Selamat Datang 2026

Sumber ilustrasi: Freepik
1 Januari 2026 11.00 WIB – Akar
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Di awal tahun baru, apa yang seharusnya menjadi momen refleksi bersama? Suatu refleksi yang jujur dan bukan suatu teknik pengabaian atau pengaburan. Soalnya, mungkinkah refleksi menjangkau berbagai masalah yang kita alami sedemikian sehingga tidak dilihat hanya sekadar rangkaian masalah yang terpisah satu sama lain, melainkan gejala dari satu masalah yang jauh lebih mendasar dan serius. Bencana ekologis, ketimpangan sosial, kebijakan yang tak berpihak, kekerasan simbolik maupun material, serta pudarnya kepercayaan publik, semuanya berakar pada satu sumber yang sama—yakni putusnya hubungan antara akal budi dan tindakan dalam kehidupan bersama sebagai sebuah bangsa.

Apa yang dikatakan adalah bahwa masalah yang datang bertubi-tubi bukan terutama soal kurangnya aturan, teknologi, atau sumber daya. Justru sebaliknya, kehidupan bersama hari ini dipenuhi prosedur, data, regulasi, dan instrumen kebijakan. Namun di tengah kelimpahan itu, arah bersama menjadi kabur. Yang hilang bukan kapasitas teknis, melainkan kemampuan reflektif untuk bertanya mengapa dan untuk siapa segala mekanisme itu dijalankan. Akal budi dipersempit menjadi alat efisiensi, sementara moral bangsa direduksi menjadi retorika. Akibatnya, keputusan yang diambil mungkin sah secara administratif, tetapi kosong secara moral dan merusak secara eksistensial.

Dalam kondisi demikian, penderitaan mudah dinormalisasi. Kerusakan alam diterima sebagai “risiko pembangunan”, korban dianggap sebagai “dampak tak terhindarkan”, dan kegagalan sistem diubah menjadi sekadar masalah komunikasi. Yang terjadi bukan ketidaktahuan, melainkan ketidakmauan untuk mengetahui secara utuh. Pengetahuan dipilah: yang dihitung adalah angka, yang disisihkan adalah pengalaman hidup manusia dan keterbatasan ekologis yang nyata. Di sinilah sumber krisis sesungguhnya berada—pada cara kita memahami realitas dan menata hidup bersama di atas pemahaman yang terpotong.

Masalah mendasar ini juga menjelaskan mengapa solusi sering kali gagal meski niat dinyatakan baik. Selama kebijakan lahir dari kerangka pikir yang memisahkan pertumbuhan dari kehidupan, kekuasaan dari tanggung jawab, dan pengetahuan dari pengalaman warga, maka solusi hanya akan memperpanjang masalah dalam bentuk baru. Otoritas dan elite bukan semata-mata bertindak keliru; mereka beroperasi dalam horizon makna yang telah menyempit, di mana keberhasilan diukur tanpa mempertanyakan biaya kemanusiaan dan ekologisnya.

Karena itu, tahun baru tidak cukup dibuka dengan harapan normatif atau optimisme prosedural. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mengakui bahwa ada krisis cara berpikir dan cara merasa yang bersifat struktural. Tanpa pemulihan hubungan antara akal budi yang reflektif, moral bangsa yang hidup, dan tindakan yang bertanggung jawab, kehidupan bersama akan terus bergerak, tetapi tanpa arah—maju secara teknis, mundur secara kemanusiaan.

Menamai masalah ini secara jernih adalah langkah pertama. Tentu bukan dimaksudkan untuk menambah pesimisme, melainkan untuk membuka kemungkinan perubahan yang sungguh-sungguh. Sebab hanya dengan menyadari sumber terdalam dari berbagai krisis inilah, kehidupan bersama dapat kembali ditata bukan sekadar agar berfungsi, tetapi agar layak dijalani bersama, secara berkelanjutan.

Selamat datang 2026. [desanomia – 010126 – dja]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *