Melakukan Perjalanan Bisa Memperlambat Penuaan?

Sumber ilustrasi: Pixabay
5 Mei 2026 20.40 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [05.05.2026] Upaya melawan penuaan sering dikaitkan dengan produk perawatan kulit seperti krim retinol. Rupanya terdapat cara lain yang diungkap oleh pendekatan ilmiah terbaru. Ditunjukkan bahwa faktor gaya hidup, termasuk melakukan perjalanan, dapat memainkan peran penting dalam menjaga kesehatan tubuh dan mental. Para ilmuwan mulai melihat bahwa pengalaman hidup tertentu mampu memengaruhi proses biologis yang berkaitan dengan penuaan.

Penelitian dari Edith Cowan University (ECU) pada tahun 2024 yang dipublikasikan di Journal of Travel Research mengusulkan pendekatan baru dengan menggunakan konsep entropi untuk memahami dampak perjalanan terhadap tubuh manusia. Dalam konteks ini, perjalanan tidak hanya dipandang sebagai aktivitas rekreasi, tetapi juga sebagai cara potensial untuk membantu tubuh mempertahankan keseimbangan, ketahanan, serta kemampuan pemulihan.

Konsep entropi, yang menggambarkan kecenderungan sistem menuju ketidakteraturan, digunakan untuk menjelaskan bagaimana pengalaman dapat memengaruhi kondisi tubuh. Para peneliti menyebut bahwa pengalaman positif dapat membantu tubuh tetap terorganisir dan berfungsi optimal, sementara pengalaman negatif justru dapat mempercepat penurunan kondisi fisik dan mental.

Fangli Hu, kandidat PhD dari ECU, menjelaskan bahwa penuaan merupakan proses yang tidak dapat dibalik, tetapi masih dapat diperlambat. Fangli Hu juga menilai bahwa perjalanan berpotensi meningkatkan kesejahteraan melalui paparan lingkungan baru, peningkatan aktivitas fisik, interaksi sosial, serta munculnya emosi positif.

Lebih lanjut, Fangli Hu menambahkan bahwa pariwisata tidak hanya berkaitan dengan hiburan, tetapi juga memiliki kontribusi terhadap kesehatan fisik dan mental. Pandangan ini memperluas peran pariwisata dalam konteks kesehatan, termasuk dalam bidang seperti pariwisata kebugaran dan kesehatan.

Dalam analisis berbasis entropi, melakukan perjalanan dapat dipahami sebagai bentuk intervensi yang memengaruhi sistem tubuh. Pengalaman perjalanan yang positif dinilai mampu membantu tubuh mempertahankan kondisi entropi rendah, yang identik dengan sistem biologis yang sehat dan stabil.

Lingkungan baru yang ditemui selama perjalanan dapat merangsang aktivitas metabolisme serta mengaktifkan proses biologis yang menjaga fungsi tubuh. Selain itu, sistem imun adaptif juga dapat terstimulasi, sehingga meningkatkan kemampuan tubuh dalam mengenali dan merespons ancaman dari luar.

Fangli Hu menjelaskan bahwa respons tersebut berkontribusi pada peningkatan ketahanan sistem pertahanan tubuh. Selain itu, pelepasan hormon yang mendukung regenerasi jaringan juga dapat terjadi, yang pada akhirnya memperkuat sistem penyembuhan alami tubuh.

Perjalanan yang bersifat relaksasi juga memiliki dampak pada pengurangan stres kronis. Aktivitas rekreasi dapat membantu meredakan ketegangan otot dan kelelahan, sekaligus menjaga keseimbangan metabolisme serta meningkatkan daya tahan tubuh terhadap tekanan fisik.

Aktivitas fisik selama perjalanan menjadi faktor penting lainnya. Kegiatan seperti berjalan, mendaki, atau bersepeda dapat meningkatkan sirkulasi darah, distribusi nutrisi, serta proses pembuangan limbah dalam tubuh. Fangli Hu menilai bahwa aktivitas tersebut berkontribusi terhadap peningkatan fungsi sistem imun dan kemampuan tubuh dalam menghadapi risiko eksternal.

Fangli Hu juga menjelaskan bahwa olahraga dalam intensitas moderat selama perjalanan dapat memberikan manfaat bagi tulang, otot, dan sendi, sekaligus mendukung sistem tubuh dalam menghadapi keausan. Proses ini berperan dalam menjaga sistem penyembuhan tubuh tetap aktif dan optimal.

Meski menunjukkan potensi besar, bidang penelitian ini masih dalam tahap perkembangan. Studi lanjutan pada tahun 2025 menggambarkan terapi perjalanan sebagai pendekatan yang sedang berkembang, sekaligus menekankan pentingnya mempertimbangkan keseimbangan antara manfaat dan risiko.

Penelitian lain juga mendorong kolaborasi antara bidang kedokteran perjalanan dan pariwisata. Hal ini mencerminkan meningkatnya perhatian terhadap hubungan antara aktivitas wisata, risiko kesehatan, serta upaya pencegahan yang dapat dilakukan oleh pelancong.

Tinjauan sistematis terbaru menunjukkan bahwa hubungan antara pariwisata dan penuaan sehat menjadi bidang penelitian interdisipliner yang semakin penting. Akan tetapi, pendekatan metodologis yang lebih kuat masih diperlukan untuk memahami dampaknya secara lebih mendalam.

Temuan-temuan tersebut mengarah pada kesimpulan bahwa perjalanan dapat memberikan manfaat kesehatan, terutama jika melibatkan aktivitas fisik, interaksi sosial, pengalaman baru, dan waktu untuk pemulihan. Namun, tingkat manfaat tersebut masih perlu diteliti lebih lanjut untuk berbagai kelompok individu.

Di sisi lain, penelitian ini juga mengingatkan adanya risiko dalam aktivitas perjalanan. Paparan terhadap penyakit menular, kecelakaan, cedera, hingga kondisi lingkungan yang tidak aman dapat berdampak negatif terhadap kesehatan jika tidak diantisipasi dengan baik.

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa pengalaman negatif dalam perjalanan dapat berkontribusi pada peningkatan entropi, yang berkaitan dengan penurunan kondisi kesehatan. Salah satu contoh yang disebut adalah krisis kesehatan global COVID-19.

Melakukan perjalanan tidak selalu memberikan manfaat secara otomatis. Akan tetapi pengalaman yang positif, aman, dan seimbang berpotensi membantu tubuh dan pikiran berfungsi lebih optimal melalui kombinasi aktivitas fisik, relaksasi, interaksi sosial, dan paparan lingkungan baru. Pendekatan ini membuka perspektif baru bahwa perjalanan dapat menjadi bagian dari strategi untuk mendukung proses penuaan yang lebih sehat.

Diolah dari artikel:
“Scientists say travel could slow aging and boost your health” oleh Edith Cowan University. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/05/260504211836.htm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *