Sumber ilustrasi: Pixabay
6 Mei 2026 14.10 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [06.05.2026] Pencairan es di Greenland telah lama menjadi sorotan, terkhusus pada seberapa cepat proses itu terjadi oleh karena perubahan iklim dan pemanasan global yang kian memburuk. Dalam beberapa dekade terakhir, berbagai penelitian menunjukkan bahwa peningkatan suhu global tidak hanya memperluas area pencairan, tetapi juga memperkuat intensitasnya. Studi terbaru dari University of Barcelona yang dipublikasikan di Nature Communications memberikan gambaran baru mengenai skala perubahan tersebut.
Penelitian tersebut menemukan bahwa peristiwa pencairan ekstrem kini terjadi lebih sering, mencakup wilayah yang semakin luas, serta menghasilkan volume air lelehan yang jauh lebih besar dibandingkan masa lalu. Sejak 1990, luas area yang terdampak meningkat sekitar 2,8 juta kilometer persegi per dekade. Dalam periode yang lebih panjang, antara 1950 hingga 2023, rata-rata air lelehan dari peristiwa ekstrem mencapai 12,7 gigaton per dekade. Akan tetapi setelah 1990, angka tersebut melonjak drastis menjadi 82,4 gigaton per dekade, menunjukkan peningkatan hingga enam kali lipat.
Fenomena ini juga tercermin dari meningkatnya frekuensi peristiwa ekstrem. Tujuh dari sepuluh kejadian pencairan paling intens tercatat terjadi setelah tahun 2000, termasuk peristiwa besar pada 2012, 2019, dan 2021. Peristiwa-peristiwa tersebut dinilai tidak memiliki preseden dinamis yang sebanding, yang menunjukkan bahwa kondisi iklim saat ini telah berubah secara signifikan dibandingkan periode sebelumnya.
Selain frekuensi, intensitas setiap kejadian juga meningkat. Sejak 1990, produksi air lelehan selama peristiwa ekstrem meningkat sekitar 25% dibandingkan periode 1950–1975 untuk kondisi atmosfer yang serupa. Jika seluruh peristiwa ekstrem diperhitungkan, peningkatan mencapai hingga 63%. Temuan ini menunjukkan bahwa faktor termodinamika, terutama kenaikan suhu global, memainkan peran utama dalam memperkuat proses pencairan, melampaui pengaruh pola sirkulasi atmosfer.
Wilayah utara Greenland kini muncul sebagai titik panas utama dalam fenomena ini. Area tersebut mengalami dampak paling signifikan dari peningkatan pencairan ekstrem. Proyeksi ilmiah menunjukkan bahwa dalam skenario emisi gas rumah kaca tinggi, anomali air lelehan paling intens dapat meningkat hingga tiga kali lipat pada akhir abad ini.
Penelitian ini dipimpin oleh Josep Bonsoms bersama Marc Oliva dalam kerangka kelompok riset ANTALP. Studi tersebut menganalisis data pencairan ekstrem dari tahun 1950 hingga 2023. Untuk memahami penyebabnya, tim tersebut menggunakan metode klasifikasi baru yang menggabungkan pola sirkulasi udara antisiklonik dan siklonik dengan model iklim regional. Pendekatan ini memungkinkan pemisahan antara pengaruh pemanasan atmosfer dan dinamika sirkulasi udara.
Josep Bonsoms menjelaskan bahwa transformasi cepat lapisan es Greenland membawa konsekuensi luas, tidak hanya dalam bentuk kenaikan permukaan laut, namun juga potensi perubahan sirkulasi samudra serta meningkatnya kepentingan geopolitik kawasan Arktik. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa perubahan lingkungan di Greenland kini memiliki implikasi strategis, ekonomi, dan teritorial yang semakin besar di tingkat global.
Penelitian ini juga menekankan pentingnya memahami mekanisme yang memperkuat pencairan ekstrem. Dengan pemahaman yang lebih baik, para pembuat kebijakan dapat merancang strategi mitigasi dan adaptasi yang lebih tepat dalam menghadapi risiko perubahan iklim di masa depan. Studi ini merupakan bagian dari proyek GRELARCTIC dan didukung oleh program ICREA Academia.
Temuan terbaru menunjukkan bahwa pencairan es Greenland tidak hanya meningkat dalam skala, tetapi juga dalam intensitas dan frekuensi, dengan peran utama berasal dari kenaikan suhu global yang memperkuat proses termodinamika. Dampak yang dihasilkan meluas dari perubahan lingkungan hingga konsekuensi geopolitik, menjadikan pemahaman terhadap fenomena ini sebagai langkah penting dalam menghadapi tantangan iklim global.
Diolah dari artikel:
“Greenland ice melt has surged sixfold and scientists are alarmed” oleh University of Barcelona. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/05/260504023852.htm