Bisakah Hewan Merasakan Kebahagiaan?

Sumber ilustrasi: Magnific
6 Mei 2026 12.15 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [06.05.2026] Apakah hewan-hewan dapat merasakan kebahagiaan? Penelitian tentang emosi pada hewan umunya lebih banyak berfokus pada perasaan negatif seperti stres, rasa takut, dan rasa sakit. Pertanyaan tentang apakah hewan dapat merasakan kebahagiaan sering kali muncul, namun sulit dijawab secara ilmiah. Banyak orang merasa yakin bahwa hewan menunjukkan tanda-tanda kegembiraan melalui perilaku seperti bermain, berlari, atau berinteraksi sosial. Meski demikian, para ilmuwan tetap tidak yakin karena kendala terbesar dari meneliti hewan adalah tidak dapatnya mereka untuk berkomunikasi secara verbal.

Emosi positif pada hewan dikenal sebagai “positive affect”. Penelitian di bidang ini relatif tertinggal karena terdapat kekhawatiran terhadap antropomorfisme, yaitu kecenderungan memberi sifat manusia pada hewan. Bahkan ketika penelitian menunjukkan tikus mengeluarkan suara mirip tawa saat digelitik, keraguan masih muncul di kalangan ilmuwan mengenai interpretasi hasil tersebut.

Kini, pendekatan baru mulai dikembangkan untuk mengatasi tantangan tersebut. Para peneliti berupaya menciptakan alat pengukur kebahagiaan, atau “joy-o-meter”, yang dapat membantu memahami emosi positif pada berbagai spesies. Upaya ini juga berpotensi meningkatkan kesejahteraan hewan, terutama yang hidup dalam penangkaran.

Salah satu tokoh yang mendukung pendekatan ini adalah Gordon M. Burghardt, yang menyatakan bahwa emosi positif layak diteliti setara dengan emosi negatif seperti rasa sakit. Pandangan tersebut mendorong berkembangnya penelitian lintas disiplin yang mencoba mendefinisikan dan mengukur kebahagiaan secara lebih objektif.

Dalam proyek ini, Erica Cartmill bersama tim ilmuwan lainnya mencoba membangun kerangka ilmiah untuk mempelajari kebahagiaan. Mereka mendefinisikan kebahagiaan sebagai emosi positif yang intens, singkat, dan dipicu oleh suatu peristiwa, seperti mendapatkan makanan favorit atau bertemu kembali dengan individu lain. Colin Allen menekankan bahwa mempelajari emosi tetap menjadi tantangan besar karena variasi perilaku antar individu dan spesies.

Penelitian awal difokuskan pada primata, khususnya simpanse dan bonobo. Gal Badihi menemukan bahwa meskipun kehidupan simpanse penuh tekanan, terdapat momen-momen yang menunjukkan kemungkinan kebahagiaan, seperti bermain dengan anak-anak atau interaksi sosial yang hangat. Dalam situasi tersebut, simpanse mengeluarkan suara seperti tawa pelan, yang menurut Badihi memiliki fungsi komunikasi sosial positif.

Eksperimen lain dilakukan oleh Daan Laméris dengan memberikan objek baru kepada bonobo. Hasilnya menunjukkan bahwa tidak semua stimulus menghasilkan respons yang sama, menandakan bahwa kebahagiaan bersifat subjektif bahkan di antara individu dalam spesies yang sama. Sasha Winkler kemudian mengembangkan pendekatan eksperimental dengan menguji optimisme bonobo melalui respons terhadap stimulus ambigu setelah diperdengarkan suara tawa bayi bonobo. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan kecenderungan perilaku optimis setelah paparan suara tersebut.

Pendekatan lain menggunakan konsep windfall atau “kejutan yang menyenangkan”. Heidi Lyn menunjukkan bahwa bonobo merespons hadiah tak terduga dengan suara tertentu atau gerakan kepala, yang diduga sebagai indikator emosi positif. Eksperimen serupa juga dilakukan dengan interaksi sosial, seperti panggilan video dengan penjaga yang sudah lama tidak ditemui.

Penelitian kemudian diperluas ke burung beo jenis kea. Ximena Nelson mengamati bahwa burung ini menunjukkan perilaku bermain yang kompleks, terutama saat cuaca cerah dan bersalju. Suara “warble” yang mereka hasilkan diduga berperan sebagai pemicu dan indikator kebahagiaan. Akan tetapi, eksperimen menunjukkan bahwa burung yang dibesarkan dalam penangkaran tidak selalu merespons stimulus yang sama seperti populasi liar.

Pengukuran kebahagiaan tidak hanya mengandalkan perilaku, tetapi juga indikator biologis. Sergio Pellis menekankan pentingnya menggabungkan data fisiologis seperti suhu tubuh atau hormon stres untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat. Variasi respons individu kembali menjadi tantangan dalam interpretasi data.

Penelitian juga mencakup lumba-lumba, yang sering diasosiasikan dengan perilaku ceria. Ekspresi wajah seperti “senyum” pada lumba-lumba tidak dapat dijadikan indikator emosi. Peneliti menemukan bahwa suara tertentu, seperti “victory squeal”, dapat menjadi petunjuk adanya pengalaman positif. Suara ini berkaitan dengan pelepasan dopamin di otak dan muncul saat lumba-lumba berhasil menyelesaikan tugas atau menerima hadiah.

Eksperimen ini menunjukkan bahwa suara tersebut juga muncul dalam konteks sosial dan kejutan menyenangkan, menandakan bahwa kebahagiaan pada lumba-lumba mungkin memiliki dimensi komunikasi yang kompleks. Respons terhadap objek baru pun tidak selalu positif, menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak dapat dipicu secara sederhana.

Penelitian lintas spesies ini menunjukkan bahwa emosi positif pada hewan memiliki banyak dimensi dan sulit diukur dengan satu metode tunggal. Para peneliti menyadari bahwa pendekatan yang fleksibel dan multidisiplin diperlukan untuk memahami fenomena ini secara lebih mendalam.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa hewan kemungkinan besar memiliki kemampuan merasakan emosi positif seperti kebahagiaan, meskipun pengukurannya masih menjadi tantangan ilmiah. Berbagai pendekatan, mulai dari observasi perilaku hingga indikator biologis, telah digunakan untuk mengidentifikasi tanda-tanda kebahagiaan pada primata, burung, dan mamalia laut. Temuan ini membuka peluang baru untuk memahami kesejahteraan hewan secara lebih komprehensif, sekaligus menegaskan bahwa studi tentang emosi positif memiliki peran penting dalam ilmu pengetahuan modern.

Diolah dari artikel:
“Animals can feel joy. Here’s how scientists might study it” oleh Amber Dance. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.snexplores.org/article/animal-joy-emotion

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *