Struktur Misterius di Mata Burung Mungkin Menjelaskan Ketiadaan Darah?

Sumber ilustrasi: Pixabay
10 Februari 2026 08.55 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [10.02.2026] Mata burung telah lama dikenal memiliki kemampuan visual yang luar biasa, memungkinkan penglihatan tajam saat terbang tinggi, berburu, atau bermigrasi jarak jauh. Selama bertahun-tahun, para ilmuwan memahami bahwa ketajaman ini berkaitan dengan struktur retina yang unik, tetapi banyak aspek fisiologinya masih menjadi teka-teki.

Salah satu keunikan utama retina burung adalah ketiadaan pembuluh darah di bagian dalamnya. Pada sebagian besar hewan vertebrata, termasuk manusia, retina dipenuhi pembuluh darah yang mengantarkan oksigen untuk mendukung metabolisme sel saraf. Tanpa oksigen, jaringan saraf biasanya mengalami gangguan fungsi dalam waktu singkat.

Akan tetapi, pada burung, kondisi tersebut justru menjadi norma. Retina bagian dalam burung berfungsi dalam keadaan anoksia, yaitu tanpa oksigen sama sekali. Fakta ini telah lama diketahui, tetapi mekanisme biologis yang memungkinkan kondisi tersebut tetap mendukung fungsi visual belum pernah dijelaskan secara rinci.

Penelitian terbaru yang dipimpin oleh tim dari Universitas Aarhus di Denmark kini memberikan jawaban atas misteri ini. Studi tersebut mengungkap peran penting sebuah struktur mata yang telah lama dikenal, tetapi sebelumnya belum sepenuhnya dipahami fungsinya.

Pada retina hampir semua vertebrata, oksigen yang dibutuhkan untuk menghasilkan energi dari glukosa diantarkan oleh sel darah merah melalui jaringan pembuluh darah. Energi ini sangat penting bagi sel saraf retina untuk memproses informasi visual secara cepat dan akurat.

Pada burung, pembuluh darah tersebut tidak ada. Oksigen hanya dapat mencapai permukaan retina melalui proses difusi, yang tidak mampu menjangkau bagian dalam jaringan. Akibatnya, retina bagian dalam berada dalam kondisi anoksia permanen.

Secara biologis, sel masih dapat menghasilkan energi tanpa oksigen melalui glikolisis anaerob. Namun, jalur metabolisme ini sangat tidak efisien dan menghasilkan limbah berupa asam laktat, yang dapat menjadi racun jika menumpuk dalam jumlah besar.

Keberadaan retina burung yang tetap berfungsi optimal meski tanpa oksigen menunjukkan adanya adaptasi evolusioner yang luar biasa. Fokus utama adaptasi ini terletak pada pecten oculi, sebuah struktur khusus di mata burung yang pertama kali diidentifikasi pada akhir abad ke-17.

Pecten oculi terletak berdekatan dengan retina dan memiliki jaringan pembuluh darah yang sangat padat. Selama berabad-abad, struktur ini menjadi bahan perdebatan di kalangan ahli anatomi, karena fungsinya tidak pernah benar-benar dapat dipastikan.

Melalui penelitian pada burung zebra finch (Taeniopygia guttata) yang masih hidup, para ilmuwan melakukan pengukuran langsung terhadap kadar oksigen, distribusi nutrisi, serta aktivitas gen di retina. Hasil pengamatan mengonfirmasi bahwa retina bagian dalam tidak menggunakan oksigen sama sekali.

Sebagai gantinya, sel retina sepenuhnya bergantung pada glikolisis anaerob untuk menghasilkan energi. Proses ini membutuhkan pasokan glukosa yang sangat besar dan mekanisme pembuangan limbah yang efisien agar jaringan tidak rusak.

Di sinilah pecten oculi memainkan peran sentral. Struktur ini bertindak sebagai sistem distribusi metabolik, mengalirkan glukosa dalam jumlah tinggi ke retina sekaligus mengangkut asam laktat keluar sebelum mencapai tingkat berbahaya.

Adaptasi ini diduga memberikan beberapa keuntungan evolusioner. Ketiadaan pembuluh darah di retina memungkinkan jalur cahaya menuju fotoreseptor tetap bersih, sehingga meningkatkan ketajaman penglihatan. Selain itu, sistem ini memungkinkan fungsi retina tetap optimal di lingkungan dengan kadar oksigen rendah.

Contoh ekstrem terlihat pada elang ular kaki-pendek (Circaetus gallicus). Spesies ini memiliki retina yang ketebalannya lebih dari empat kali lipat batas difusi oksigen pada retina mamalia. Sebagian besar jaringan retina burung ini beroperasi tanpa oksigen, sebuah kondisi yang mustahil bagi mata mamalia.

Adaptasi tersebut sangat relevan dengan gaya hidup burung pemangsa yang melayang pada ketinggian sekitar 500 meter di atas permukaan tanah dalam waktu lama. Dalam kondisi tersebut, tekanan oksigen rendah tidak menghambat fungsi visual yang sangat dibutuhkan untuk berburu.

Peneliti dari Universitas Denmark Selatan menilai bahwa penetapan fungsi pecten oculi merupakan terobosan penting dalam biologi evolusi burung. Struktur ini tidak hanya mendukung ketajaman penglihatan luar biasa, tetapi juga diduga berperan dalam memungkinkan migrasi jarak jauh pada burung.

Selain implikasi evolusioner, temuan ini juga memiliki potensi dampak medis. Pemahaman tentang cara sel saraf retina burung bertahan dalam kondisi anoksia dapat memberikan petunjuk baru untuk penelitian penyakit manusia, seperti stroke, yang melibatkan kekurangan oksigen pada jaringan saraf.

Penelitian lanjutan kini dapat difokuskan pada hubungan antara pasokan glukosa dan kinerja retina. Studi ini menunjukkan bahwa retina burung menyerap glukosa sekitar 2,5 kali lebih banyak dibandingkan otak burung, menegaskan tingginya kebutuhan energi sistem visual tersebut.

Proyek penelitian ini berlangsung selama delapan tahun dan melibatkan kolaborasi ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu. Hasilnya memberikan gambaran baru tentang bagaimana evolusi burung membentuk solusi biologis yang ekstrem namun efektif selama jutaan tahun.

Penelitian ini mengungkap bahwa kemampuan retina burung untuk berfungsi tanpa oksigen bergantung pada pecten oculi, struktur khusus yang menyalurkan glukosa dalam jumlah besar dan membuang limbah metabolik secara efisien. Adaptasi ini memungkinkan sel saraf retina tetap aktif meski berada dalam kondisi anoksia permanen.

Secara keseluruhan, temuan ini memperluas pemahaman tentang evolusi sistem visual burung dan membuka peluang baru dalam riset medis terkait ketahanan sel saraf terhadap kekurangan oksigen. Studi ini menegaskan bahwa solusi biologis yang dihasilkan alam dapat melampaui batas yang selama ini dianggap mustahil dalam fisiologi hewan berdarah panas.

Diolah dari artikel:
“Mysterious Structure in Bird Eyes May Explain a Curious Lack of Blood” oleh David Nield

Note:
This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencealert.com/mysterious-structure-in-bird-eyes-may-explain-a-curious-lack-of-blood

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *