Sumber ilustrasi: Magnific
5 Mei 2026 20.25 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [05.05.2026] Ingatan manusia dan keandalannya merupakan topik yang telah lama menjadi perdebatan dalam sains, terutama dalam konteks fisika dan kosmologi. Ingatan dianggap sebagai rekaman dari peristiwa masa lalu yang benar-benar terjadi. Akan tetapi terdapat sebuah gagasan dalam fisika yang dikenal sebagai paradoks otak Boltzmann justru mempertanyakan asumsi tersebut dan membuka kemungkinan bahwa ingatan bisa terbentuk secara acak tanpa adanya sejarah terjadinya.
Penelitian terbaru yang dilakukan oleh David Wolpert, Carlo Rovelli, dan Jordan Scharnhorst mengkaji ulang konsep tersebut dengan pendekatan yang lebih sistematis. Studi ini mencoba memahami hubungan antara ingatan, entropi, dan arah waktu, yang selama ini menjadi dasar dalam menjelaskan bagaimana manusia memandang masa lalu dan masa depan.
Paradoks ini berakar pada prinsip dasar fisika statistik, khususnya teorema H Boltzmann yang berkaitan dengan hukum kedua termodinamika. Hukum ini menjelaskan bahwa entropi cenderung meningkat seiring waktu, sehingga menciptakan arah waktu yang jelas dari masa lalu menuju masa depan. Pemahaman tersebut menjadi fondasi bagi manusia dalam membedakan urutan peristiwa.
Penelitian ini menyoroti bahwa teorema H sebenarnya bersifat simetris terhadap waktu, sehingga tidak memberikan preferensi arah waktu tertentu. Kondisi ini memunculkan implikasi yang tidak intuitif, di mana secara matematis lebih mungkin bahwa pola yang membentuk ingatan dan persepsi muncul dari fluktuasi acak entropi dibandingkan dari rangkaian peristiwa nyata di masa lalu.
Dalam analisisnya, para peneliti mengembangkan kerangka formal untuk menguji bagaimana berbagai asumsi tentang waktu memengaruhi kesimpulan mengenai entropi dan ingatan. Pendekatan ini menghubungkan hipotesis otak Boltzmann dengan konsep lain seperti hukum kedua termodinamika dan hipotesis masa lalu, yang menyatakan bahwa alam semesta bermula dari kondisi entropi rendah.
Perbedaan pendekatan dalam menentukan titik awal analisis menjadi salah satu fokus utama. Beberapa model menggunakan kondisi alam semesta saat ini sebagai acuan, sementara pendekatan lain berangkat dari kondisi awal saat Dentuman Besar. Hukum fisika tidak secara eksplisit menentukan pilihan mana yang benar, sehingga interpretasi menjadi faktor penting dalam memahami fenomena ini.
Studi ini juga mengungkap adanya pola penalaran melingkar dalam banyak argumen terkait entropi dan ingatan. Dalam beberapa kasus, asumsi mengenai kondisi masa lalu digunakan untuk mendukung kesimpulan tertentu, seperti arah peningkatan entropi atau keandalan ingatan. Kesimpulan tersebut kemudian digunakan kembali untuk membenarkan asumsi awal, sehingga membentuk lingkaran logika yang sulit dipisahkan.
Melalui konsep yang disebut dugaan entropi, para peneliti berusaha memperjelas struktur argumen tersebut. Pendekatan ini tidak bertujuan untuk memberikan jawaban akhir, melainkan untuk memisahkan antara hukum fisika yang objektif dan asumsi interpretatif yang digunakan dalam analisis.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pemahaman tentang waktu dan ingatan tidak hanya bergantung pada hukum fisika, tetapi juga pada cara manusia memilih kerangka interpretasi. Dengan demikian, pertanyaan tentang apakah ingatan benar-benar mencerminkan masa lalu tetap menjadi isu terbuka dalam kajian ilmiah.
Kajian ini menegaskan bahwa hubungan antara entropi, waktu, dan ingatan masih menyimpan kompleksitas yang belum sepenuhnya terpecahkan. Dengan mengungkap potensi bias dalam penalaran ilmiah, penelitian ini memberikan dasar baru untuk memahami bagaimana konsep waktu dan realitas dapat ditafsirkan secara berbeda.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kemungkinan ingatan terbentuk dari fluktuasi acak entropi tidak dapat sepenuhnya diabaikan dalam kerangka fisika, sekaligus menyoroti pentingnya membedakan antara hukum alam dan asumsi interpretatif dalam memahami realitas, sehingga membuka ruang diskusi baru mengenai hubungan antara waktu, entropi, dan keandalan ingatan manusia.
Diolah dari artikel:
“Are your memories real? Physicists revisit the Boltzmann brain paradox” oleh Santa Fe Institute. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring world news closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/05/260502233922.htm