Kesucian Jiwa

Sumber ilustrasi: Freepik
22 Maret 2026 11.39 WIB – Akar
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Apakah kesucian jiwa dapat dicapai? Pertanyaan ini tentu bukan pertanyaan yang mudah untuk dijawab. Sebagian kita percaya bahwa untuk menjawab pertanyaan ini dibutuhkan syarat-syarat tertentu. Bahkan ada yang “ekstrem” menyatakan bahwa kebisaan menjawab pertanyaan tersebut berarti telah memiliki suatu “kedudukan moral” tertentu. Mengapa? Karena mencapainya bukan pertama-tama perkara prosedur, akan tetapi menyangkut kemampuan untuk memahami apa sebenarnya makna dari kesucian jiwa itu sendiri.

Kita tidak menolak pandangan tersebut, namun kita juga membuka kemungkinan lain. Apa maksudnya? Yang dimaksud adalah membuka kemungkinan yang sebaliknya. Bahwa pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan kehidupan yang wajar dan dapat dijawab oleh siapapun, tanpa syarat-syarat tertentu. Hirarki kebisaan menjawab dapat dipandang sebagai jalan menjauh dari kesucian itu sendiri. Karena “yang suci” dapat bertemu dengan siapa saja. Bahkan dengan mereka yang dianggap tidak suci atau tidak layak mendapatkan kesucian dimaksud.

Jika dikatakan bahwa manusia dapat kembali kepada kesuciannya, maka dapat dikatakan bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk dengan kesucian itu sendiri. Sebagai “yang suci” jelaslah bahwa manusia pada dasarnya adalah “tubuh” yang seluruhnya dibentuk oleh kebaikan-kebaikan. Manusia bukan himpunan keburukan, tetapi himpunan kebaikan. Soal yang paling mendasar adalah apakah kita bersedia menerima pandangan tersebut? Jika kita tidak menerima dan bahkan menganggap bahwa manusia adalah himpunan keburukan, maka dengan sendirinya masalah akan timbul sedari awal. Yakni bahwa yang bersangkutan telah menganggap bahwa dirinya adalah himpunan keburukan, yang artinya sulit bagi dirinya untuk menerima kebaikan, bahkan pada dirinya sendiri. Apakah demikian itu?

Persis pada bagian inilah kita membutuhkan refleksi yang lebih mendalam. Suatu refleksi yang hadir dalam suasana keheningan, sepi, dan sendiri, agar dapat mengambil jarak, bahkan dengan diri sendiri. Barangkali inilah momen yang baik, yakni momen Idul Fitri, suatu momen kultural, di mana setiap orang secara kasat mata tampak bergerak, menghampiri yang lain, dan mengucapkan maaf lahir dan batin. Pada momen ini, seakan-akan, berdasarkan yang terlihat oleh mata fisik adalah bahwa tiap-tiap orang bersedia mengakui kesalahannya dan pada waktu yang bersamaan bersedia memberi maaf.

Apakah peristiwa tersebut dapat dikatakan sebagai peristiwa di mana keburukan hendak segera dilupakan dan sebaliknya kebaikan yang akan dijaga? Atau, suatu pandangan baru sebenarnya hendak dibiasakan oleh momen kultural halal bi halal, yakni kebisaan untuk segera melupakan keburukan orang lain dan sebaliknya senantiasa mengingat kebaikan orang lain. Apakah ini dimungkinkan? Apakah tradisi ini dapat dipandang sebagai jalan kultural untuk mencapai kesucian jiwa? Untuk itulah, kita membutuhkan refleksi, atas apa yang kerap dan masih saja berlangsung, begini:

Kecenderungan untuk mengingat kebaikan orang lain dan melupakan keburukan mereka bukan sekadar sikap moral sederhana, melainkan sebuah latihan batin yang mendalam. Dalam kehidupan sehari-hari, ingatan kita seperti dilatih untuk lebih tajam terhadap “kesalahan” atau “hal buruk” dibandingkan terhadap kebaikan. Kesalahan kecil dapat membekas lama, sementara kebaikan besar terkadang cepat memudar. Maka, memilih untuk membalik kecenderungan ini berarti melawan arus natural dari emosi yang reaktif, dan pada saat yang sama membangun kesadaran yang lebih jernih.

Jarang dari kita menyadari bahwa manusia hidup dalam relasi yang penuh ketidaksempurnaan. Setiap pertemuan membuka kemungkinan kebaikan sekaligus potensi kesalahan. Dalam konteks ini, mengingat kebaikan bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan, melainkan menempatkan kebaikan sebagai pusat penilaian. Dengan demikian, hubungan tidak dibangun di atas kecurigaan atau “luka”, tetapi di atas pengakuan terhadap nilai positif yang pernah diberikan.

Memang harus diakui bahwa melupakan keburukan orang lain sering disalahpahami sebagai kelemahan atau keluguan. Padahal, sikap ini justru menuntut kekuatan batin yang besar. Dendam dan rasa sakit memiliki daya tarik yang kuat karena memberi ilusi kendali. Dengan menyimpan kesalahan orang lain, seseorang merasa memiliki dasar untuk menilai atau bahkan membalas. Namun, melepaskan keburukan berarti melepaskan beban psikologis yang tidak perlu, sebuah tindakan yang membutuhkan keberanian untuk tidak terikat pada masa lalu.

Dalam perspektif etika, sikap ini dapat dipahami sebagai bentuk kemurahan hati yang radikal. Kemurahan hati tidak hanya terkait dengan pemberian materi, tetapi juga dengan cara memperlakukan kesalahan orang lain. Ketika keburukan tidak dijadikan pusat ingatan, ruang terbuka bagi rekonsiliasi dan pertumbuhan. Sebaliknya, ketika kesalahan terus dipelihara dalam ingatan, hubungan menjadi kaku dan kehilangan kemungkinan untuk berkembang.

Namun demikian, melupakan keburukan tidak berarti menghapus pelajaran yang terkandung di dalamnya. Pengalaman buruk tetap memiliki nilai sebagai sumber kebijaksanaan. Yang ditinggalkan adalah beban emosionalnya, bukan makna reflektifnya. Dengan cara ini, seseorang dapat tetap waspada tanpa harus menjadi pahit, tetap bijaksana tanpa harus menjadi curiga berlebihan.

Mengutamakan ingatan terhadap kebaikan juga mengubah cara memandang manusia secara keseluruhan. Sebagaimana diuraikan di atas, alih-alih melihat orang lain sebagai himpunan kesalahan atau keburukan, pandangan menjadi lebih seimbang dan manusiawi. Setiap individu dipahami sebagai makhluk yang kompleks, yang mampu berbuat salah sekaligus berbuat baik. Perspektif ini membuka ruang bagi empati, karena kesadaran akan kelemahan diri sendiri turut hadir dalam penilaian terhadap orang lain.

Dalam kehidupan bersama, sikap ini memiliki dampak yang luas. Lingkungan yang dihuni oleh individu-individu yang saling mengingat kebaikan akan cenderung lebih harmonis. Konflik tidak mudah membesar, dan kepercayaan lebih mudah tumbuh. Sebaliknya, lingkungan yang dipenuhi ingatan terhadap kesalahan akan dipenuhi kecurigaan dan jarak emosional yang sulit dijembatani.

Secara eksistensial, pilihan untuk mengingat kebaikan dan melupakan keburukan mencerminkan kebebasan manusia dalam memberi makna pada pengalaman. Peristiwa yang sama dapat dikenang dengan cara yang berbeda. Luka dapat dijadikan pusat identitas, atau justru dilepaskan agar tidak mendefinisikan kehidupan. Pilihan ini menunjukkan bahwa makna tidak sepenuhnya ditentukan oleh peristiwa, tetapi oleh cara kesadaran meresponsnya.

Selain itu, sikap ini juga berkaitan dengan ketenangan batin. Ingatan yang dipenuhi keburukan cenderung melahirkan kegelisahan, bahkan ketika peristiwa tersebut telah lama berlalu. Sebaliknya, ingatan yang dipenuhi kebaikan menciptakan rasa syukur yang memperkaya kehidupan batin. Dengan demikian, mengingat kebaikan bukan hanya berdampak pada relasi sosial, tetapi juga pada kualitas kehidupan interior.

Tentu saja, praktik ini tidak mudah dilakukan secara konsisten. Emosi negatif sering muncul secara spontan, dan ingatan terhadap keburukan kerap datang tanpa diundang. Oleh karena itu, diperlukan latihan kesadaran yang berkelanjutan. Setiap kali ingatan tentang kesalahan orang lain muncul, ada kesempatan untuk memilih: mempertahankannya atau melepaskannya. Dalam pilihan kecil yang berulang itulah karakter perlahan terbentuk.

Sekali lagi hendak ditegaskan di sini bahwa pandangan agar mudah melupakan keburukan dan selalu mengingat kebaikan bukan pertama-tama suatu anjuran moral, melainkan sebuah cara hidup. Cara hidup ini menuntut kejernihan pikiran, keluasan hati, dan kedewasaan emosional. Dengan menghidupkan prinsip ini, seseorang tidak hanya memperbaiki hubungan dengan orang lain, tetapi juga membebaskan diri dari beban yang tidak perlu, sehingga kehidupan dapat dijalani dengan lebih ringan dan bermakna. Apakah berlebihan jika jalan ini adalah jalan mencapai kesucian jiwa?

Selamat berlebaran. [desanomia – 220326 – dja]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *