Tentang Hujan

Sumber ilustrasi: Freepik
6 April 2026 08.48 WIB – Akar
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Dalam suatu obrolan belum lama ini, suasana dikejutkan oleh suara keras percakapan telpon. “Belum hujan, ya?” Tidak jelas persis, apa jawaban di seberang telpon. Namun, mungkin jawabnya hanya satu kata: “Belum.” Percakapan ini, mungkin kerap muncul. Musim hujan belum berakhir. Karena itu, wajar jika di antara kita semua kerap terlibat dalam obrolan yang memuat pertanyaan atau pernyataan tersebut.

Apa yang penting dari obrolan tersebut? Tentu bukan hal tentang hujan itu sendiri, melainkan tentang bagaimana hujan dibicarakan. Pertanyaan tentang hujan dalam obrolan tersebut memang tampak sepele. Akan tetapi bila diperiksa lebih seksama, sangat mungkin segera menyingkap persoalan mendasar mengenai hubungan antara bahasa, kenyataan, dan kebenaran.

Ketika diajukan pertanyaan “kapan hujan?”, tersirat anggapan bahwa hujan adalah suatu peristiwa tunggal yang dapat ditentukan waktunya secara umum. Namun, anggapan ini segera goyah ketika disadari bahwa hujan tidak pernah terjadi secara serentak di seluruh permukaan bumi. Yang disebut “hujan” ternyata bukan satu kejadian universal, melainkan rangkaian kejadian lokal yang tersebar.

Dari sini muncul “ketidakakuran” ungkapan bahasa dan struktur kenyataan. Bahasa cenderung menyatukan apa yang dalam kenyataan terpisah. Satu kata—“hujan”—dipakai untuk menunjuk berbagai peristiwa yang terjadi di tempat dan waktu yang berbeda. Penyatuan tersebut, barangkali didorong oleh kebutuhan memudahkan komunikasi. Soalnya, tindakan tersebut ternyata punya dampak menyembunyikan keragaman faktual. Ketika bahasa digunakan tanpa kehati-hatian, maka ungkapan dimaksud dapat menciptakan kesan adanya keserentakan atau universalitas yang sebenarnya tidak ada.

Masalah ini menjadi lebih jelas ketika beralih dari pertanyaan ke pernyataan. Kalimat “belum hujan” tampak sebagai klaim faktual, tetapi kebenarannya tidak dapat ditentukan tanpa konteks. Pernyataan tersebut menggantung, karena tidak jelas pada bagian dunia mana ia merujuk. Ia tampak objektif, tetapi sebenarnya tidak lengkap. Dengan menambahkan penunjuk seperti “di sini” (di sini hujan) pernyataan itu memperoleh kejelasan: ia menjadi terikat pada suatu lokasi tertentu, sehingga kebenarannya dapat dinilai.

Refleksi ini menunjukkan bahwa ungkapan tertentu tidak selalu bersifat universal dalam arti berlaku di mana-mana pada saat yang sama. Banyak “ungkapan” bersifat situasional, bergantung pada koordinat ruang dan waktu. Sebuah pernyataan dapat benar di satu tempat dan salah di tempat lain tanpa kontradiksi. Dengan demikian, “ungkapan” tidak hanya soal kesesuaian antara pernyataan dan fakta, tetapi juga soal ketepatan dalam menentukan rujukan.

Lebih jauh, obrolan tersebut jika diperiksa lebih jauh, sebenarnya menyingkap batas bahasa dalam merepresentasikan dunia. Bahasa bekerja dengan generalisasi; ia menyatukan berbagai kejadian ke dalam satu istilah. Namun, dunia tersusun dari partikularitas—kejadian-kejadian yang selalu berada di suatu tempat dan waktu tertentu. Ketika generalisasi bahasa tidak disertai kesadaran akan partikularitas ini, muncul ilusi bahwa realitas bersifat seragam dan serentak.

Dari sini dapat ditarik suatu ketentuan, bahwa setiap pernyataan tentang dunia memerlukan horizon yang jelas. Tanpa penentuan “di mana” dan “kapan”, pernyataan kehilangan ketepatannya, bahkan jika secara gramatikal benar. Ketepatan berpikir menuntut bukan hanya penggunaan kata yang tepat, tetapi juga penempatan pernyataan dalam konteks yang sesuai.

Keseluruhan uraian sederhana terkait obrolan tentang hujan, sesungguhnya dapat mengarah pada pemahaman yang lebih luas: dunia tidak hadir sebagai satu kesatuan yang homogen, melainkan sebagai jaringan peristiwa yang tersebar. Bahasa, dengan kecenderungannya untuk menyederhanakan, berpotensi menyembunyikan kenyataan yang plural.

Bagaimana menurut anda? [desanomia – 060426 – dja]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *