Karbon Berusia Ribuan Tahun Ditemukan di Danau Blackwater Kongo?

Sumber ilustrasi: Freepik
19 Maret 2026 12.45 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [19.03.2026] Danau dan sungai berjenis blackwater di wilayah Cekungan Kongo diketahui mengandung konsentrasi tinggi bahan organik terlarut yang berasal dari sisa-sisa tumbuhan yang membusuk. Kandungan tersebut membuat warna air menjadi gelap dan menjadikan ekosistem perairan ini sebagai bagian penting dari siklus karbon di kawasan hutan tropis Afrika. Selama bertahun-tahun para ilmuwan meyakini bahwa sebagian besar karbon tua di kawasan ini tersimpan aman di dalam lapisan gambut yang tebal dan stabil.

Lahan gambut tropis dikenal sebagai salah satu penyimpan karbon alami terbesar di Bumi. Endapan gambut terbentuk dari akumulasi materi tumbuhan yang terendam air dan kekurangan oksigen sehingga proses pembusukan berlangsung sangat lambat. Kondisi tersebut selama ini dianggap mampu menjaga karbon tetap terkunci di bawah permukaan tanah selama ribuan tahun.

Akan tetapi, penelitian terbaru menunjukkan gambaran yang berbeda. Studi ilmiah menemukan bahwa danau dan sungai blackwater di Cekungan Kongo ternyata melepaskan karbon kuno yang sebelumnya diperkirakan tetap tersimpan di dalam gambut. Temuan tersebut memunculkan pertanyaan baru mengenai stabilitas cadangan karbon tropis yang sangat besar.

Penelitian dilakukan oleh tim ilmuwan yang dipimpin oleh ahli biogeokimia karbon Travis Drake dari Swiss Federal Institute of Technology Zurich. Dalam beberapa tahun terakhir tim tersebut melakukan tiga ekspedisi penelitian ke wilayah Cuvette Centrale di Republik Demokratik Kongo, sebuah kawasan rawa dan hutan seluas sekitar 145.000 kilometer persegi yang menyimpan kompleks lahan gambut tropis terbesar yang diketahui di dunia.

Di kawasan tersebut terdapat dua danau blackwater besar, yaitu Danau Mai Ndombe dan Danau Tumba. Selain itu terdapat Sungai Ruki yang mengalir melintasi wilayah tersebut sebelum akhirnya bergabung dengan Sungai Kongo. Perairan ini dikenal memiliki kandungan karbon organik terlarut yang sangat tinggi yang berasal dari vegetasi hutan dan rawa di sekitarnya.

Kondisi tersebut menyebabkan konsentrasi karbon dioksida di dalam air menjadi sangat tinggi. Air yang jenuh karbon dioksida kemudian melepaskan gas tersebut ke atmosfer dalam jumlah besar. Selama ini para peneliti menganggap karbon dioksida yang dilepaskan berasal dari materi organik modern yang masih relatif baru.

Endapan gambut di Cuvette Centrale sebelumnya diperkirakan tidak ikut berperan dalam proses tersebut. Lingkungan gambut yang jenuh air dan miskin oksigen dianggap melindungi materi organik dari proses penguraian sehingga karbon lama tetap terkunci di dalam tanah.

Namun analisis yang dipublikasikan pada Februari di jurnal Nature Geoscience memberikan hasil yang tidak terduga. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa sebagian karbon dioksida yang dilepaskan oleh danau dan sungai di wilayah tersebut berasal dari karbon gambut yang berusia antara 2.170 hingga 3.500 tahun.

Tim peneliti mengambil sampel air dan sedimen dari Danau Mai Ndombe pada tahun 2022 dan 2024. Penelitian kemudian dilanjutkan pada tahun 2025 di Danau Tumba dan Sungai Ruki. Proses pengambilan sampel dilakukan menggunakan perahu kecil karena sebagian besar lokasi penelitian sulit dijangkau melalui jalur darat.

Ekspedisi tersebut menghadapi tantangan alam yang cukup besar. Angin kencang di Danau Mai Ndombe hampir menyebabkan perahu penelitian terbalik. Meskipun demikian kawasan di sekitar danau masih tergolong alami dengan jumlah permukiman manusia yang sangat terbatas.

Sampel yang dikumpulkan kemudian dianalisis dengan mengukur sedimen, gas rumah kaca, karbon organik terlarut, serta karbon anorganik terlarut. Karbon anorganik terlarut mencakup karbon dioksida, ion bikarbonat, dan ion karbonat yang berada di dalam air.

Di laboratorium, para ilmuwan menggunakan teknik spektrometri presisi tinggi untuk membedakan karbon modern dari tanaman dengan karbon yang berasal dari tanah dan endapan gambut yang jauh lebih tua. Awalnya tim peneliti memperkirakan karbon dioksida yang terdeteksi akan berasal dari sumber modern.

Pengujian pertama dilakukan hanya pada satu sampel untuk memastikan asumsi tersebut. Hasil awal menunjukkan bahwa sekitar 40 persen karbon anorganik dalam sampel ternyata berasal dari karbon berusia ribuan tahun. Temuan tersebut mendorong tim peneliti untuk menganalisis seluruh sampel yang tersisa.

Hasil yang diperoleh dari Danau Mai Ndombe menunjukkan pola yang konsisten. Penelitian kemudian diperluas ke Danau Tumba dan Sungai Ruki dan hasilnya menunjukkan tingkat karbon kuno yang serupa.

Temuan tersebut mengindikasikan bahwa mikroorganisme di wilayah tersebut kemungkinan memecah karbon gambut menjadi karbon dioksida dan metana. Gas-gas tersebut kemudian merembes ke danau dan sungai sebelum akhirnya dilepaskan ke atmosfer.

Wilayah Cuvette Centrale diperkirakan menyimpan sekitar sepertiga dari total karbon yang terdapat di lahan gambut tropis dunia. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 33 miliar ton karbon. Besarnya cadangan tersebut membuat stabilitas ekosistem gambut di kawasan ini menjadi sangat penting bagi keseimbangan iklim global.

Sebagian peneliti mempertimbangkan kemungkinan bahwa pelepasan karbon lama tersebut merupakan bagian dari proses alami yang seimbang dengan pembentukan gambut baru. Namun terdapat pula kemungkinan lain yang lebih mengkhawatirkan, yaitu bahwa perubahan iklim mulai mengganggu stabilitas endapan karbon yang telah tersimpan lama di wilayah tersebut.

Para ilmuwan juga menilai bahwa kondisi kekeringan di masa depan dapat mempercepat proses pelepasan karbon tersebut. Jika mekanisme ini semakin intensif, lahan gambut yang selama ini berfungsi sebagai penyerap karbon berpotensi berubah menjadi sumber emisi karbon yang besar.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa danau dan sungai blackwater di Cekungan Kongo tidak hanya melepaskan karbon dari sumber modern, tetapi juga dari endapan gambut yang berusia ribuan tahun. Analisis isotop karbon mengungkap bahwa sebagian karbon dioksida yang dilepaskan berasal dari materi organik yang telah terkubur antara dua hingga tiga setengah milenium. Temuan tersebut menantang asumsi lama mengenai stabilitas karbon dalam lahan gambut tropis.

Cuvette Centrale menyimpan cadangan karbon gambut dalam jumlah sangat besar sehingga perubahan kecil dalam dinamika ekosistemnya dapat berdampak luas pada siklus karbon global. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengetahui apakah pelepasan karbon kuno tersebut merupakan proses alami yang stabil atau sinyal awal ketidakstabilan pada salah satu penyimpan karbon terbesar di planet ini.

Diolah dari artikel:
“Blackwater lakes and rivers in the Congo Basin are now emitting ancient carbon into the atmosphere” oleh Sascha Pare. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.livescience.com/planet-earth/blackwater-lakes-and-rivers-in-the-congo-basin-are-now-emitting-ancient-carbon-into-the-atmosphere

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *