Sumber ilustrasi: Unsplash
6 Mei 2026 13.40 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [06.05.2026] Kreatin dikenal sebagai sebuah suplemen populer di kalangan atlet dan penggemar kebugaran dikarenakan kemampuannya meningkatkan kekuatan dan performa fisik. Banyak yang mengaitkan kreatin dengan pembentukan otot sehingga penggunaannya sering terbatas pada konteks olahraga. Akan tetapi penelitian ilmiah terbaru mulai menunjukkan bahwa senyawa ini memiliki peran yang jauh lebih luas, termasuk dalam fungsi otak dan kesehatan secara umum.
Secara alami, kreatin diproduksi oleh tubuh melalui proses yang melibatkan hati, ginjal, dan pankreas. Senyawa ini kemudian didistribusikan ke berbagai jaringan yang membutuhkan energi, terutama otot. Sebagian besar kreatin disimpan dalam otot rangka, sementara sisanya berada di organ lain seperti otak dan jantung. Dalam sel, kreatin diubah menjadi fosfokreatin yang berfungsi sebagai cadangan energi cepat untuk meregenerasi ATP, sumber energi utama tubuh.
Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Mehdi Boroujerdi dalam kajian ilmiah mendalam menunjukkan bahwa fungsi utama kreatin adalah mendukung sistem energi seluler. Proses regenerasi ATP yang cepat sangat penting bagi jaringan dengan kebutuhan energi tinggi, termasuk otot dan otak. Kemampuan ini memungkinkan sel tetap berfungsi dalam kondisi aktivitas intens maupun stres fisiologis.
Dr. Boroujerdi juga menjelaskan bahwa kreatin sering disalahpahami sebagai zat yang bekerja seperti steroid. Penjelasan ilmiah menunjukkan bahwa kreatin tidak berperan langsung dalam pembentukan otot, melainkan hanya menyediakan energi yang diperlukan untuk kontraksi dan aktivitas seluler. Mekanisme ini menjelaskan mengapa kreatin efektif dalam meningkatkan performa tanpa memiliki sifat anabolik seperti steroid.
Kreatin monohidrat menjadi bentuk yang paling banyak diteliti. Studi menunjukkan bahwa suplementasi kreatin dapat meningkatkan cadangan energi dalam otot, sehingga mendukung aktivitas intensitas tinggi seperti sprint atau latihan kekuatan. Peningkatan kapasitas latihan dan daya ledak menjadi salah satu manfaat yang paling konsisten ditemukan dalam berbagai penelitian.
Selain manfaat fisik, penelitian juga mulai menyoroti potensi kreatin dalam mendukung fungsi kognitif. Beberapa studi menunjukkan adanya peningkatan memori, suasana hati, dan kecepatan pemrosesan informasi, terutama pada individu dengan kadar kreatin rendah seperti kelompok usia lanjut. Temuan ini membuka peluang baru dalam pemanfaatan kreatin di luar bidang olahraga.
Lebih lanjut, para peneliti juga mengeksplorasi kemungkinan penggunaan kreatin dalam kondisi medis seperti penyakit Parkinson, depresi, serta penurunan massa otot dan tulang akibat penuaan. Dr. Boroujerdi mengungkapkan bahwa sifat antiinflamasi dan antioksidan kreatin menunjukkan potensi dalam aplikasi klinis, meskipun penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan efektivitasnya secara menyeluruh.
Dalam hal penggunaan, strategi suplementasi kreatin umumnya dimulai dengan fase pemuatan untuk meningkatkan kadar dalam otot secara cepat, diikuti dengan dosis pemeliharaan. Namun, pendekatan dosis rendah dalam jangka waktu lebih lama juga dapat menghasilkan efek yang serupa. Penyerapan kreatin dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi pencernaan dan kombinasi dengan nutrisi lain seperti karbohidrat.
Respons terhadap kreatin tidak seragam pada setiap individu. Faktor seperti jenis kelamin, usia, dan pola makan memengaruhi efektivitasnya. Wanita dan vegetarian, misalnya, cenderung memiliki kadar kreatin awal yang lebih rendah sehingga berpotensi mendapatkan manfaat lebih besar dari suplementasi. Sementara itu, kelompok usia lanjut dapat memperoleh manfaat tambahan dalam menjaga fungsi otot dan kognitif.
Dr. Boroujerdi menekankan bahwa masih terdapat banyak aspek kreatin yang belum sepenuhnya dipahami. Kebutuhan akan penelitian lebih lanjut, terutama yang melibatkan manusia dengan metode yang lebih presisi, menjadi penting untuk memperjelas berbagai mekanisme dan potensi manfaat kreatin.
Meskipun dikenal luas dan relatif aman, kreatin tetap memiliki keterbatasan. Kreatin tidak dapat menggantikan peran latihan dan nutrisi yang seimbang. Selain itu, konsumsi dalam jumlah berlebihan tidak memberikan manfaat tambahan karena kapasitas penyimpanan tubuh terbatas, sehingga kelebihan kreatin akan dikeluarkan sebagai limbah.
Kekhawatiran mengenai dampak negatif terhadap ginjal sebagian besar tidak terbukti pada individu sehat. Namun, individu dengan kondisi kesehatan tertentu tetap disarankan untuk berkonsultasi sebelum menggunakan suplemen ini. Variasi biologis antar individu juga menyebabkan manfaat kreatin tidak selalu sama pada setiap orang.
Penelitian terbaru ini menunjukkan bahwa kreatin memiliki peran yang jauh melampaui fungsi tradisionalnya sebagai suplemen peningkat performa fisik. Selain mendukung sistem energi seluler, kreatin juga berpotensi memberikan manfaat bagi fungsi otak dan kesehatan secara umum. Meskipun menjanjikan, penggunaan kreatin tetap memerlukan pemahaman ilmiah yang tepat serta mempertimbangkan kondisi individu, sehingga senyawa ini dapat dimanfaatkan secara optimal tanpa mengabaikan batasan yang ada.
Diolah dari artikel:
“Scientists reveal creatine’s hidden power beyond muscle gains” oleh Taylor & Francis Group. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/05/260504023828.htm