hewan pengerat yang menunjukkan bahwa insula tidak hanya memproses rasa, tetapi juga bau. Penelitian lanjutan pada manusia sebelumnya juga menemukan bahwa beberapa sel di insula merespons kombinasi bau dan rasa secara bersamaan.
Dalam studi terbaru ini, aktivitas insula terlihat hampir sama ketika peserta hanya menerima aroma retronasal atau hanya menerima rasa dari suatu cita rasa tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa otak memproses kedua jenis sinyal tersebut secara terpadu di wilayah ini.
Wilayah otak lain juga menunjukkan kemampuan prediktif yang cukup baik, namun hal ini diduga karena wilayah-wilayah tersebut menerima informasi yang telah diproses lebih dahulu oleh insula.
Selain berperan dalam cita rasa, insula diketahui memengaruhi kebiasaan makan, persepsi tubuh, serta pemantauan kondisi organ seperti lambung dan usus. Kompleksitas fungsi ini menjadikan insula sebagai wilayah yang sulit dipelajari.
Sebelumnya, keterbatasan teknologi membuat penelitian mendalam tentang insula pada manusia hampir tidak mungkin dilakukan. Perkembangan metode seperti pembelajaran mesin kini membuka peluang baru dalam memahami fungsi otak secara lebih rinci.
Peneliti lain di bidang ilmu saraf menilai bahwa temuan ini berpotensi menjelaskan mengapa manusia memiliki preferensi kuat terhadap makanan tertentu dan rasa penolakan terhadap makanan lain.
Penelitian ini masih terbatas pada bau retronasal yang ditangkap oleh reseptor di bagian belakang hidung. Bau makanan yang tercium dari lingkungan, seperti aroma roti dari toko roti, diproses oleh reseptor di bagian depan hidung.
Penelitian lanjutan sedang dilakukan untuk mengetahui apakah aroma lingkungan tersebut juga mengaktifkan insula dengan cara yang serupa.
Penelitian ini menunjukkan bahwa cita rasa bukanlah hasil kerja satu indra saja, melainkan merupakan hasil integrasi kompleks antara rasa dan bau yang diproses di dalam otak. Insula terbukti memainkan peran kunci dalam menyatukan kedua sinyal sensorik tersebut menjadi pengalaman rasa yang utuh.
Dengan memanfaatkan teknologi pemindaian otak dan pembelajaran mesin, studi ini membuka pemahaman baru tentang bagaimana otak manusia membentuk persepsi terhadap makanan. Temuan ini berpotensi memberikan wawasan penting tentang perilaku makan, preferensi makanan, serta respons emosional manusia terhadap rasa dan aroma.
Diolah dari artikel:
“Brain scans reveal where taste and smell combine to become flavor” oleh Siddhant Pusdekar.
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.snexplores.org/article/brain-combine-taste-smell-flavor